Bismillah Cinta

Bismillah Cinta
Syarat dari Ayah


__ADS_3

Syafeera duduk di kursi belajar nya, nampak berjajar rapi beberapa penghargaan atas prestasi di rak buku. Tersenyum simpul. Terpajang pula foto kebersamaan nya bersama keluarga, bahkan teman sekolah,. hingga team voli nya.


Saat izin akan dia dapatkan, maka semua ini akan dia tinggalkan, tapi akankah izin itu dia dapatkan???


Tiba-tiba mata nya memandang lekat pada foto 3orang, dimana Dia, Qanita dan Yusuf Foto bersamaan saat berlibur di salah suatu daerah.


Terbayang kembali kenangan bersama Yusuf, tak di sangka seseorang yang dia harapkan ternyata mencintai sang kakak.. Bahkan hari pernikahan pun sudah di tentukan.


Di masukan foto itu ke dalam laci dengan posisi tertutup, seakan menandakan dia tak ingin mengingat lagi perasaannya, bagaimanapun dia adalah calon suami sang kakak. Di genggam nya erat map coklat yang dia dapat tadi siang.


"Aku harus bisa dapatkan izin..." ujar nya


Syafeera menadahkan tangan nya "Ya Allah Sya sadar Sya belum bisa jadi anak yang baik, anak yang Sholeha, bahkan Sya suka buat Ayah dan Bunda marah... tapi Sya mohon, Sya pengen kuliah di Almamater Coklat.. Sya janji sya bakal nurut sama kata Ayah..." doa nya


tok..tok..tok


Tiba-tiba pintu kamar nya di ketuk.


"Sya....di tunggu Ayah dan Bunda sholat berjamaah" panggil Qanita


Ternyata waktu sudah menunjukkan waktu Magrib, saat dirumah soal sholat memang keluarga selalu menjadi alarm untuk nya. berbeda saat di luar, jika mood nya datang,maka dia akan sholat,jika tidak, jangan harap.


"ia sebentar"


Saat sampai di sebuah kamar yang memang di sediakan sebagai tempat sholat, Syafeera segera memakai Mukena nya, mengambil saf di sebelah Qianita, Ayah sebagai Imam. Menunaikan ibadah Sholat magrib berjamaah, Biasanya Ayah selau ke masjid, ternyata sedang Hujan, jadi Ayah sholat di rumah.


Selesai menunaikan ibadah shalat magrib, Mereka menuju meja makan, Tak besar, cukup sederhana tapi nyaman.


Makan malam terasa hening, saling enggan untuk membuka suara. Setelah makanan yang ada di piring habis, Syafeera langsung menuju ruang tamu, menyalakan televisi. Sinetron anak-anak muda jadi pilihan,


"Sinetron Indonesia mah gini. kalau gak balapan, berantem, rebutan cewek... gak mutu" omel nya


"kalau tahu gak mutu kenapa di tonton??" tanya Qianita yang sekarang mengambil posisi duduk di samping nya


"Mello semua sinetron Indonesia mah"


Qianita hanya geleng-geleng dengan tingkah sang adik, bahkan semua Chanel TV sudah bolak-balik dia ganti.


Ayah dan Bunda juga sudah bergabung.


"Gimana UAN nya??" tanya Ayah


"Lancar..." jawab nya sambil mata tetap Fokus ke TV

__ADS_1


"Syafeera mah gak perlu diragukan Yah..." Timpa Qianita


"Soal hasil beasiswa sudak keluar??" tanya Ayah lagi


Kini Syafeera mengalihkan pandangannya ke arah ayah..."Yakin ayah mau tahu hasil nya??" tanya nya dengan menaikan alis nya


"kok gitu sih ngomong sama ayah nya Sya.." Tegus Bunda


"Kan keputusan Ayah dan Bunda udah bulat, jadi klo di tanya hasil, kayak nya gak penting"


"Sya... gak boleh gitu, Ayah dan Bunda kan pengen tahu, nah nanti kita cari solusinya" ujar Qanita


"Solusi apa teh...?? teteh mah engges nyahok, ayah jeng Bunda gak izinkan" ujar nya dengan sedikit berbahasa Sunda (solusi apa kak...?? kakak kan udah tahu ayah dan bunda gak mengizinkan"


"Ayah mau tahu dulu hasil nya, nanti baru ayak kasih keputusan" ujar Ayah lagi


Syafeera membuang nafas nya kasar, lalu beranjak menuju kamar, mengambil map coklat yang dia dapatkan, lalu bergegas menuju ruang tamu


"ini..." ujar Syafeera sambil menyodorkan map coklat ke sang Ayah


Ayah tersenyum menerima nya, lalu perlahan Ayah buka.


"Sya ini beneran??" tanya Ayah tidak percaya dengan senyum yang cukup mengembang


"Sini duduk samping Ayah..." sambil menepuk sofa di sebelah ayah


"Udah sana..." ujar Qianita sambil mendorong bokong Syafeera


Syafeera pun mengambil posisi duduk pas di samping sang Ayah, Ayah mencium kening Syafeera, merangkul nya sejenak


"Ayah bangga.. sangat bangga, kami semua bangga dengan semua pencapaian mu nak"


Syafeera terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa, karna dia pun belum mendapat jawaban atas keinginan nya.


"Sudah siap untuk mengejar cita-cita?? Sudah siap untuk Jauh dari kami Semua??"


"Maksud Ayah...??"


"Ayah bertanya bukan ingin di tanya...??


"Sudah siap belum untuk jauh dari kami semua??"


"Jika Ayah izinkan Sya bakal siap, Dari dulu Dua universitas itu incaran Sya yah... dan sekarang sudah di depan mata.."

__ADS_1


Kini ayah menatap Foto keluarga yang terpajang di dinding tepat di hadapan Ayah.


"Jujur ayah berat Sya...kamu anak perempuan, tapi apa yang kamu capai ini memang hasil kerja keras Mu..."


"Ayah akan izinkan, tapi ada syaratnya..."


Syafeera melongo, tak percaya dan tiba-tiba langsung memeluk sang Ayah dari samping


"Beneran boleh... Syarat apa Yah...??" tanya Syafeera dengan antusias, dengan senyum yang mengembang


"Fokus dengan cita-cita Mu, Jaga Sholat Mu, dan Jangan Sekalipun Sya lepas Jilbab Sya didepan yang bukan mahram"


Syafeera terdiam, mendengar pernyataan sang Ayah


"Sya belum bisa yah seperti teteh.." ujar nya tertunduk


"Bunda paham.. kami gak memaksa kamu harus berpakaian syar'i, setidak nya belajar Istiqomah dalam belajar menutup aurat.." Bunda bersuara


"Sebenarnya itu harus di paksa Sya, karna menutup aurat itu wajib" Ujar Qianita "Tapi jika memang kamu ingin mencoba secara bertahap, kami juga akan dukung" tambah Qianita


"Dan Jaga sholat Mu..." ujar Ayah sambil merangkul putri nya itu


Syafeera terdiam, dia sadar urusan jilbab kalau bukan bunda yang selalu memaksa, mungkin sampai saat ini dia akan keluar dengan tak menggunakan jilbab, tapi dengan paksaan Bunda, Syafeera mulai terbiasa keluar dengan berjilbab, kecuali di dalam rumah.


Tentang Sholat, dia masih melaksanakan sesuka kehendak hati dia jika di luar rumah. berbeda saat dirumah, ada Bunda yang siap menggedor pintu saat Syafeera tak bergegas sholat.


"Kok diam...??" Tanya Ayah " Sya.. itu semua bukan semata-mata untuk kami, tapi untuk kamu juga... kamu anak perempuan nak"


"Ayah pernah bilang, menjaga anak perempuan itu bagai menjaga telur di ujung tanduk,. salah bergerak, salah melangkah, hancur semua nya"


"Kamu tahu bagaimana takut nya ayah...?? Ayah sangat menyayangi kalian semua, 3 bidadari Ayah" Ujar Ayah dengan sangat lembut, dan itu membuat Syafeera memeluk Sang Ayah sangat erat, dia sadar apa yang Ayah dan Bunda lakukan adalah untuk nya, bahkan kalau bukan karna Ayah dan Bunda, pencapaian ini semua belum tentu akan dia dapat.


Bahkan bisa jadi saat ini dia disibukan dengan cinta monyet ala anak putih abu-abu.


*


*


*


Terimakasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya


Like, Komen, vote dan gift nya❤️

__ADS_1


__ADS_2