
di Apartemen Ricko sedang persiap-siap pakaiannya untuk besok pergi ke bali, karna ia mendengar kabar bahwa sella berada di bali
karna selama ini ia menyuruh orang suruhannya mencari keberadaan sella dimana-mana namun hasilnya nihil
tapi hari ini ia mendengar kabar sella dari anak buahnya
tiba-tiba ricko di telpon orang suruhannya bawah sella berada di bali membuka binis kecil seperti mini bar
makanya ricko meminta izin cuti di satrya,
"huuu kenapa selama ini gue nggak bisa dapat kabar tentang dia, ternyata dia di bali" gumam ricko
ricko pun memesan tiket untuk besok, karna ia berangkat pagi, jadinya ia mempersiapkan pakaiannya dari sekarang
****
di hotel satrya baru ingat tetang ricko yg tadi menelponnya dan bilang ingin cuti seminggu mulai besok, satrya pun menelpon kevin,
"kev lu dimana" tanya satrya saat panggilan tersambung📞
"gue di apartemen, ada apa sat?" tanya kevin📞
"tuh si ricko katanya mau cuti, dia kenapa minta cuti tiba-tiba?" tanya satrya📞
"lah gue juga baru tau dari lu, lu nggak tanya sama dia gitu?" ucap kevin bertanya📞
"lu telpon dia lu tanya, kenapa minta cuti tiba-tiba" ujar satrya menyuruh📞
"heum, entar gue telpon dia, sekarang gue mau mandi dulu" ujar kevin📞, lalu panggilan pun berakhir
wulan baru selesai mandi ia pun keluar dengan handuk yg menutupi tubuhnya karna ia lupa bawah baju gantinya
wulan berlari cepat-cepat ke arah lemari, karna ia melihat satrya sedang berbicara lewat telpon
"kamu kenapa lari-lari seperti orang di kejar" tanya satrya membuat wulan kaget
"anu..itu..aaahr"ucapan wulan hanya itu, setelah mengambil pakaian gantinya wulan kembali berlari masuk kedalam kamar mandi
"aiiss kenapa sih, dia itu bikin orang kaget saja" gumam wulan lalu ia berganti pakaiannya
"perasaan tadi lagi telponan deh aiiis" gumam wulan yg masih di dalam kamar mandi
setelah ganti wulan pun keluar, wulan melihat satrya masih fokus dengan ponselnya, lalu wulan berjalan kearah satrya & berkata
__ADS_1
"kenapa belum makan kak?" tanya wulan karna ia melihat piring masih tertanta rapi
"tunggu kamu, kamu mandi nya lama banget, gosok-gosok apa sih?" ucap satrya bertanya dengan kesal
"loh tadi kan wulan sudah bilang, makan duluan, kenapa harus tunggu wulan" ujar wulan
"takut kamu racunin saya, makanya saya tunggu kamu, biar kamu jadi saksinya" ucap satrya asal
"enak saja, kalo wulan yg racunin kenapa wulan yg harus jadi saksi, kan aneh" ucap wulan
"siapa tau nanti saya mati kamu kabur lagi" ujar satrya asal
"gila banget gue mau racunin suami gue sendiri" gumam wulan dalam hati
"tapi nggak apa-apalah kalo kakak mati kan wulan bisa jadi janda kaya raya" ujar wulan ingin membuat satrya jengkel
"kamu nggak akan dapat harta saya kalo kamu nggak berikan saya anak" ucap satrya
"maksudnya?" tanya wulan bingung
"bagaimana kamu bisa dapat harta dari saya, kamu saja tidak memberikan saya anak, kecuali saya punya anak dari kamu baru kamu bisa jadi janda kaya setelah saya mati" ujar satrya membuat wulan kaget jadi salting
wulan malu satrya berbicara tentang anak darinya, ia benar-benar tak percaya satrya akan bicara seperti itu padanya
"biar wulan saja" ucap wulan ia pun yg mengambil nasi untuk satrya
wulan & satrya pun makan dengan tenang, setelah selesai makan wulan membereskan piringnya, ia ingin membawah piring kotor itu kedapur hotel, namun satrya lansung menegurnya
"mau bawah kemana?" tanya satrya saat wulan ingin membawah piring kotor keluar
"bawah kedapur" jawab wulan
"simpan saja di situ, ayok tidur sekarang, ini sudah mau jam 9" ujar satrya
"tapi piringnya kotor, biar wulan cuci saja lansung" ucap wulan
"simpan wulan..simpan" ucap satrya, wulan pun kembali menyimpan piring kotor itu
satrya naik keatas ranjang besar itu, namun wulan hanya duduk di sofa, ia mengingat soal satrya yg menyinggungnya tentang anak
"gue harus tidur di mana?" gumam wulan dalam hati, ia malu harus naik ke tempat tidur itu
"kenapa masih duduk, apa kamu tidak mau tidur?" tanya satrya yg sedang mengotak atik laptopnya
__ADS_1
"wulan belum ngantuk kak" jawab wulan
"yah sudah duduk di sini" ujar satrya
wulan hanya duduk saja di sofa, ia sama sekali tak berdiri dari duduknya
sudah setengah jam wulan duduk dengan matanya yg sudah mengantuk, kepalahnya miring-miring karena tertidur
satrya turun dari ranjang berjalan kearah wulan yg sedang menahan ngantuknya mati-matian
"kenapa, apa nggak ada tempat tidur untuk tidur haah" ujar satrya marah, wulan lansung sadar, ia hanya melirik satrya yg sedang berdiri di depannya
satrya lansung mengangkat tubuh wulan & membawahnya ke ranjang lalu menurunkannya dengan kasar
"auw pelan-pelan napa sih" ucap wulan cemberut
"keras kepalah banget kamu ini" ujar satrya
wulan lansung tidur, dan satrya kembali melanjutkan pekerjaanya
wulan tidur membatasi dengan bantal peluk, takut satrya apa-apain dia, padahal sudah halal, namun ia belum siap melakukan hubungan suami istri
"apa-apa'an sih, kenapa harus ada bantal ini di tengah, padahal saya ini suami kamu, bukan orang lain" ujar satrya kesal + marah
wulan hanya diam, ia sengaja tidur, agar satrya tak meminta aneh-aneh padanya
satrya kembali memanggilnya "wulan..wulan saya tau kamu belum tidur" satrya memanggil
"oke baiklah kalo gitu saya akan melakukan hak saya" ucap satrya sengaja agar wulan bangun
"apa'an sih kak, wulan belum siap" ucap wulan cepat dengan wajah cemas
"trus kapan baru kamu siap" tanya satrya serius
"wulan nggak tau kak, tapi wulan akan berusaha siap kok kedepannya" ucap wulan sedih
"yah sudah, tidur nggak usah pikir yg aneh-aneh, saya juga masih belum memikirkan hal itu" ujar satrya sengaja menyembunyikan kegelisaannya terhadap tubuh wulan
"kak jangan marah yah" ucap wulan satrya hanya mengangguk & ikut tidur,
wulan melihat satrya yg ikut tidur pun, ia lansung memeluk lengan satrya dengan manja, walau pun ia takut di Apa-apain oleh suami tampannya, tapi ia juga ingin di manja oleh suami tampan nya
satrya hanya melirik wulan yg sudah tidur dengan memeluk lengannya, satrya pun mencium pucuk kepalah wulan, lalu ikut masuk ke alam mimpinya
__ADS_1
"bersambung"