CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
SEBELUM PERGI


__ADS_3

" Yank, sebentar lagi temen-temenku jemput, aku tinggal dulu ya." Sambil mematut diri di depan cermin.


" Sampe sore nggak?"


" Ya nggak tau dong, kenapa?"


" Hemmmm bete pasti aku sendirian di sini." Brian berdiri dari duduknya lalu mendekati Arin.


" Cuma hari ini aja kok, 2 hari ke depan kita masih bisa bareng kok."


" Emang cuma hari ini aja kamu pergi sama teman-temanmu?"


" Iya....Aku bilang besok udah pulang."


" Emang kalau nggak ketemu mereka kenapa sih? kan udah ada aku yang nemenin kamu?"


" Kalau aku nggak ketemu mereka, nanti suamiku curiga, semisal suamiku minta bukti foto-fotoku sama mereka, terus nggak ada gimana?"


" Hemmmm...gitu ya? Ya udah deh nanti aku jalan-jalan sendiri aja."


" Nah gitu dong, tapi inget ya!! jangan tebar pesona ok!"


" Aku sih nggak, tapi kalau ada yang tebar pesona terus aku tergoda, berarti bukan salahku dong?"


" Ehhhhh...awas ya macem-macem!! Beneran nih mau nambah lagi??"


" Hahaha...nggaklah sayang. Mikirin hubungan kita berdua aja rasanya kepalaku mau copot, kok mau cari masalah lagi!"


" Nahhhh....sadar ya!! Jadi jangan aneh-aneh, ok!!"


" Iya sayaaanggg....bawelnya!!!" Sambil mengacak-acak kepala Arin.


" Ihhhhh...!!! jilbabku rusak nih!!"


" Hahaha...sebel aku!! penampilan kamu cantik banget, tar temen cowokmu pada terpesona lho!!"


" Hahaha...mereka udah kenal aku sejak lama yank, jadi udah biasa lihat wajahku."


" Ada ceweknya nggak?"


" Ya ada dong, ceweknya 4, cowoknya 3."


" Aku pikir cowok semua."


" Hiiihhh...negatif thinking aja!!" Sembari mencubit pinggang Brian, yang dicubit hanya meringis saja.


" Ehhh...kok istrimu nggak telfon sama sekali?"


" Udah kemarin malem, waktu aku di kamar."


" Dia nggak nanya apa-apa?"


" Ya nanya."

__ADS_1


" Nggak curiga?"


" Ya aku buat alasan yang tepat biar dia nggak curiga."


" Kita pasti dosa banget ya yank udah bohongin mereka berdua."


" Kalau ngomongin dosa, udah pasti yank."


" Kadang itu yang bikin aku oleng, nggak terima banget kok aku bisa sejauh ini sama kamu."


" Tapi kalau harus berpisah sekarang, rasanya aku belum mampu yank."


" Udah deh jangan dilanjutin, nanti ujung-ujungnya bete lagi." Kata Brian memutus kimat Arin.


" Kriiingggg!!!" Suara handphone Arin berdering keras. Buru-buru Arin mengangkatnya.


" Ohhhhh...udah di depan? ya udah tunggu bentar ya aku kesitu."


" Udah pada dateng ya?"


" Iya...aku pergi dulu ya!" Sembari meraih tas yang ada di atas ranjang.


" Yahhhh...bete nih!!"


" Ihhhhh...bibirnya panjang amat kalo manyun gitu!!"


" Sabar ya sayaang...tunggu aja pasti aku balik ke sini kok."


" Cium dulu dong!!" Sambil menyorongkan pipinya.


" Ayo dong cium dong!!"


" Apaan sih, nggak mau."


" Kalau nggak, tar nggak tak bolehin pergi."


" Jangan gitu dong!!"


" Ya udah kalau gitu cium dulu." Sambil tetap menyorongkan pipinya. Arin bingung dengan permintaan Brian.


" Beneran nih??"


" Ya bener, masak bohong!!"


" Tutuo mata dulu."


" Hahaha...kayak abg aja pake tutup mata."


" Ya udah kalau nggak mau." Ganti Arinyang merajuk.


" Oke...oke..aku tutup mata nih ya." Sambil memejamkan mata.


Arin kemudian mendekati Brian, sambil malu-malu dia mencium pipi kekasihnya itu.

__ADS_1


" Udah."


" Ihhh kok nggak kerasa??"


" Ya kalau mau kerasa, nyiumnya sambil dijitak, baru kerasa. Udah ahhh, aku pergi dulu!!:" Sambil membalikkan badan. Namun tiba-tiba Brian menarik tangan Arin dan memeluknya. Brian menatap kedua mata Arin, Arin cuma bengong saja.


" Sayang....!! aku sayang banget sama kamu, aku bener-bener mencintai kamu!!" Arin tidak tau harus menjawab apa, dan dia hanya bisa diam menatap wajah Brian yang jaraknya begitu dekat itu.


Entah bagaimana awalnya, sehingga tiba-tiba saja deru nafas Brian begitu keras di telinganya, dan untuk beberapa saat Arin seperti terhipnotis, saat keduanya berciuman dengan begitu liarnya.


" Ehhhmmm.....ehhmmm...!!" Arin mencoba melepaskan diri. Kesadarannyapun kembali.


" Yank lepasin!!"


Bukannya melepaskan, Brian justru semakin mempererat pelukkannya.


" Pleas yank...ini bisa fatal!! Ayo lepasin aku!!" Arin terus meronta. Akhirnya Brian melepaskannya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


" Yank...maaf ya!!" Kata Arin kemudian setelah berhasil lepas dari pelukan Brian.


" Aku yang minta maaf sayang, aku terbawa emosi." Jawab Brian sambil duduk dan mencoba mengatur nafasnya.


" Ya udah nggak usah dibahas, kita sama-sama khilaf."


" Aku pergi dulu ya. Nanti temenku kelamaan nunggu di luar." Sambil membenahi jilbab dan pakaiannya.


" Iya sayang, hati-hati ya." Arin mengangguk sambil tersenyum, lalu berjalan keluar.


" Yank!!" Panggil Brian lagi. Arin menengok.


" Iya." Sambil menengok.


" Kamu nggak marah kan?" Wajah Brian terlihat memelas.


" Nggak sayang, ysng penting kita harus saling mengingatkan." Sambil tersenyum.


" Maaf lagi ya?"


Arin mengangguk sambil tersenyum.


" Aku pergi ya."


" Iya."


" Yank!!"


" Ihhh apa lagi?" Sembari menghentikan langkahnya.


" I love you!" Sambil mengedipkan mata sebelah.


Arin terbahak.


" I love you too sayang." Jawab Arin lalu segera hilang dibalik pintu.

__ADS_1


Sepeninggal Arin, Brian lalu menjatuhkan tubuhnya, dengan kaki separuh menjuntai ke lantai.


" Ya Allah hampir saja aku khilaf!!" Bisiknya dalam hati sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


__ADS_2