
" Mama pulang dulu ya Rin. Ingat makan yang bervitamin, biar cepet isi." Sambil mengusap perut Arin yang rata.
" Oh ehm iya ma." Perlahan Arin salah tingkah, terlebih saat melihat sorot tajam manik mata milik suaminya, seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak usah menjawab panjang lebar kalimat mertuanya.
" Ya udah kapan-kapan mama menginap di sini lagi ya."
" Iya mah, Arin tunggu."
Kemudian Yuda menancap gasnya, dan segera melajukan kendaraan menuju rumah orang tuanya. Arin menatap kepergian sang mertua hingga kendaraan Yuda hilang dari pandangannya.
Sepeninggal mertuanya, rumah kembali terasa sepi. Sebenarnya Arin senang sekali ditemani oleh mertuanya. Dengan begitu dia ada teman ngobrol yang cocok. Terlebih mertua Arin bukan tipe mertua yang banyak aturan dan sering protes sana-sini pada menantunya, sehingga Arin bisa merasa sangatdekat dan akrab. Selain itu rumah jadi sedikit ramai dengan canda tawa Yuda bersama mamanya Jika hanya berdua, mereka jarang sekali mengobrol. Arin bukannya malas mengajak ngobrol suaminya, karena jika terlalu lama mengobrol denga Yuda, ujung-ujungnya pasti jadi perdebatan dan itu membuat Arin lebih banyak memilih diam, dan membiarkan Yuda terus asyik dengan benda segi empat yang tidak terlepas dari tangannya.
Saat di perjalanan Yuda terlihat asyik bercengkerama dengan ibunya.
" Yud!"
" Iya ma?"
" Kamu tuh beruntung bisa dapet istri kayak Arin, udah sabar, nurut sama suami, dan yang terpenting dia juga sayang sama mama."
" Iya ma."
" Nggak sedikit lho menantu yang cuma sayang sama anaknya aja, dan mengabaikan mertuanya. Lihat Arin, dia justru sangat dekat sama mama, dan nggak pernah berusaha menjauhkan kamu dengan kami."
" Lahhh memang kenapa harus menjauhkan aku dengan mama?"
" Biasanya hal itu dipicu karena kecemburuan mereka pada perhatian suami yang diberikan pada mamanya, bahkan tidak sedikit yang marah ketika tau suaminya memberikan uang pada mamanya, akhirnya menimbulkan pertengkaran, dan ujung-ujungnya salah satunya mengalah karena lebih memikirkan masa depan rumah tangganya. Orang tuanyapun begitu, melihat anaknya sering bertengkar gara-gara mereka, akhirnya mereka mengalah dan memilih membiarkan sang anak untuk konsentrasi saja mengurusi keluarganya dibanding dirinya. Akhirnya apa? secara tidak langsung jauhlah hubungan seorang anak dengan orang tuanya gara-gara menantu."
" Tapi kan tergantung suami juga bisa mendidik istrinya atau tidak ma?"
" Iya benar, tapi ada yang bisa dididik dan ada dan tidak, akhirnya ya itu tadi demi mempertahankan rumah tangga jauhlah mereka dari orang tua."
" Sedangkan Arin, dari awal mama kenal hingga sekarang, nggak berubah sama sekali, bahkan semakin dekat dengan mama."
" Iya mah, Yuda tau kalian dekat. Ada apa-apa mama malah belain Arin bukan Yuda. Yang anak kandung mama Arin apa Yuda sih?" Sok kesal.
" Hahaha...kita coba tes DNA bagaimana?
" Hahaha...!!" Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
" Kamu nggak ada rencana gitu ngajak dia jalan-jalan?"
" Maksud mama?"
" Bulan madu kedua Yud."
" Kamu itu terlalu sibuk ngurusin kerjaan, itu bisa mempengaruhi kesuburan juga. Berliburlah dengan istrimu, biar pikiran kalian berdua relax. Lupain sejenak urusan kerjaan. Kan kamu udah punya orang-orang yang bisa menghandle usahamu."
" Bukannya Yuda nggak mau mah, tapi memang waktunya belum pas."
" Lalu kapan pasnya? Kamu beneran nggak pengen kasih adik Flo?"
" Kenapa sih kayaknya mama ngotot banget Yuda punya anak lagi?"
" Ya anak kalian kan baru satu, dan mumpung kalian masih muda buruan tambah momongan, nanti kalau sudah tua, waktu anak-anakmu butuh biaya, kamu udah nggak kuat kerja lagi, itu harus kamu pikirkan Yud."
" Anak itu rejeki ma. Kalau Allah belum kasih, berarti mungkin ada rahasia yang lebih besar dibalik itu semua. Kita jalani aja mah."
" Jalani gimana? semua itu dijalani tapi juga diiringi dengan usaha. Kalau nggak usaha juga percuma. Diam aja nggak berbuat apa-apa. Emang Allah itu ngasih rejeki langsung jatuh dari langit? harus ada usahanya juga Yud."
" Usaha mah udah sering mah, tapi belum jadi-jadi hahaha."
" Sakit mah!!" Sambil mengusap-usap kepalanya yang baru dijitak mamanya.
" Syukur!! becanda aja terus. Diajak ngomong serius juga."
" Ya kan emang serius ma. Aku udah sering usaha, tapi belum jadi."
" Emang Arin KB ya?"
" Hemmmmm." Bingung antara menjawab iya dan tidak. Karena yang meminta Arin KB adalah Yuda sendiri.
" Heiii...ditanyain kok."
" Duuhhhh...mahhh...tolong garukin punggung Yuda, gatel nih." Sambil menggosok-gosok punggungnya di kursi jok.
" Ihhhh nihhh anak. Makanya kalau mandi pakai sabun mandi jangan pakai abu gosok."
" Idihhh...mama pikir punggung Yuda pantat paci digosok pakai abu."
__ADS_1
" Hihihi.. siapa tau, makanya gatel."
Yuda sengaja mengalihkan pembicaraan mamanya, dan berpura-pura gatal pada punggungnya yang sebenarnya baik-baik saja. Yuda rasanya memang sudah tidak ingin lagi memiliki seorang anak, terlebih bayi. Sangat merepotkan, terutama Arin yang waktunya lebih banyak tersita oleh bayi mungilnya, sehingga dia sering diabaikan.
" Papa emang udah pulang mah?"
" Belum sih.."
" Nahhh kok minta buru-buru banget pulang, kan baru nanti datangnya?"
" Mama kan harus memasak dulu Yuda, menyiapkan makanan kalau papamu datang nanti. Harus ke pasar dulu beli sayuran, harus menyiapkan segala ini itu. Kamu nggak tau sih, pekerjaan perempuan itu kalau dikerjain semua, sampai sorepun nggak akan selesai."
" Oh iya ma?"
" Nyiapin segala hal untuk suaminya dan anak-anaknya. Membuat mereka semua betah dan merasa nyaman berada di rumah. Memanjakan lidah mereka dengan masakan masing-masing penghuni rumah, bahkan kadang-kadang dia sering mengabaikan menu kegemarannya karena sudah terlalu lelah untuk mengurusi lidah anggota keluarganya satu-persatu."
" Makanya kamu itu nggak usah rewel dan nggak usah ribut hanya karena makanan. Karena istrimu udah lelah seharian."
" Hemmmm...tapi itu pengecualian buat Arin. Dia itu cuma mengurusi makanku, dan pekerjaan lain sudah diselesaikan oleh ART, kalau hanya untuk mengurusi makanku saja tidak pas, percuma aku membayar asisten rumah tangga, karena tidak ada bedanya pelayanan istriku saat ada dan tidak ada asisten." Gerutu Yuda dalam hati.
"Hey....denger mamah ngomong ga sih?"
" Awww...iya mah denger..denger...duhhh dari aku seumur jagung sampai aku seumur emaknya jagung, mamah tuh ya kalau nyubit masih aja pedes kayak cabe-cabean."
" Biarin!! kamu kalau diajak ngomong mamah selalu nggak mau dengerin. Hemmm...jangan-jangan kamu udah besar kepala, mentang-mentang udah bisa bayar ART buat bantu Arin ya."
" Duuuhhhh...kenapa mama selalu tau isi hatiku sih?" Katanya lagi dalam hati.
" Diem lagi!!"
" Ehhh iya eh nggak mah. Tapi emang bener kan mah."
" Yud...kamu pikir mama nggak tau kemarin kamu sempet mau marah sama Arin gara-gara Arin nggak masak. Orang tua itu peka Yud perasaannya. Kamu nggak akan bisa bohongi mama."
" Duuuhhhh....jangan-jangan mama tau aku lagi marahan sama Arin." Bathinnya.
" Denger ya nak. Rumah tangga itu banyak banget batu sandungannya, ada yang kecil bahkan ada yang sangat besar Nah jika batu sandungan itu kecil, terlalu sayang untuk dipermasalahkan jika keharmonisan rumah tangga yang dipertaruhkan. Apalagi hanya masalah makanan, lalu kamu marah, kemudian istrimu sakit hati. Itu semua bisa mengurangi kenyamanan dalam rumah tangga nak. Mama dan papa sudah menikah puluhan tahun. Kami berdua bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan. Kami berdua bisa saling menghargai. Ingat nak, di luar sana banyak sekali godaan, jaga rumah tanggamu baik-baik. Jangan sebentar-sebentar bertengkar hanya masalah sepele, masalah ego, masalah yang terlalu receh untuk diurusi."
" Iya mah."
__ADS_1
Nasehat mama Yuda banyak benarnya. Terkadang kita lupa dulu saat pacaran, begitu mudahnya saling memaafkan kesalahan pasangan sehingga hubungan bisa kembali romantis. Namun kenapa semua itu hilang disaat sudah berumah tangga, berganti dengan ego dan selalu ingin menang sendiri-sendiri karena merasa paling benar.