
" Astagfirullah hal adzim...!!!" Arin segera terbangun dari tidur sembari melihat jam di layar hpnya.
" Sayang bangun!! Udah jam 5 lebih!!...ayo subuhan dulu!!" Sembari menggoyang-goyangkan tubuh Brian. Brian masih terkantuk-kantuk sambil berusaha membuka matanya.
Dengan tergopoh-gopoh Arin langsung mengambil air wudhu, lalu sholat subuh, disusul Brian yang berjalan sempoyongan karena kesadarannya belum pulih benar.
" Hehhh...untung tadi aku kebangun."
" Memang semalem alarmnya nggak dihidupin?" Tanya Brian sembari melipat sajadah kemudian mendekati Arin yang sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
" Hihihi kelupaan." Jawab Arin.
" Ya itu, penyakit lupa nggak ada obatnya."
" Ya kalau ada obatnya, pasti pada beli semua yank. Orang sekarang kan banyak lupanya daripada ingetnya, terutama lupa diri."
" Kayak kita ya hahaha." Brian terbahak.
" Ihhh lupa diri kok bangga?"
" Bangga sih nggak, sebenernya nggak pengen kayak gini. Seandainya bisa, aku mau ini nggak terjadi, tapi buat ngelupain kamupun aku nggak bisa yank."
" Yakin nih mau pulang beneran?" Sambung Brian.
" Yakinlah, emang mau di sini terus?"
" Siapa tau berubah pikiran."
" Kalau aku single mungkin aku berubah pikiran."
" Kalau itu mah nggak perlu nanya. Kalau kita sama-sama single, sekarang kita nggak akan berada di hotel ini."
" Iya juga ya, terus kita ada di mana?"
" Ada di kamar pengantin."
" Hahaha...emang aku mau nikah sama kamu?"
" Kalau nggak mau aku paksa dong."
" Idiihhh...kayak jaman Siti Nurbaya aja main paksa."
Arin menghentikkan kegiatannya sejenak, lalu menatap Brian.
" Pada akhirnyapun kita akan tetap kembali ke rumah masing-masing, dan melanjutkan hidup kita seperti sebelumnya. Hidup di dunia nyata yank, iya kan?"
" Walaupun rasanya sakit?"
" Udah resiko. Kita berdua yang memilih ini, dan kita yang memutuskan untuk melanjutkan semuanya."
" Yank." Panggil Brian.
" Hemmm?"
" Bisa nggak ditunda sehari aja kepulangan kamu?"
" Nggak bisalah. Aku udah bilang sama suamiku pulang hari ini, kalau tiba-tiba aku berubah pikiran, dia bisa curiga dong."
" Sekarang, besok, ataupun lusa, suasananya akan tetap sama seperti ini. Kapanpun aku pulang, pasti kita akan merasa saling kehilangan, iya kan?"
" Iya sih, tapi paling nggak kita masih punya waktu bersama lagi walaupun sebentar." Jawab Brian lirih.
" Yank? pleas deh jangan kayak gini, tetap semangat ya."
" Kira-kira kita bisa ketemu lagi nggak?"
" Aku nggak bisa janji, tapi aku cuma bisa berharap ini bukan pertemuan kita yang terakhir."
Arin lalu melanjutkan aktivitasnya, walaupun hatinya sangat sakit dan berat, namun waktu tetap harus memisahkan mereka berdua. Brian hanya terdiam sambil menunggui Arin yang sibuk memberesi barang bawaannya.
" Mandi ah."
" Mandi aja pake laporan."
__ADS_1
" Siapa tau pengen ikut."
" Nihhh..!!" Kata Arin sambil mengacungkan kepan tangannya.
" Hahahaha..!!"
" Hemmmm...selesai...!!" Kata Arin sembari berdiri dan melakukan peregangan.
" Capek?" Kata Brian yang terlihat baru keluar dari toilet dan rambutnya masih basah
" Ihhh keramas ya? kan kita nggak ngapa-ngapain? kenapa keramas?"
" Laahhh...emang salah mandi keramas?"
" Salah sih nggak, cuma...!"
" Cuma apa?" Sembari menggelitik pinggang Arin.
" Ehhhh nggak hahaha!"
" Dari kemarin juga kan aku kalau mandi selalu keramas."
" Iya-iya...aku kan cuma godain kamu, kok grogi sih?"
" Ini apaan sih? malah bahas mandi keramas." Kata Brian sembari membenahi pakaiannya.
" Hehehe..daripada bahas masa depan, bikin pusing."
" Udah ah ganti aku yang mandi." Kata Arin sembari berjalan masuk ke kamar mandi.
" Nggak pengen ngajak aku?"
" Yeeee...enak aja!!" Brian cuma terbahak.
Brian duduk sembari menunggui Arin mandi. Dilihatnya semua barang bawaan Arin telah rapi. Kebersamaan mereka beberapa hari ini terasa sebentar dan bagaikan mimpi. Seandainya saja mereka bisa bertemu lebih awal, mungkin situasinya tidak seperti ini. Brian menarik nafas panjang.
" Bawaanmu nggak ada yang kelupaan kan?" Tanya Arin sembari mematut diri di cermin.
" Inshaallah nggak."
" Kok yang ditanya yang itu? nggak pengen nanya yang lain?"
" Ya siapa tau kamu punya pikiran, bajunya nggak akan dikasih ke istrimu."
" Ihhhh...piktor ya."
" Mungkin kamu bingung jelasin ke dia baju itu darimana, terus kamu kasihin orang di pinggir jalan deh."
" Nggaklah, ini kan kamu yang pilih buat dia, nggak mungkin aku nggak kasih ke Mirna."
" Mirna siapa?"
" Ya istriku."
" Ohhh namanya Mirna?"
" Lho emang kamu belum tau?"
" Lahhh emang aku harus tau segala hal tentang istrimu?" Jawab Arin jutek.
" Buktinya ukuran baju istriku juga kamu tau?"
" Ya kan cuma mengira-ngira, itu juga lihat dari foto dia!"
" Hemm..jangan-jangan kamu juga selalu ngintipin status dia ya?"
" Ihhhh apaan sih? Masih banyak hal yang lebih penting aku urus daripada kepoin sosmed istrimu!!"
" Kok nadanya tinggi? Cie..cie cemburu lho...!!"
" Nggak!! Siapa juga yang cemburu?"
" Itu hidung ama telinganya keluar asep."
__ADS_1
" Kamu pikir banteng ngamuk?"
" Ya beda tipislah sama banteng lagi ngamuk haha."
" Hiiihhh..nyebelin!!" Sembari melempar tisu yang baru dipakainya untuk mengelap tangan.
" Ihhh jorok..!!"
" Biarin!!"
" Hahaha...aku seneng deh kamu cemburu gitu, berarti kamu bener-bener sayang sama aku."
" Sejauh ini kamu masih raguin perasaanku ke kamu?"
" Ragu sih nggak."
" Terus apa?"
" Ya aku jadi tau banget kalau kamu itu punya perasaan sama ke aku."
" Gila ya. Dengan aku kemari, ketemu kamu, sedangkan aku tau itu resikonya besar, kalau nggak demi hubungan kita, dan demi perasaanku ke kamu, ngapain aku bela-belain yank? kurang kerjaan amat!!"
" Iya sayang...percaya..!! Hemmm gara-gara cemburu, powernya langsung naik berapa watt nih?"
" Iiihhhh...males ah!!"
" Hahaha...kamu lucu deh kalau merajuk gitu."
" Lucu kayak anak-anakan ya?"
" Iya, anak-anakan kadal."
" Waduhhh melet melulu donk hahaha."
" Sarapan yok!" Ajak Brian sambil mengusap perutnya. Arin melirik jam di tangannya. Masih pukul 7, itu berarti mereka masih memiliki waktu sedikit lama.
" Udah laper?"
" Lumayan. Sarapan kan baik buat kesehatan, bikin kita fokus dan konsentrasi."
" Hahaha...sok berdiplomatis segala. Bilang aja perutnya udah keroncongan!!"
" Hihihi...iya nih udah kayak pasukan marching band."
" Ya udah, makan di depan aja ya?"
" Di depan mana?"
" Depan Istana Merdeka!!" Jawab Arin sekenanya, sembari berjalan keluar meninggalkan Brian yang terbahak.
" Hahaha...cewek kalau lagi baper susah dipahami." Sambil mengikuti Arin dari belakang.
" Itu bibirnya panjang amat, sini aku ambilin karet biar dikucir." Goda Brian sambil menggandeng tangan Arin.
" Ihhh apa sih pegang-pegang?"
" Hahaha...masak udah mau pulang pake ngambek?"
" Biarin, salahnya godain melulu."
" Iya deh nggak lagi."
" Minta maaf dulu dong."
" Iya maaf ya sayang, udah bikin kamu cemburu."
" Aku nggak cemburu!!"
" Eh iya nggak cemburu. Terus ngambeknya kenapa?"
" Ihhhh bodo ahh!!" Berjalan cepat-cepat meninggalkan Brian yang terpingkal-pingkal.
" I love you sayang!!" Teriak Brian.
__ADS_1
" Bodoooo!!"