
Setelah selesai mengurus semua administrasi, Arin lalu duduk di ruang tunggu penumpang. Waktu satu minggu kepergiannya membawa seribu kenangan yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidupnya. Tiba-tiba Arin teringat Brian, dia lalu mengambil hpnya. Arin berpikir Brian masih ada di perjalanan, dan dia masih bisa leluasa menghubungi Brian. Arin lalu langsung menelfon Brian. Brian yang saat itu masih berada di parkiran bandara langsung mengangkatnya.
" Yank?"
" Iya?"
" Dimana?"
" Di dalam mobil."
" Kok kayaknya nggak ada suara mesin mobilmu?"
" Emang belum jalan."
" Maksudnya?"
" Aku masih di bandara."
" Ngapain aja?"
" Nungguin kamu, siapa tau berubah pikiran." Kemudian Brian mengalihkan ke mode video. Terlihat wajah Arin yang sedang duduk membelakangi area parkiran pesawat.
" Udah selesai urusan administrasinya?"
" Udah, tinggal nungguin pesawatnya."
" Kalau masih lama sini aja temenin aku, nanti kalau pesawatnya udah dateng, biar ditungguin bentar."
" Hahaha emang pesawatnya punya bapak moyang sendiri, pakai acara nungguin segala."
" Ngapain sih di situ dari tadi? kirain udah langsung pergi."
" Nggak tega ninggalin bandara."
__ADS_1
" Ya kalau nggak tega ajakin pulang sekalian aja."
" Pengen sih, tapi takut nggak kuat ngasih nafkah."
" Hahaha...aneh-aneh aja kamu tuh yank."
" Kok telfon? ada barang yang ketinggalan?"
" Nggak ada sih, cuma mau mastikan aja kalau kamu udah pulang."
" Ohhh kirain hati kamu yang tertinggal di sini." Sambil menunjuk dada.
" Isshhh kumat gombalnya."
" Kenapa? curiga aku belok ke rumah janda ya?"
" Yeee apaan? tetep pinter malingnyalah daripada polisinya, apalagi ngeceknya cuma lewat hp."
" Iya..iya bentar lagi aku pulang, tapi kalau pesawat kamu udah terbang."
" Hiiihhh...nih orang ya. Walaupun udah terbang juga kita kan nggak bisa dadah-dadah."
" Tapi kan aku bisa nitipin rasa rinduku sama awan dia atas sana yank."
" Pretttt...gombal lagi." Jawab Arin sambil ngakak.
" Sejak kapan pinter bikin kata-kata lebay begitu?"
" Sejak jatuh cinta sama kamu. Orang kalau lagi jatuh cinta kan bawaannya puitis melulu."
" Hahaha..kayak abg aja."
" Yank pesawatku udah dateng, udahan dulu ya." Kata Arin saat tau pesawatnya sudah tiba.
__ADS_1
" Terbang beneran?"
" Ya beneran. Kamu pikir aku dari tadi di sini cuma mau ngitungin pesawat aja?"
" Hehehe..siapa tau lagi belajar ngitung yank. Ya udah hati-hati ya."
" Kamu juga hati-hati. Nggak usah ngebut-ngebut bawa mobilnya."
Setelah mengucapkan salam, Arin segera menutup telfon dan menuju pesawat yang akan mengantarkannya kembali, ke tempat dimana seharusnya dia berada.
Seorang pramugari cantik menyambutnya ramah, dan mempersilahkan masuk ke dalam. Arin berjalan menyusuri lorong diantara kursi-kursi penumpang yang hampir terisi penuh. Maskapai penerbangan terbesar milik Indonesia, menjadi pilihannya untuk mengantarkan dia hingga ke rumah, dan tentunya atas rekomendasi suaminya. Padahal harga tiket pesawat tersebut bisa dua kali lipat dari harga pesawat lainnya. Namun menurut Yuda, maskapai tersebut lebih aman dan terpercaya. Padahal jika Allah berkehendak, jangankan di atas pesawat, di atas tempat tidur saja, nyawa bisa saja terlepas dari tubuh kita.
Arin memperhatikan nomor kursi yang ada di tiketnya, ternyata letaknya tidak jauh dari dia berdiri sekarang. Arin memasukkan barang bawaannya terlebih dahulu. Seorang anak muda kebetulan yang duduk di sebelahnya. Arin sedikit lega, karena hari ini dia sedang tidak mood untuk diajak mengobrol. Menurut pengalamannya, jika yang duduk di sampingnya itu seorang ibu-ibu, sudah bisa dipastikan dia akan diajak bercerita tentang banyak hal hingga pesawat mendarat.
Dadanya terasa sesak, ingin rasanya dia menangis. Padahal baru sebentar dia merasakan udara kebebasan di luar. Arin membayangkan akan kembali hidup serumah dengan suaminya yang pemarah itu. Yang setiap hari dan setiap saat ada saja hal menurut suaminya itu tidak pas di hatinya, sehingga membuatnya meradang.
Arin mengambil hpnya dan mengetikkan sebuah kalimat.
" Sayang...yang aku rasakan saat ini adalah tubuhku serasa ringan dan tak bertenaga, karena semua semangatku telah hilang bersamamu. Kebersamaan kita beberapa hari ini memberikan cerita yang begitu indah. Entah bagaimana aku bisa memulai hidupku kembali seperti sediakala. Yang aku harapkan adalah tetaplah menjadi suami dan ayah yang baik. Jangan berubah karenaku, karena akupun akan berusaha tetap menjadi Arin seperti saat sebelum bertemu denganmu, walaupun mungkin itu akan sangat sulit di awal-awal. Aku sangat mencintaimu. Hati-hati di jalan ya."
Kemudian ditekanlah tombol kirim. Arin menunggu beberapa saat, berharap pesannya langsung dibaca Brian, dan membalasnya. Namun suara terdengar nyaring dari speaker, yang menandakan pesawat akan segera lepas landas. Arin langsung mematikan hpnya, dan memasang sabuk pengaman. Sebentar lagi dia akan meninggalkan kota yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan antara dia dan Brian.
Suara deru mesin mulai terdengar meraung-raung. Arin memejamkan matanya, menahan sekuat mungkin bulir2 bening yang hampir jatuh. Dia tidak ingin menjadi bahan pertanyaan anak muda yang ada disebelahnya.
Sementara itu Brian masih belum meninggalkan bandara. Dia terus berada di kendaraannya. Rasanya berat meninggalkan kota ini. Terdengar suara pesan masuk. Brian segera membuka hp dan membaca isi pesannya. Brian diam sesaat, terlihat dia menarik nafas panjang, lalu mengetikkan sesuatu, kemudian mengirimkannya. Namun yang terlihat hanya tanda centang satu. Tidak ada harapan Arin membatalkan kepulangannya, wanita itu bahkan telah mematikan hpnya, dan itu artinya dia telah berada di pesawat dan siap terbang.
Brian menatap sekali lagi ke dalam pintu masuk bandara, berharap ada keajaiban yang merubah pemikiran Arin. Satu menit, dua menit, lima menit, hingga dua puluh menit, yang ditunggu tidak muncul juga. Akhirnya Brian memantapkan hatinya untuk pulang.
Perjalanan kali ini benar-benar perjalanan yang menyebalkan. Tidak sesemangat saat dia berangkat kemarin. Brian menginjak gasnya dalam-dalam dan menghidupkan musik, berharap bisa menghilangkan rasa sedihnya.
Brian membayangkan nanti di rumah akan disambut istrinya yang nyaris tanpa make up, dilengkapi dengan cepolan rambutnya yang diikat ke belakang, kemudian baju dasternya yang selalu itu-itu saja. Padahal di almarinya tersusun baju yang lebih menarik daripada sekedar daster. Tapi Mirna selalu bilang, lebih nyaman memakai daster. Jika dia sudah menjawab demikian, Brian selalu memilih diam dan malas berdebat. Bahkan Mirna tidak memikirkan perasan Brian, yang ingin melihat istrinya tampil sedikit rapih. Mirna tidak berpikir, bahwa bisa saja suaminya tergoda wanita di luaran sana yang lebih menarik dibandingkan dia saat ini.
Brian terus memaju mobilnya di jalanan. Kembali ke rumah, dan kembali di kehidupan normal.
__ADS_1