CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BANGUN TIDUR


__ADS_3

Mama Yuda yang baru saja bangun dari tidur terkejut mendapati anak lelakinya terlelap di ruang tamu. Sofa ruang tamu yang berukuran jumbo ternyata lebih nyaman untuk tidur dibading sofa yang ada di kamar besarnya.


" Yuda??? kok tidur di sini itu anak?" Sembari berjalan mendekati anaknya yang masih terbuai mimpi.


" Yud...!! Yuda bangun!!" Mencoba membangunkannya.


" Hemmmmm." Hanya berkeliat sebentar lalu terlelap lagi.


" Yuda..!! hei bangun!! kenapa tidur di sini??"


" Ahhhhh...!!" Mencoba menepiskan tangan mamanya antara sadar dan tidak. Sehabis sholat subuh tadi dia baru bisa tidur, rasanya sudah tidak dapat menahan kantuk, dan sangat gengsi jika balik ke kamar kemudian tidur di kasur yang sama dengan Arin.


" Yudddd....ini anak ya!! bangun Yud!!" Yuda masih tetap memejamkan matanya.


" Ma? udah bangun?" Arin yang baru saja keluar kamar mendapati mertuanya sedang sibuk membangunkan Yuda.


" Kenapa Yuda tidur di sini Rin?"


" Oh itu ehhh...semalam Mas Yuda nggak bisa tidur mah, terus nonton tv di luar dan langsung ketiduran."


" Emang tv di kamar kalian rusak?"


" Ehhh nggak sih mah, cuma kan mungkin Mas Yuda nggak mau menganggu Arin dengan suara televisi." Berusaha meyakinkan mertuanya agar tidak curiga karena mendapati Yuda tidak tidur bersamanya.


Arin berjalan menuju dapur, berusaha menjauh dari posisi Yuda tidur sekarang, karena khawatir obrolan mereka berdua bisa mengganggu tidur suaminya. Yuda sangat tidak suka diganggu jika tidur. Arin bahkan tidak berani membangunkannya, kecuali jika memang ada hal yang sangat penting. Karena Yuda tidak mau mendengar alasan apapun, dan dia bisa marah seharian jika istirahatnya itu putus di tengah jalan.

__ADS_1


" Hemmmm....dia mirip banget sama papanya." Mengikuti Arin.


" Oh ya mah?" Sambil membuka kulkas dan mengeluarkan bahan untuk masak hari itu.


" Papamu itu Rin, mana berani mengganggu mama jika mama sedang tidur, karena mama bisa bete kalau tidur mama terganggu."


" Hemmm iya mah...mirip banget papa sama Mas Yuda ya."


" Hahaha...buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya Rin."


" Yup benar mah...!!"


" Dan sayangnya pohon yang ditiru itu sebenarnya bukan papa, melainkan mama." Kata Arin dalam hati.


" Dia kan kalau kerja berangkatnya suka-suka dia mah."


Mertuanya terlihat mengangguk-angguk, yakin dengan penjelasan yang diberikan Arin.


Arin dan mertuanya lalu menyibukkan diri di dapur. Terlihat akrab dan begitu menikmati kegiatan masak pagi itu.


" Mau masak apa kamu?"


" Soup daging aja mah, kebetulan Arin beli daging kemarin."


" Ohh iya.. biar mama aja ya yang masak. Yuda kan paling suka soup daging. Dulu saat belum menikah, jika mama masak soup daging, seharian dia bisa makan 4 sampai 5 kali, nggak ada bosannya." Sambil tangannya begitu cekatan membersihkan sayuran yang baru dikeluarkan Arin dari dalam plastik.

__ADS_1


" Yuda itu dari dulu makan apa aja mau Rin, mama masak lauk apa saja pasti dimakan, dan nggak pernah nolak." Arin hanya tersenyum tipis sembari mengupas bawang putih dan memasukkan ke dalam mangkuk berisi air.


" Itu kan dulu mah saat Mas Yuda belum banyak uang, kalau sekarang mana mau dia makan seadanya seperti itu, apalagi lauk yang sama dari pagi sampai sore." Gerutu Arin dalam hati.


" Hoaaaammmm...!!" Kayaknya tadi aku ngerasa ada gempa? emang ada gempa beneran ya?" Yuda tiba-tiba datang dengan mata yang masih setengah mengantuk.


" Bukan gempa Yud, tapi bom atom!!"


" Hahhh bom atom?? pantesan ada bau-bau nggak enak gitu, taunya bom." Sengaja menggoda mamanya, karena tadi sebenarnya walaupun masih setengah mengantuk, Yuda tau mamanya mencoba membangunkan dia.


" Enak aja bau, bangun tidur tadi mama udah langsung mandi, emang kamu joroknya kebangetan!!"


" Lohhh emang Yuda lagi ngomongin mama?"


" Ini anak minta digetok pake centong ya!! Mandi sana buruan!!" Sambil memukul pantat Yuda dengan sendok sayur yang sedang dibawa.


" Hahaha...ampun mah...iya aku mandi." Berlari tunggang langgang menuju toilet yang ada di kamar.


" Itu anak udah jadi bapak juga masihhhh aja suka godain mamanya." Sambil tersenyum.


Arin lagi-lagi tersenyum tipis Bahkan Yuda tidak menegurnya sedikitpun, pria itu benar-benar sudah tidak menganggap Arin ada.


" Sudah siapppp!! Bawa ke meja yuk Rin!"


" Iya mah " Mengikuti mertuanya dari belakang sembari membawa lauk yang baru saja digorengnya.

__ADS_1


__ADS_2