CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
DI PANTAI


__ADS_3

Brian meletakkan belanjaannya di atas meja, kemudian menjatuhkan diri di atas kasur.


" Ahhhhhh......" Gumamnya seolah sedang melepaskan rasa lelah yang sedang dirasakannya. Dia lalu mengeluarkan hp dari saku celana.


" Lagi dimana ya dia? mentang-mentang lagi ama temen-temennya, sampai lupa telfon aku." Gerutunya.


" Ahhh aku coba wa aja dia!"


" Lohhhhhh....aku kok nggak tau Arin wa??" Saat tau ada pesan masuk, dan itu dari Arin. Brian memang selalu mensilent nada dering wa-nya, karena dia tidak tahan dengan suaranya yang berisik dan mengganggu gendang telinga.


Dilihatnya pesan itu masuk sudah beberapa jam yang lalu


" Itu berarti dia mengirimnya saat aku sedang keluar tadi." Sebelum membeli baju Arin, Brian sempat jalan-jalan dulu dan menikmati secangkir kopi sembari duduk-duduk menikmati pemandangan di sekitarnya, jadi lumayan cukup lama Brian keluar tadi.


" Pasti dia nunggu-nunggu balasanku." Kata Brian dalam hati, sambil buru-buru membalas wa dari Arin.


" Maaf yank, aku tadi keluar sebentar. Aku nggak tau kamu wa, sekarang aku udah di hotel. Kamu lagi dimana? Jangan lupa sholat dhuhur dulu ya, tar keasyikan main sama temen lupa sholat." Kemudian tombol send ditekannya.


Brian meletakkan kembali hpnya, dan membuka makanan yang tadi dibelinya. Dia lalu menghidupkan televisi, dan sesaat kemudian terlihat asyik menikmati makanan itu.


Sementara itu Arin terlihat asyik tertawa-tawa mendengar cerita temannya Walaupun sebenarnya pikirannya masih tetap tidak bisa konsen, namun dia mencoba mengalihkan perhatiannnya, dan berusaha bersikap sewajar mungkin, agar tidak mengundang pertanyaan dari teman-temannya yang lain. Tak habis-habisnya mereka mengenang masa lalu saat sama-sama duduk di bangku kuliah.

__ADS_1


" Udah lama ya kita nggak ke pantai bareng-bareng, gimana kalau habis ini kita kesana?" Ajak Alma.


" Ihhhh apaan si Alma ini? pakai ngajak ke pantai segala, pantai kan dari sini lumayan jauh, perjalanannya aja satu jam lebih, bisa-bisa pulang malam nanti." Arin menggerutu dalam hati. Buat Arin di pertemuan kali ini, Alma sangat menyebalkan, terutama ide dia yang mengajak pergi ke pantai. Yang ada di pikiran Arin adalah ingin cepat-cepat pulang ke hotel dan segera bertemu Brian. Padahal Arin sangat hobi jika diajak pergi untuk mengeksplor pemandangan alam, namun pengecualian untuk kedatangannya kali ini.


Selama perjalanan menuju pantai, Arin benar-benar tidak menikmatinya. Arin merasa kali ink jarak ke pantai sangat jauh, bukan hanya satu jam tapi sepertinya berjam-jam.


" Coba kalau geng kita lengkap, pasti tambah seru." Kata Rudi sambil menyeruput air kelapa muda sembari menikmati deburan ombak di pinggir pantai.


" Ya kan kita sekarang udah berkeluarga, udah punya urusan masing-masing, dan ada yang tinggal di luar daerah, jadi yahhh alhamdulillah kita masih bisa kumpul, walaupun nggak lengkap."Jawab Arin mencoba berdamai dengan suasana hatinya.


" Kamu sih Rin dulu nolak cintanya Gilang, coba aja diterima, kita pasti masih bisa sering ketemuan." Goda teman Arin lainnya.


" Ketemuan apa? buktinya Gilang sekarang nggak dateng?" Jawab Arin.


" Udah ahhh...itu kan masa lalu. Dulu kan aku udah punya Yuda, nggak mungkinlah aku selingkuhin Yuda?"


" Ada Gilang nggak ada Gilang juga nggak ngaruh, aku cuma pengen ketemu Brian dan bukan yang lain!" Gerutu Arin lagi dalam hati.


" Sah-sah aja Rin, selama janur kuning belum melengkung." Teman Arin yang lain menimpali, disambut tawa yang lain.


Arin hanya tersenyum tipis saja menanggapi gurauan teman-temannya, walaupun rasanya dia bete banget.

__ADS_1


Gilang dulu memang sangat menyukai Arin. Walaupun mereka beda jurusan, tapi mereka akrab. Gilang mengenal Arin dari Rudi. Gilang terpesona oleh kecantikan dan kesederhanaan Arin. Namun sayangnya, saat itu Arin telah menjalin cinta dengan Yuda, dan Arin bukan tipe wanita yang bisa menduakan hati. Namun kenyataannya sekarang berbalik 180°. Entah karena kebaikan Brian, atau karena dia butuh tempat sandaran karena sifat suaminya yang membuatnya muak, sehingga dia sekarang berani berselingkuh bersama pria itu.


" Heiiiiii...!!" Arin tersentak dari lamunannya, ketiba tiba-tiba saja Alma mengagetkannya.


" Kok melamun sih? perasaan dari tadi kamu kayak ada yang dipikirin, kenapa sih? ada masalah? Ayo dong cerita, nggak asyik ah kamu."


" Beneran Al nggak ada apa-apa, inget aja jaman dulu waktu Gilang nembak aku."


" Hemmm basi....kamu pikir bisa bohongin aku dengan kepura-puraanmu itu? kalau temen yang lain bisa Rin, tapi aku? no....!!"


" Apaan sih...udah habisin tuh air kelapanya, tar keburu jadi santan lho."


" Yeeee...garing!!!" Jawab Alma sambil mencibirkan bibirnya.


Arin mengeluarkan hp dari dalam tasnya, ingin tau apakah pesan yang dikirimkan pada Brian telah dibaca, karena sedari tadi dia lihat wa itu belum menunjukkan dua centang biru.


" Hemmmm pantesan wa-ku nggak dibaca-baca." Kata Arin dalam hati. Ternyata kali ini Brian telah membalasnya, dan Arin baru paham kenapa sedari tadi Brian tidak membaca pesannya.


" Oh ya udah yank, aku sekarang lagi di pantai nih, temen-temenku ngajakin kesana. Paling aku pulangnya sore kalau nggak malam. Kamu baik-baik ya di kamar. I love you sayang." Dan diakhiri dengan emote love.


Brian yang kebetulan sedang sibuk memainkan hpnya, langsung tau ada pesan masuk, dan dia segera membacanya.

__ADS_1


" Hehhhh...!!" Setelah Brian membaca wa dari Arin, tiba-tiba ada perasaan cemburu yang menyergapnya. Terlintas dalam fikirannya, mungkin diantara teman cowok Arin, ada salah satu yang pernah menyukai kekasihnya itu. Brian melemparkan hpnya di kasur, kemudian dia langsung merebahkan diri. Pikirannya menerawang di awang-awang, membayangkan apa yang saat ini sedang dilakukan Arin di pantai, hingga akhirnya dia terlelap.


__ADS_2