CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENJEMPUT MERTUA


__ADS_3

" Assalamualaikum Ma."


Sambil menjabat tangan mertuanya.


" Wa'alaikum salam."


" Sini Rin, bantu mama masukin ini dulu." Terlihat mertua Arin sedang kerepotan menyusun barang.


" Banyak banget bawaannya?"


" Iya ini mama masak macam-macam, pokoknya mama mau makan sepuasnya sama kalian berdua." Sambil menyediakan sepiring brownies di hadapan Arin.


" Alah mama mana betah tidur tempat Arin, palingan juga besok pagi udah minta pulang. Kenapa ya ma, orang tua itu jarang banget mau tinggal sama anaknya?" Sembari mencomot satu brownis lalu melahapnya.


" Orang tua rata-rata memang begitu sayang, kalau fisik masih sehat jarang ada yang mau tinggal sama anaknya, kecuali kalau memang udah nggak bisa apa-apa."


" Alasannya apa ma?"


" Macam-macam sih, ada yang memang nyaman tinggal di rumah sendiri, ada yang memang nggak mau merepotkan anaknya, ya macam-macamlah."


" Kalau mama sendiri?" Sambil mencomot brownis kembali.


" Kalau mama, selama mama sehat dan bisa mengurus hidup mama sendiri, mama nggak mau merepotkan anak-anak mama, mama udah cukup bahagia jika melihat anak-anak mamapun bahagia sayang. Ada banyak hal kenapa orang tua itu nggak mau tinggal dengan anaknya, pada intinya demi kebaikan semua."


" Ssstttt....enak ya." Sembari melirik piring brownies yang hampir ludes di hadapan Arin.


" Ehhhhh...hahaha...mama...aku kan jadi malu."


" Kamu tuh pakai malu, udah mau habis sepiring baru ngomong malu."


" Ketahuan kan kalau Arin makannya banyak ma?"


" Mama malah suka sayang."

__ADS_1


" Mama itu sengaja buat brownies, karena mama tau itu kesukaan kamu."


" Itu buatan tangan mama sendiri lho!!"


" Ohhh yaaa??? Makasih ya ma." Sambil mencium pipi mertuanya.


" Hemmmm...enakkkk banget, sampai nggak kerasa mau habis hihihi."


" Pinter bikin kue mama sekarang?"


" Ya sekarang kan mama udah pensiun, jadi lebih banyak waktu luang di rumah, jadi daripada bengong, iseng-iseng aja bikin kue."


" Bagus itu ma!! Kebanyakan orang-orang yang terbiasa kerja akan bingung kalau selesai masa kerjanya. Memang harusnya dialihin di kegiatan lain yang positif, biar terhibur dan nggak gampang stres karena bingung mau ngapain ma."


" Yaaa...betul Rin. Jangan sampai juga nantinya jadi syndrome kekuasaan, karena dulunya biasa memegang jabatan, biasa memimpin orang, tiba-tiba pensiun, cuma diam di rumah aja, ujung-ujungnya jadi penyakit karena tekanan batin hahaha."


" Naudzubillah hi mindzalik...jangan sampai ma. Makanya mama sering-sering belajar bikin kue, siapa tau bisa dijadikan bisnis rumahan, dan yang terpenting Arin bisa makan brownie gratis tiap hari hahaha."


" Yeeee...kamu dong yang seneng."


" Hemmm...endusss ma." Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


" Bakalan ketagihan nih nanti Arin sama brownies buatan mama." Arin memang selalu pintar mengambil hati mertuanya, itulah mengapa sebabnya mertua Arin sangat dekat dan menyayanginya.


" Mama tadi juga pesen steak sama Yuda kalau dia pulang nanti, mama pengen makan steak bareng kalian, jadi nanti sore nggak usah masak ya."


" Tapi ma?" Ada nada khawatir pada kalimat Arin. Jika Yuda pulang dan dia tidak memasak untuk suaminya, Yuda bakal murka lagi dan mengira Arin benar-benar sudah tidak menganggapnya ada. Selama Yuda pergi, Arin memang jarang sekali masak untuk dirinya sendiri, dia hanya makan seadanya yang dimasak oleh asistennya, karena kebetulan Arin bukan tipe pemilih dalam hal makanan, dan bisa dibilang pemakan segala yang penting halal.


" Kenapa? takut Yuda marah? nggak usah takut, mamah tau watak dia. Palingan dia jengkel cuma sesaat, apalagi sama mama. Dia itu paling nggak bisa kalau didiemin perempuan lama-lama sayang hahaha."


Arin hanya tersenyum tipis.


" Mana mungkin Mas Yuda marah sama mama, yang ada Arinlah yang bakal dimarahi setelah mama pulang." Kata Arin dalam hati.

__ADS_1


Kebanyakan mertua perempuan memang selalu begitu, seolah tau segalanya tentang anak lelakinya, namun sebenarnya mereka hanya tau anak mereka sebatas sebagai seorang anak dan bukan sebagai seorang suami, dan anak merekapun memperlakukan mamanya hanya sebatas ibu bukan istri. Karena terkadang perlakuan seorang lelaki kepada ibu kandungnya itu akan berbeda dengan perlakuan mereka kepada istrinya.


Maka ketika anak mereka menikah, sebenarnya hanya istrilah yg lebih tau segala kekurangan anaknya sebagai seorang suami. Namun untungnya mama Yuda tidak pernah membicarakan kekurangan menantunya seperti kebanyakan mertua-mertua lain, bahkan ada juga seorang mertua yg terang-terangan menjelekkan menantunya tanpa berperasaan. Sebenarnya menantupunpun bisa membuka segala kekurangan anaknya, karena hanya seorang istrilah yang paling tau kekurangan suaminya.


" Hemmmm..udah beres semuanya, kita berangkat sekarang?"


" Boleh ma."


" Itu nggak dihabisin sekalian? tinggal satu lho mubazir." Sambil melirik piring brownies di hadapan Arin.


" Ehhh iya mah, nanggung hihihi..."


" Hahaha..dasar...kamu doyan apa lapar?"


" Semuanya sih mah." Sambil memasukkan kembali seiris brownies ke dalam mulutnya.


" Udah dua minggu kalian nggak ke rumah, lagi sibuk ya? biasanya aja sebentar-sebentar muncul. Yuda juga tuh, kadang pulang kerja walaupun sebentar mampir ke rumah mama, ini mama tungguin nggak muncul juga."


" Iya ma maaf, Mas Yuda sibuk sama pekerjaannya."


" Berapa hari papa perginya ma?"


" Paling besok udah pulang."


" Yaaaaa...berarti cuma sehari dong Arin ada temennya."


" Biasanya juga kan kamu ada temennya?"


" Mas Yuda kan jarang banget ngobrol sama Arin, dia lebih sibuk sama hnya."


" Dua asisten rumah tangga kamu kan ada?"


" Iya tapi beda mah. Kalau ngobrol sama mama itu temanya luas, tentang apa aja pasti nyambung. Kalau ama bibik, nggak mungkin kan Arin ngobrolin masalah tren pakaian yang lagi kekinian? yang ada malah mereka nanti tambah puyeng ma."

__ADS_1


" Ohhh iya juga ya hahaha."


Mobil Arin terus melaju di jalanan yang ramai. Terlebih hampir jam maksn siang, sudah dipastikan para pegawai kantor sudah mulai keluar untuk menggajal perutnya.


__ADS_2