
Brian menurunkan semua bawaan Arin, mulai dari koper besar hingga kardus berisi oleh-oleh.
" Ada yang kurang nggak?"
" Kayaknya sih nggak."
" Kok kayaknya? nanti kalau ada yang ketinggalan di mobilku susah lho."
" Gampanglah, tinggal paketin aja ke rumahku."
" Maketin mah mudah, kalau yang ketinggalan itu isinya pakaian dalam, terus dibuka istriku gimana?"
" Ya dijelasin dong, susah amat, gitu kok repot!!"
" Yeee...gile lo ndro!!"
Arin cuma terkekeh aja.
" Udah ahh ayo!!"
Arin dan Brian berjalan beriringan masuk ke dalam bandara.
" Aku ikut pulang ke rumahmu boleh?"
" Boleh, ayo!!"
" Kalau ditanyain suamimu kamu jawab apa?"
" Ya bilang, pacar baru aku."
" Berani?"
__ADS_1
" Berani dong, yang penting kamu tanggung jawab, resiko ditanggung bersama. Gimana?"
" Nih orang ya, nantangin terus dari tadi."
" Ya nanti kalau nggak dibolehin, kamu nyangka aku yang nggak-nggak."
" Hahaha nggak jadi kalau gitu."
" Nahhh...kan, nggak berani?"
" Takut ditangkep hansip haha."
Brian dan Arin terus berjalan. Sesampainya di dalam, Brian segera meletakkan bawaannya.
" Coba naik pesawat itu bisa kayak mau naik bis."
" Maksudnya?"
" Hahaha...nanti kalau kamu bikin pesawat sendiri aja ya."
" Padahal kan keberangkatan kamu masih lama, tapi aku nggak bisa nemenin kamu."
" Kan dari kemarin udah nemenin aku?"
" Tapi masih kurang lama."
" Ya besok kalau kita nikah aku temenin ya."
" Kapan itu?"
" Ya besok kalau udah nikah."
__ADS_1
" Tanggal berapa?"
" Nanti kita cari tanggal dan hari yang baik ya."
" Hahaha...udah deh." Sambung Arin lagi.
" Aku masuk ya?" Kata Arin kemudian.
" Hati-hati ya!" Kata Brian seraya memegang jemarin Arin. Arin hanya mengangguk, tanpa melihat wajah Brian. Rasanya dia tidak sanggup menatap pria di hadapannya itu.
" Assalamualaikum " Pamit Arin lalu membalikkan badannya, sembari menarik koper yang sedari tadi ada di sebelah Brian. Bahkan dia lupa mengucapkan kata perpisahan, ataupun ucapan sayang seperti biasa saat dia menutup telfonnya. Rasanya mulutnya terkunci rapat. Arin berusaha menutupi kesedihannya yang seakan ingin meledak.
Brian tau apa yang dirasakan wanitanya itu, kemudian Brian menarik tangan Arin dan memeluknya. Dada Arin serasa sesak. Ingin rasanya menangis, namun sekuat tenaga tetap ditahannya.
" Yank....inget ya, aku akan tetap bertahan buat kamu. Kuat ya, demi hubungan kita?" Arin tidak menjawab karena sibuk menahan air yg hampir jatuh di kelopak matanya. Dia sudah tidak perduli beberapa pasang mata menatap mereka berdua. Ada yang ikut terharu, ada yang tersenyum-senyum, dan mungkin saja ada yang mencibir, menganggap mereka berdua bagaikan sebuah adegan sinetron.
" Ya udah nanti kamu ketinggalan pesawat." Sambil melonggarkan pelukannya.
" Semoga kita bisa ketemu lagi ya yank?" Jawab Arin.
" Dan semoga di pertemuan yang akan datang adalah, saat aku melamarmu sayang." Jawab Brian sambil mencubit dagu Arin. Arin hanya tersenyum tipis, memahami bahwa Brian sedang berusaha menghiburnya.
" Ya udah aku berangkat ya. Aku sayang kamu." Kata Arin pelan.
" Aku juga sayang kamu." Kemudian Arin mencium tangan Brian, dan sebuah kecupan mesra mendarat di dahi Arin. Berusaha memantapkan hati, Arin membalikkan tubuhnya.
" Hati-hati sayang!" Kata Brian lagi, Arin menengok sesaat, tersenyum sebentar, lalu melangkah cepat meninggalkan Brian yang berdiri terpaku. Hatinya hancur berkeping-keping, meninggalkan sebuah rasa yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.
Brian terus menatap Arin dari kejauhan, berharap kekasihnya itu kembali lagi dan membatalkan penerbangannya. Namun Arin tidak muncul juga, hingga hilang dari pandangannya.
Brian melangkah gontai meninggalkan bandara. Yang dia alami beberapa hari ini, seperti sebuah mimpi. Mimpi yang sangat indah menghiasi tidurnya. Mimpi yang membuatnya tidak ingin bangun dan terus terlelap. Namun kehidupan nyatalah yang harus dia hadapi sekarang. Dia harus bertanggung jawab menghidupi dua orang anaknya dan seorang istri yang menantinya di rumah, yang tidak tau bahwa ayah dan suami yang sedang mereka nanti di rumah sedang menghadapi kegalauan yang luar biasa.
__ADS_1
Hatinya telah goyah, dan jiwanya rapuh. Entah kenapa sesosok Arin membuatnya benar-benar jatuh cinta dan menghadirkan kebahagiaan tersendiri buatnya, tanpa sedikitpun bisa dia singkirkan bayangannya.