CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
HSMPIR KETAHUAN


__ADS_3

Sementara itu Arin terlihat sumringah karena sudah mengantongi ijin dari suaminya. Itu artinya Arin akan lebih tenang untuk menjalankan usahanya. Langkahnya jadi lebih ringan, karena apa yang dikhawatirkan tentang kemarahan Yuda tidak terjadi.


" Ehhh...tapi kenapa ya tiba-tiba sikap Mas Yuda berubah?? dulu kan dia amat nggak suka kalau aku kerja?? Atau jangan-jangan dia ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku?? Ahh nggak, aku nggak boleh punya pikiran buruk, mungkin Mas Yuda emang sengaja memberikan kesempatan aku untuk memiliki usaha sendiri. Toh ini juga buat masa depan Jenny, karena kita kan tidak tau yang namanya rejeki, walaupun usaha Mas Yuda udah lebih dari cukup untuk sumber ekonomi keluarga, tapi bukan berarti itu buat kami terlena, kami harus punya usaha lain yang berbeda untuk jaga-jaga." Kata Arin dalam hati berusaha berpikir positif pada suaminya.


Tiba-tiba dia ingat Brian, saat ini hatinya amat gembira, dan ingin rasanya membagi kebahagiaan itu dengan kekasihnya.


Diambilnya hp yang satunya lagi. Ternyata dari tadi pagi, Brian belum melihat statusnya sama sekali. Arin langsung merengut kesal. Laki-laki itu selalu kebiasaan, jika sedang sibuk pasti lupa mengabarinya. Padahal hanya itulah satu-satunya akses komunikasi mereka, bahkan Arinpun tidak tau harus mencari tau ke siapa jika suatu hari nanti Brian menghilang dan tidak mengabarinya sama sekali, karena tidak mungkin Arin akan mendatangi tempat tinggal Brian, walaupun dia sudah diberitahu alamatnya, dan disimpannya dengan rapih. Jika itu dilakukannya, sama saja dia membongkar aibnya sendiri di hadapan keluarga Brian, kecuali dia menyamar. Namun hal gila itu tetap tidak akan dilakukannya. Arin berharap komunikasi mereka tidak akan terputus, kecuali memang mereka berdua yang menyudahi hubungan terlarang itu.


Tiba-tiba terbersit perasaan cemburu di hati Arin. Ada dua hal yang menyebabkan Brian tidak membaca statusnya, pertama laki-laki itu sibuk, dan kedua hpnya dipegang oleh Mirna istrinya. Entah kenapa Arin jadi meradang jika mengingat itu, betapa Brian terlihat begitu terbuka dengan sang istri, bahkan hpnyapun dengan leluasa digunakan oleh istrinya. Tidak seperti Yuda, bahkan jika hp Yuda berbunyi, Yuda melarang Arin mengangkatnya, dia paling tidak suka urusannya dicampuri oleh Arin.


Kemudian Arin mengetikkan sesuatu di statusnya. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Entah kenapa disaat bahagia ini justru yang pertama diingatnya adalah Brian, dan entah kenapa juga Arin belum menyadari bahwa Brian itu tidak selalu ada disaat dia sedang membutuhkannya.


Sementara itu Brian terlihat gelisah sekali. Benar yang dipikirkan Arin, sedari pagi memang hp Brian dikuasai oleh Mirna. Biasanya Brian tidak pernah ambil pusing dengan keberadaan hpnya, namun semenjak mengenal Arin, dia selalu was-was jika belum melihat status kekasihnya itu, karena jika seharian Arin tidak mengabarinya, diapun akan merasakan hal yang sama seperti Arin, curiga, was-was dan cemburu selalu menyelimutinya.


Seperti pagi ini. Saat Brian mencari hpnya, ternyata benda itu sedang dibawa Mirna. Padahal Mirna sudah memiliki hp sendiri.


" Mir, mana hpku!!"


" Ini mas, lagi aku pakai." Tanpa menoleh sedikitpun dan justru tersenyum-senyum sendiri.


" Emang kemana hp kamu??? Kok selalu pakai hpku terus sih??" Sedikit kesal.


" Ihhhh pelit banget sih??? Dataku habis mas!!" Jawabnya singkat.


" Ya udah tinggal beli data dulu sana. Kemarikan, aku mau pakai!!"


" Sabar dulu kenapa?? Biasanya juga kalau hpnya lagi aku pegang nggak pernah ribut!! Lagi seru nih mas!!"

__ADS_1


" Aku itu mau pakai Mir. Aku mau chat langgananku." Kata Brian beralasan.


" Siapa namanya? biar aku ketikin!!" Masih belum mau memberikan hpnya, karena dia sedang asyik berselancar di dunia maya.


" Lagian kan mas paling males kalau disuruh ngetik-ngetik!!" Sambungnya. Dia sangat hafal dengan sifat suaminya itu. Bahkan jika ada chat masuk, Mirnalah yang sering disuruh membalasnya.


" Biar aku chat sendiri aja!!" Katanya seraya langsung mengambil hp di tangan Mirna.


" Apaan sih mas!! Bisa nggak sih ngambilnya baik-baik??"


" Lho dari tadi kan aku minta baik-baik sama kamu, tapi kamu nggak ngasih!!"


" Cuma mau chat langganan aja kok rela ribut sama istri, penting banget ya!!" Jawab Mirna ketus dan sedikit keras, lalu pergi meninggalkan Brian sendiri.


Brian terkejut, tidak menyangka Mirna akan bereaksi demikian. Brian baru menyadari, karena begitu memikirkan Arin yang menunggu kabar darinya, sehingga tanpa sengaja malah membuat Mirna marah. Padahal dia bisa saja bersabar hingga Mirna mengembalikannya sendiri. Namun entah kenapa dia begitu rindu dengan Arin dan ingin segera melihat status yang ditulis kekasihnya itu.


Brian kemudian membuka aplikasi WA-nya, dia sudah tidak lagi memikirkan Mirna yang sedang marah. Dia ingin buru-buru mengecek status Arin yang sedari pagi tadi belum dia lihat.


Setelah mengirimkan chat pada Arin, Brian kemudian meletakkan hpnya di atas meja yang ada di depannya. Dia kembali asyik berkutat dengan pekerjaannya. Mengecek kerja beberapa pegawai yang sedang menyelesaikan pesanan.


" Ini tolong kamu benahi warnanya, kayaknya kurang muda sedikit. Coba aku cek sebentar ya, kayaknya kemarin orangnya ngirimin gambar yang baru." Katanya berbicara pada pegawainya yang sedang membuat desain gambar yang hendak di cetak.


" Lho mana tadi hpku??" Gumamnya kebingungan. Seingatnya dia tadi meletakkan hp itu di atas meja.


" Kenapa pak?"


" Kamu lihat hpku Don?"

__ADS_1


" Ohhh tadi kayaknya diambil ibu." Kata salah seorang pegawainya.


" Ohhh." Gumamnya pelan.


" Aku pikir setelah marah tadi dia nggak akan mau pakai hpku lagi, ternyata masih butuh to, dasar wanita!!" Gumamnya.


" Hahhhh!!!" Tiba-tiba Nrian ingat sesuatu.


" Chatku dengan Arin tadi sudah kuhapus belum ya?? Mati aku, kayaknya habis chat tadi langsung kutaruh di atas meja!!!" Wajahnya langsung terlihat panik, dan buru-buru mencari Mirna.


Dilihatnya istrinya itu sedang tertawa-tawa sendiri di tokonya. Brian mendekati dan berusaha bersikap sewajar mungkin.


" Ahhh sepertinya dia sumringah, sepertinya tidak terjadi apa-apa!!" Bathinnya sedikit lega.


" Mir, pinjem sebentar hpnya, aku mau lihat desain baru yang dikirim pelanggan, sebentar lagi mau dicetak, dia tadi minta dirubah warnanya."


Mirna melirik sebentar, lalu menyerahkan hpnya. Brian segera membukanya. Ekspresinya berubah. Benar saja, ternyata dia belum menghapus chatnya. Namun saat melihat ekspresi Mirna tadi, kelihatannya istrinya itu belum sempat membuka-buka aplikasi wa-nya. Buru-buru Brian menghapusnya.


" Nih!!" Mengembalikannya lagi pada Mirna.


" Udah?"


" Udah, langsung aku kirim ke hpnya Arif." Menyebutkan nama pegawai yang bertugas membuat desain.


" Hemmm!!" Jawab Mirna.


Brian lalu meninggalkan istrinya lagi. Hatinya langsung lega, dia benar-benar ceroboh tadi. Seandainya Mirna melihatnya, dia jamin akan terjadi pertengkaran hebat, karena tadi dia mengirimkan chat mesra pada Arin, bahkan menyebutkan kata-kata rindu segala.

__ADS_1


__ADS_2