CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BERSAMA DIKA 3


__ADS_3

"Jadi udah berapa hari kamu nggak tidur di rumah?"


" Udah semingguan."


" Kamu itu Yud, istrimu baru berbuat kesalahan seperti itu, sudah kamu tinggalin gitu aja. Aku yakin kalau ada masalah yang lebih besar lagi, pasti langsung kamu talak dia."


" Bisa jadi Dik. Aku itu paling nggak suka dibantah, apalagi dilawan seperti ini."


" Hemmmm...aku udah nggak bisa ngomong lagi kalau kayak gini, hati kamu terlalu keras."


" Udah deh ngomong yang lain aja, membuka luka lamaku kalau kamu bahas ini terus." Sambil menyeruput kopi yang sudah dingin.


" Gimana kerjaanmu?"


" Ya alhamdulillah, walaupun nggak sebesar usahamu, tapi minimal anak istriku nggak kelaparan."


" Yaaa...itu lebih baik Dik, dibanding dulu kamu ikut orang. Masih enak buka usaha sendiri kan?"


" Yup betul...paling nggak aku bisa ngatur waktu sesuka aku."


" Aku lihat usahamu semakin hari semakin maju Yud?"


" Ya begitulah. Semua kan karena kerja keras Dik, mana ada usaha maju yang nggak disertai kerja keras."


" Ya memang harus begitu. Jadi sekarang Arin nggak pernah kamu ajak ngurusin tokomu lagi?"


" Nggahlah Dik. Dia aku suruh di rumah aja. Ngapain juga, sekarang kan udah ada asistenku yang ngurus semuanya. Aku juga udah jarang di sana, lebih banyak ngurusin usaha lain yang masih butuh pengawasanku."


" Memang harus begitu. Pengusaha yang sukses itu harus bisa mempercayakan usahanya pada orang lain dan nggak dia handle sendiri."


" Hahaha...ya kalau dihandle sendiri mana mampu Dik, badanku cuma satu, masak mau pontang panting kesana kemari."


" Oh iya Dik!! Aku kemarin ketemu maya di swalayan lho." Kata Yuda antusias.


" Maya mantanmu?"


" Ya iya emang Maya mana lagi? Udah lama nggak ketemu, tambah sexy aja dia haha."

__ADS_1


" Huusss...kamu tuh, udah punya istri juga masih aja merhatiin mantan."


" Hahaha...siapa juga yang merhatiin, nggak perlu diperhatiin juga udah kelihatan di depan mata kok."


" Awas lho ya..mantan bisa jadi ancaman. Aku denger dia kan udah cerai sama suaminya."


" Aku nggak sebodoh itulah Dik, kalau mau udah dari dulu aku milih Maya dibanding Arin."


" Ya iyalah, secara kan kamu yang ditinggalin sama Maya dan selingkuh sama Willy, iya kan?"


" Sialan!! Nggak usah membuka cerita lama"


" Bukan membuka cerita lama Yud, cuma mengingatkan kamu aja biar nggak tergoda Maya lagi, dan jatuh dalam lubang yang sama."


" Biasanya laki-laki itu banyak khilafnya dan gampang tergoda kalau dirayu wanita, apalagi dirayu mantan, langsung lupa deh masa lalu saat disakiti dulu hahaha."


" Tapi kan kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain?"


" Orang lain? atau mantan?"


" Termasuk kesalahan Maya yang dulu sempat membuatmu terpuruk dalam waktu yang lama?"


" Ahhh itu kan dulu Dik, jangan dibahas lagi."


" Kesalahan Maya mantanmu saja bisa kamu maafkan, berarti Istrimu Arin yang kamu anggap telah bersalah padamu, bisa kamu maafkan juga dong?"


" Arin lagi...udah deh ngobrol yang lain aja."


" Maksudnya ngobrolin Maya? Kamu nggak obyektif Yud, padahal Arin itu yang nemenin kamu dari kamu belum punya apa-apa sampai sesukses ini, tapi kamu malah sulit memaafkan kesalahan dia dibandingkan Maya."


" Ini beda Dik, Arin istriku, sedang Maya cuma mantanku."


" Lahhh justru Arin itu istrimu, harusnya lebih mudah kamu maafin dia."


" Bukan masalah mudah dan tidak, tapi lebih kepada wibawa dan harga diriku sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, jadi dia nggak bisa seenaknya melawanku."


" Kamu bicara wibawa dan harga diri segala. Selama ini kamu memikirkan harga diri Arin sebagai seorang istri nggak?"

__ADS_1


" Maksudmu?"


" Maksudku, caramu memperlakukan Arin sebagai seorang istri apakah sudah cukup membuatnya berharga di hidupmu?"


" Kamu ini ngomong apa? Kalau dia nggak berharga buatku, nggak mungkin aku jadikan dia istriku Dik."


" Tapi sikapmu seolah nggak menunjukkan seperti itu. Dan entah benar atau salah, yang selama ini aku lihat, rumah tanggamu dengan Arin hanya melulu soal menuntut hak dan kewajiban saja, nggak lebih."


" Maksudmu?"


" Ya memang seperti itukan seharusnya berumah tangga?"


" Kalau esensi berumah tangga dalam pikiranmu hanya seperti itu, maka hilanglah keindahan sebuah pernikahan. Karena jika dalam rumah tangga hanya saling menuntut, ikatan mereka akan segera meleleh bersama waktu."


" Cinta mereka akan tergerus bersama tuntutan yang menghujam satu sama lain." Lanjut Dika.


" Jadi maksudmu aku harus diam saja kalau istriku tidak menjalankan kewajibannya?"


" Bukan begitu maksudku Yud. Yang perlu kita ingat bahwa, menjalankan kewajiban dalam rumah tangga bukanlah untuk diri kita saja, tapi untuk membuktikan kepada Allah, bahwa kita telah berusaha menjadi hamba yang taat kepada-Nya. Berusahalah menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita dengan ikhlas, dan terus bimbinglah dia. Pada akhirnya rumah tangga bisa damai, tanpa terus ada tuntutan dari masing-masing pihak."


Yuda tetap diam saja mendengar semua nasehat Dika. Walaupun banyak benarnya, namun hati Yuda tetap keras untuk bisa memaafkan Arin.


" Ngobrol apa aja sama Maya?" Kata Dika mengalihkan pembicaraan, karena dilihatnya Yuda seperti tidak suka dengan bahan obrolannya.


" Nggak ada yang penting sih, cuma nanya kabar aja, soalnya dia buru-buru mau jemput anaknya."


" Tukeran no hp nggak?"


" Tukeran dong."


" Nah awas!! Warning level 1 tuh. Hati-hati Yud, kamu sedang ada masalah dengan Arin."


" Tenang aja Dik, aku udah antisipasi itu kok."


" Hehhhh...aku nggak yakin kamu akan terhindar dari pesona cinta lamamu Yud. Percaya deh sama aku, jangan kasih peluang dia masuk dalam hidupmu lagi."


" Hahaha..beres bos!!" Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

__ADS_1


__ADS_2