CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BERSAMA DIKA


__ADS_3

Sementara itu Yuda terlihat sedang minum kopi di sebuah cafe semvari menunggu sahabat lamanya, Dika.


" Hei brow, udah dari tadi?" Sembari menarik kursi kosong yang telah dipesan Yuda.


" Lumayan panas pantatku nungguin kamu."


" Hahaha...maaf, aku kan harus nemenin anak-anak sama istriku dulu di rumah."


" Nemenin? kayak nggak pernah pulang ke rumah aja pakai nemenin."


" Harus dong brow. Seharian kan aku ada di kantor, saat di rumah aku harus luangkan waktu untuk ngobrol bareng anak dan istriku. Mendengarkan kegiatan mereka selama sehari, menanyakan sekolah anak-anakku, menanyakan pergaulan bersama teman-temannya, menanyakan masalah yang sedang mereka hadapi."


" Tapi kan ada istrimu yang stand by di rumah."


" Anak itu sebaiknya dekat dengan kedua orang tuanya brow, jangan cuma salah satunya, itu berpengaruh lho agar pola asuh anak menjadi lebih ideal. Membiarkan ada jarak antara salah satu orangtua dengan anak malah bisa memperburuk suasana kedepannya. Misalnya, anak mungkin merasa kurang perhatian dan kurang kasih sayang dari salah satu orangtua, hingga sering membuat masalah karena merasa dirinya tidak berharga. Tau kan yang aku maksud?" Yuda diam saja.


" Aaahhh...rumit amat!! Tugas kita kan nafkahi mereka, kenapa masih dipusingkan dengan urusan sekolah anak-anak, urusan pergaulan anak-anak, lalu apa fungsinya istri kita?"


" Sulit memang ngomong sama orang egois dan berpikiran primitif kayak kamu."


" Bukannya egois, tapi kita itu udah terlalu pusing dengan urusan pekerjaan, paling tidak jangan dibebani lagi dengan hal receh seperti itu."


" Nah itulah, pasti kamu nggak dekat ya sama anakmu? padahal dia pasti sangat ingin bisa dekat dengan ayahnya lho."


Yuda tidak menjawab, dia memang tidak terlalu dekat dengan Flo, jangankan mendengarkan cerita anak semata wayangnya itu, kadang saat Flo duduk di sebelahnya saja, Yuda malah lebih memilih asyik dengan iphonenya dibanding mengajak ngobrol Flo. Makanya Flo lebih dekat dengan Arin dibanding dengan dia.


Yuda kemudian memanggil seorang pelayan.


" Pesan apa kamu?"


" Kopi susu aja."


" Makanannya?"


" Terserah kamu aja deh."


Kemudian Yuda menulis pesanan, dan segera menyerahkannya pada pelayan.


" Minumnya cuma satu pak?"

__ADS_1


" Ini masih belum habis." Sambil menunjuk gelas minuman yang ada di depannya.


" Air mineral aja deh yang satunya." Kata Yuda kemudian.


" Baik pak. Ada tambahan lagi?"


" Itu dulu aja."


" Baik pak, permisi."


Dika melihat asbak yang ada di hadapan Brian, bekas puntung rokok menumpuk di sana."


" Udah berapa jam kamu duduk di sini?"


" Mungkin satu jam-an."


" Sendirian?"


" Lah kamu lihat aku sama siapa? hantu?"


" Siapa tau ada hantu yang nemenin kamu merokok, sampe puntungnya numpuk kayak gitu."


" Hahaha...nyindir nih?"


" Penasaran? mau coba nih?"


" Ogah!! mending aku beliin beras buat makan anak istriku." Tolak Dika yang memang sejak dari dulu tidak pernah merokok.


" Lama ya kita nggak ngopi bareng?" Sambil menghisap rokok dalam-dalam.


" Ya maklumlah, kita semua udah sibuk kerja, jadi lupa kumpul-kumpul."


" Hahaha nasib pria-pria yang sudah berkeluarga, kadang-kadang lupa me time."


" Mendingan kita Yud, masih bisa bersosialisasi sama lingkungan luar. Giliran istri kita, siang malam cuma di rumah terus, sibuk dengan urusan anak dan rumah. Bayangkan, betapa lebih bosannya lagi mereka. Seharusnya merekalah yang lebih perlu kita beri kesempatan untuk memanjakan diri sendiri, karena sudah rela mengorbankan waktunya dan kepentingan diri sendiri untuk mengurus anak dan rumah kita."


" Panjang betul penjelasannya?"


" Ya memang begitu, aku kadang pas libur kerja lihat istriku ada aja yang dikerjakan dari pagi sampe malam, capek sendiri."

__ADS_1


" Itu kan istrimu, beda dengan istriku. Dia udah aku kasih asisten 2 orang sekaligus, jadi kalau dia masih mengeluh capek, itu namanya nggak bersyukur."


" Mungkin dia nggak capek Yud, tapi jenuh iya. Istrimu jarang banget keluar rumah, bahkan nggak pernah aku lihat dia pergi bareng sama teman wanitanya."


" Emang nggak aku bolehin. Buat apa pergi untuk urusan yang nggak penting, ujung-ujungnya nanti malah keluyuran nggak jelas."


" Kamu berarti nggak percaya sama istrimu, masak kamu nggak kenal dia? aku aja yang cuma temannya tau banget gimana watak dia."


" Emang setau kamu dia gimana?"


" Yud, nggak usah bohongin diri sendiri deh."


" Maksudmu?"


" Siapa yang nemenin kamu dari kamu belum punya apa-sampai kamu sesukses ini? Bahkan dia rela ikut banting tulang majuin usaha yang kalian miliki hingga sesukses sekarang. Dulu Arin itu bisa aja dapat pria yang lebih dari kamu, kamu tau sendiri kan siapa aja cowok yang deketin istrimu itu? Tapi buktinya dia malah pilih kamu dan rela hidup prihatin sama kamu."


" Ya berarti dia sudah menjadi jodohku."


" Justru itu, karena Allah telah menakdirkan wanita sebaik Arin untuk menjadi jodohmu, kamu harus benar-benar menjaganya, menyayanginya."


" Aku udah sangat menyayanginya, kamu lihat sekarang kan? bagaimana lagi cara aku menyayangi dia?"


" Tapi kamu terlalu membatasi ruang geraknya Yud!"


" Itu karena demi kebaikan dia?"


" Benar demi kebaikan dia? bukan karena alasan lain?" Yuda diam saja tidak bisa menjawab.


" Menyayangi bukan berarti melarang Yud. Mencintai bukan berarti mengekang. Kalau kamu percaya dengan istrimu, mungkin kamu nggak akan seperti ini. Bukankah kamu yang lebih paham sifat istrimu dibanding aku?"


" Saat ini kamu ibarat menggenggam pasir, jika terlalu erat kau genggam, dia akan tetap keluar dari sela-sela jarimu. Begitu juga istrimu, beri dia kebebasan tapi tetap dengan aturan. Ibaratnya, kepala kau lepaskan ekor kau pegang. Dan disitulah peran seorang suami. Didik istrimu sebaik mungkin sesuai dengan aturan agama, maka ada dan tanpa kamu, dia akan tetap menjaga komitmen dan kepercayaan yang kamu beri."


" Mendidik istri adalah kewajiban kita Yud, tapi jangan salah, sebagai seorang kepala rumah tangga pasti kita juga tidak akan luput dari kesalahan, jangan egois dan jangan marah jika istrimu mengingatkan, karena itu juga tugas dia."


" Kita sebagai laki-laki bukan cuma memberi nafkah saja, tapi masih banyak tugas lain yang harus jalani. Salah satunya melindungi keluarga kita. Melindungi bukan berarti yang seperti kamu lakukan, melarangnya pergi dengan aturan-aturan ketat, tapi juga memberikan dia kenyamanan, memberikan dia ketenangan bathin."


Yuda hanya diam saja sembari mengaduk-aduk kopi yang ada di hadapannya.


" Kamu paham kan Yud yang aku maksud?"

__ADS_1


" Paham Dik, mungkin benar yang kamu katakan, tapi aturan antara keluarga yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Aku lebih suka istriku di rumah, keluar jika hanya ada hal penting saja. Aku tidak suka lihat perempuan yang kongkow-kongkow lalu tertawa terbahak-bahak di tempat umum, seolah mencari perhatian orang lain, buatku itu sangat memalukan."


" Itu benar, tapi kembali lagi bagaimana kamu bisa memberi pengertian pada Arin tentang apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Aku kira kalau kamu sudah memberikan wawasan seperti itu, Arin tidak akan mungkin melanggarnya. Biarkan dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri, bergaul bersama teman, sebatas hanya untuk mengobrol saja tidak lebih. Asal kamu tau Yud, orang yang jarang bersosialisasi itu, biasanya tingkat stresnya lebih tinggi dibanding orang yang biasa kumpul dengan orang lain."


__ADS_2