CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
SELESAI RAPAT


__ADS_3

" Baiklah ibu dan bapak sekalian, saya kira rapat kita kali ini cukup sekian. Untuk lebih jelasnya lagi, nanti kita buatkan selebaran hasil keputusan rapat yang kita bahas hari ini, jadi bapak dan ibu bisa membaca dan mempelajarinya langsung di rumah. Saya akhiri wassalamualaikum warahmatullah hi wabarakatuh."


Salam kepala sekolah dijawab serentak oleh seluruh peserta rapat, tak lama setelah itu peserta rapatpun membubarkan diri, tak terkecuali Maya.


Maya berjalan menyusuri lorong koridor sekolah. Beberapa kali dia berpapasan dengan guru, Maya langsung menyunggingkan senyumnya yang paling manis. Maya memang sedikit berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Penampilannya terlihat kekinian dan modis. Pantas saja sedari awal dia masuk ke sekolahan ini, banyak mata yang menatapnya kagum.


" Tak..tak..tak.." Bunyi nyaring hak tinggi sepatunya yang beradu dengan ubin sekolah, menimbulkan bunyi yang khas.


" Duhhh...mana itu anak, katanya mau nunggu di depan kelasnya." Sembari menengok kesana kemari, dan sesekali melihat arloji di tangannya. Tidak mungkin Maya menelfon Jenny, anak itu sudah pasti tidak membawa hpnya, karena ada larangan membawa hp ke sekolah. Akhirnya Maya hanya terus menunggu di depan kelas anaknya. Dia tidak berani pergi kemana-mana, khawatir jika nanti Jenny datang, justru mereka tidak bertemu.


" Ibu sedang menunggu siapa?" Seorang guru menyapanya ramah, karena sedari tadi dilihat Maya celingukan seorang diri.


" Ohhh ini saya sedang menunggu anak saya pak."


" Lho semua murid kan sudah dipulangkan sedari tadi?"


" Iya benar pak, tapi tadi saya sudah janjian dengan dia di sini."


" Siapa nama anak ibu?"


" Jenny pak."


" Jenny yang rambutnya pendek sebahu?"


" Iya benar pak."


" Bapak tau denfan anak saya?"


" Bukan cuma tau, tapi saya amat kenal dengan anak ibu."


" Saya lihat tadi di kantin masih ada beberapa anak, tunggu sebentar ya bu siapa tau dia di sana."


" Terimakasih banyak pak." Sambil menunduk hormat.


" Hehhhh...itu anak ya, ngerjain orang tua aja. Awas nanti kalau datang!!" Gerutu Maya yang merasa kesal pada anaknya.


Tak lama terlihat Jenny berlari kecil menghampirinya.


" Mama....!!" Teriak Jenny dari kejauhan.


" Kamu tuh ya, katanya mau nungguin di sini."


" Iya mah, maaf. Jenny baru dari kantin, dehidrasi nungguin mama nggak kelar-kelar rapatnya."


" Yeee...salahin tuh kepala sekolah kamu, jangan nyalahin mama. Emang mama yang mimpin rapat?"


" Iya mamaku yang cantik. Jadi pulang apa mau ngelanjutin ngomelin Jenny dulu nih?"


" Hemmm...potong uang jajan nih, udah ngerjain mama nunggu di sini."


" Ihhh maaf mah...Allah aja maha pemaaf masak mama nggak??" Sembari menangkupkan kedua tangan ke dada.


" Itu kan Allah bukan mama."


" Iya...iya...piss ya mah!!"


" Ingat!! Jangan diulangi lagi ya!!"

__ADS_1


" Iya mamaku sayaaaangg."


" Ayo pulang mah, Jenny udah laper banget."


Kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.


" Tadi ada guru yang nyariin kamu di kantin ya?"


" Iya, bilang kalau mama nungguin Jenny."


" Itu namanya Pak Somad mah, guru matematika Jenny."


" Kok kayaknya hafal banget sama kamu?"


" Gimana nggak hafal mah. Hampir setiap pelajarannya Jenny selalu kena tegur."


" Kok bisa gitu?"


" Jenuh banget mah ama pelajaran itu. Dari dulu sampe sekarang ngituuuunggg melulu nggak kelar-kelar, kurang kerjaan nggak tuh?"


" Kamu tuh ya. Namanya aja pelajaran matematika, ya jelas menghitung dong. Sejak kapan pelajaran matematika itu ganti tema jadi membaca?"


" Hehehe...Jenny males mah kalau disuruh ngitung angka nggak jelas gitu mah. Jenny lebih suka ngitung pendapatan apalagi pendapatan yang berlipat-lipat."


" Besok kalau udah kerja baru ngitung pendapatan, sekarang ngitung angkanya dulu Jennn!! Bandel amat nih anak!!"


" Hihihi...pisss maaahhh....laper itu emang bawaannya emosi mah, sabar ya mahhh..!!" Jenny terus-terusan menggoda mamanya, dan Maya hanya geleng-geleng kepala saja.


" Tapi kalau kamu nggak suka, kenapa nilai matematika kamu bagus? Nyontek ya?" Sambil memelototi Jenny.


" Ihhh mama suudzon sama anak sendiri. Jenny itu nggak suka mah, bukannya bodoh."


" Makan Pizza ya mah...pleasss....kita jarang lho keluar bareng siang begini."


" Yeee...apa hubungannya keluar siang bareng sama makan pizza?"


" Sebenernya nggak ada hubungannya sih mah."


" Ya udah makan di warteg aja kalau gitu, lebih murah dan pasti lebih sehat."


" Yaelah mah...masak di warteg? Ujung-ujungnya pake sambel lagi, paling banter pake telor bulet, kalo nggak sayur lodeh ya tumis kacang..mama...ayo dong...kita udah lama nggak makan pizza."


" Ehhhhh...sayur lodeh itu malah sehat Jen, sayurnya macem-macem. Semua vitamin ada di situ. Kalau pizza apa? makanan fast food gitu bikin kolesterol naik dan kegemukan. Kamu nggak takut over weight??"


" Iihhh mamah lebayyy...iya kalau makannya seabreg, cuma sekali doang nggak bakalan over weight mah. Ayooo dong...!!"


" Hemmmm...gimana ya...??"


" Pleasssss maaa!!" Sambil merapatkan kedua telapak tangan di dada.


" Hemmmm tapi ada syaratnya."


" Syaratnya apa?" Seru Jenny antusia.


" Janji habis pulang makan pizza nanti, bantuin mama rekap pembukuan butik."


" Siyaaapp mah...Kalau hitung-hitung keuntungan doang mahhh syukaaaa!!"

__ADS_1


" Okkkk...berangkattt...!!"


" Yeeeeee...!!"


Maya dan Jenny berjalan beriringan menuju tempat parkir. Setelah menghidupkan mesin mobilnya, mereka berdua segera meluncur menuju lokasi pizza.


" Heran, kok kayaknya mama biasa aja ya? kayak nggak terjadi apa-apa." Jenny bertanya dalam hati. Karena tidak mungkin Yuda tidak menghubungi mamanya, apalagi ini sudah lewat dari waktu yang telah Jenny katakan.


" Apa jangan-jangan Om Yuda nggak dateng?? Ahhh nggak mungkin, walaupun nggak dateng, pasti memberi tahu mama juga." Jenny terus bertanya dalam hati.


" Kamu tuh kenapa sih suka banget makan makanan siap saji begitu? kenapa nggak milih makanan yang lebih sehat."


Jenny tidak mendengar ucapan mamanya karena sibuk memikirkan Yuda.


" Jen?? hey...melamun ya?"


" Haaa...apa mah??"


" Ehhh diajak ngomong orang tua malah pikirannya piknik kemana-mana?"


" Duhhh maaf mah."


" Mama nanya apa?"


" Makanya jangan melamun...Mama nanya, kok kamu suka fast food macam begini?"


" Ya mama, kalau makanan yang dimaksud mama sejenis nasi sayur, itu kan tiap hari ada di rumah, kalau pizza kan belum tentu satu bulan sekali Jenny makan. Kalau pas keluar gini terus kita makan nasi sayur di warteg, mending Jenny bawa bekal aja mah dari rumah, nggak ada bedanya."


" Makanya mama itu melarang kamu sering makan yang begituan, karena makanan seperti itu kurang baik buat kesehatan Jen."


" Iya mama...kan tadi mama bilang, belum tentu sebulan sekali Jenny makan pizza."


" Yup....kalau bisa sih justru dihindari."


" Jadi nggak nih mah nraktir pizza? kayak nggak ikhlas gitu?"


" Lha ini kan lagi mau kesana Jen...bawel amat!!"


" Hihihi....biasanya anak kan nurun orang tuanya mah."


" Yeee...tapi mama nggak sebawel kamu non."


" Iya mamaku sayang, cuma beda tipisss..."


Tak lama Maya dan Jenny sudah duduk manis di dalam stand pizza sembari menunggu pesanan mereka.


Maya ingat sedari tadi dia mematikan internetnya. Kemudian diambillah benda segi empat itu dari dalam tas. Namun sebelum menghidupkan jaringan internet, Maya terlihat mengernyitkan dahi sedikit, ada banyak panggilan tak terjawab, dan juga chat masuk.


" Apa-apan ini??"


" Apa sih maksud Yuda?"


" Menepati janji?? janji yang mana??"


" Ahhhh...ada yang salah ini pasti." Maya telihat komat kamit sendiri.


" Mah....kok ngomong sendiri sih?" Tanya Jenny pura-pura tidak tau apa-apa.

__ADS_1


Maya tidak menjawab, dan dia sibuk membalas chat dari Yuda.


__ADS_2