CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BERSAMA DIKA 4


__ADS_3

" Udah jam 11 malem, kamu nggak pulang ke rumah lagi?"


" Nggak Dik, tanggung, aku udah dp hotel buat 2 hari ke depan."


" Hahaha gila kamu, lebih sayang dp hotel daripada sayang istri."


" Bukan gitu juga, nanti kalau marahku belum reda, aku malah emosi kalau lihat wajah dia."


" Keras amat sih hatimu itu, perlu diruqiyah mungkin Yud, biar setannya kabur."


" Sekali-kali kasih pelajaran Arin biar tau rasanya dicuekin suami."


" Hahaha..tapi kayaknya kamu udah sering banget kasih dia pelajaran, setiap ada masalah kan kamu selalu diemin dia, lama kelamaan justru dia kebal Yud, kayak sekarang ini, dia nggak telfon kan kamu ada dimana?"


" Iya juga, kenapa aku nggak mikir itu ya? udah seminggu lebih aku nggak tidur di rumah, dan cuma pulang sebentar, tapi Arin nggak telfon atau wa nanyain keberadaanku sama sekali? ada apa ya dia?"


" Ahhhh mungkin dia sok jual mahal aja, dan dia pikir biar aku yang duluan minta maaf ke dia, hehhh jangan harap ya." Yuda berbicara sendiri dalam hati.


" Heiii...kenapa diam? lagi mikir ya, kok Arin nggak nyariin kamu? hati-hati Yud, itu tanda-tanda wanita mulai menunjukkan powernya.


" Power apaan? Power Ranger?"


" Kamu tuh nggak percaya dibilangin, awas aja digondol setan baru tau rasa kamu."


" Setan kepala item maksudnya?"


" Iya kepala item dan berkumis hahaha."


" Ya kalau sampai dia berani begitu, berarti udah hebat dia."


" Hei jangan sok merasa menang mentang-mentang kita laki-laki, coba aja nanti, ditinggal istri sebulan aja bakalan kebaran jenggot kita man. Perempuan itu lebih punya keberanian hidup sendiri dibanding kita, jadi jangan sombong."


" Siapa juga yang sombong, kalau Arin berani kayak gitu, berarti dia lebih bodoh dari perkiraanku. Apapun dan bagaimanapun kuatnya dia hidup tanpa aku, masih lebih baik seorang wanita itu hidup bersama dengan suaminya dibanding menjanda."


" Tapi bukan suami kejam macam kamu hahaha!"


" Ahhh..sialan kau."


" Udah ah ayo pulang, udah malam nih!!"

__ADS_1


" Masih juga jam 11, buat pria dewasa kayak kita ini masih cukup sore Dik."


" Maksudmu pria dewasa yang sedang kesepian seperti kamu, dan bukan aku ya hahaha." Kata Yuda sambil berdiri.


" Pulang beneran nih?"


" Ya iyalah, emangnya bang toyib, suka lupa pulang."


" Tega nih biarin aku sendirian? Nggak khawatir aku diculik?"


" Hahaha.. mana ada orang mau nyulik kamu, palingan juga banci kaleng yang mau sama kamu."


" Issshhh sialan!!"


" Udah ya, aku cabut duluan." Sembari mengambil kunci mobil yang ada di hadapannya.


" Ok, makasih!"


" Sana-sama."


Dika kemudian meninggalkan cafe, tinggal Yuda sendirian menikmati segelas kopi yang baru saja dipesannya kembali. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, yang jelas dia belum tau kapan kemarahannya bisa reda, dan kapan bisa memaafkan Arin, perempuan yang telah dinikahinya beberapa tahun yang lalu, dan telah mengabdikan seluruh hidupnya buat Yuda, laki-laki yang diharapkan bisa membawanya ke dalam sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Laki-laki yang diharapkan bisa membimbingnya menjadi seorang wanita yang sholehah, yang bukan hanya cantik wajahnya, namun juga cantik hatinya


" Belum ngantuk yank?" Sambil mata Brian sebentar-sebentar menatap ke arah pintu rumah yang tepat berhadapan dengan gazebo yang dia duduki sekarang.


" Belum, kenapa?" Sambil melirik jam yang ada di dinding kamarnya, tepat pukul 23.45.


" Nggak papa, kok matanya masih bening gitu?"


" Iya tadi siang tidur lama banget."


" Kok kayaknya gelisah gitu? ada apa?" Arin melihat Brian yang duduknya terlihat tidak tenang, dan matanya yang tidak fokus menatapnya.


" Takut istrimu datang ya? Ya udah matiin aja." Kata Arin jengkel. Padahal baru 5 menit yang lalu Brian menelfonnya.


" Mirna akhir-akhir ini sering bangun tengah malem."


" Kenapa? apa dia curiga sama sikap kamu?"


" Nggak tau juga sih. Aku cuma khawatir aja, tiba-tiba aku lagi telfon gini, dia dateng kesini."

__ADS_1


" Ya udah kalau gitu nggak usah telfonan lagi." Arin mulai bete.


" Lho kok ngomong gitu?"


" Ya daripada resiko."


" Jangan marah dong, ya kan kalau misal ketahuan hubungan kita malah berakhjr yank. Kamu tau kan situasinya?" Arin sangat tau. Tapi saat ini Arin sedang butuh Brian, dan ada rasa sedikit marah saat dia merasa dinomorduakan oleh Brian, walaupun pada kenyataan memang seperti itu.


Tiba-tiba Brian melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Dia terkejut bukan main. Terlihat Mirna berjslan ke arahnya.


" Eh ada istriku, tutup dulu ya." Kata Brian dan langsung mematikan hpnya tanpa persetujuan Arin. Rasa bete Arin lengkaplah sudah. Dilemparkan hpnya di atas kasur. Dadanya berdegup keras, pertanda sedang menahan emosi yang hampir meledak.


" Ngapain sih mas tiap malem jagain gazebo? betah amat?" Tanya Mirna sembari duduk di sebelah Mirna.


" Dengerin musik." Alasan Brian sambil melepas headset yang ada di telinganya.


" Kamu juga ngapa ikut-ikut nggak tidur? masuk sana!"


" Tadi kebangun mau tidur lagi nggak bisa." Kata Mirna sambil membenahi kerah bajunya yang longgar.


Brian cuma melirik istrinya yang ada di sebelahnya. Penampilannya yang bisa dibilang " "kucel of the buluk" membuat Brian hanya menarik nafas saja. Apalagi kondisi rambut Mirna yang acak-acakan dan tidak disisirnya saat bangun tidur tadi.


" Kamu kok keluar pakai baju itu lho." Kata Brian yang melihat istrinya memakai baju tidur tanpa lengan.


" Panas mas, lagian juga malam nggak ada yang lihat ini."


" Kamu pikir walaupun malam nggak ada orang lewat?"


" Ahhh nggak ada yang merhati'in lah mas."


" Ada ataupun nggak ada orang yang memperhatikan, tetep nggak pantas kamu keluar pakai baju kayak gitu. Okelah kalau di rumah nggak papa, cuma anak-anak dan aku aja yang tau, tapi ini di luar Mirna!"


" Apaan sih mas ih...!!"


" Kamu itu kalau dikasih tau suami masalah penampilan nggak pernah mau nurut kenapa sih??" Kata Brian sambil berjalan meninggalkan Mirna. Hatinya jengkel bukan main karena Mirna nggak pernah mau mendengar masukan dari Brian.


" Mass...kok pergi sihhh....!!"


Brian tidak mendengarkan teriakan Mirna dan terus berjalan masuk.

__ADS_1


__ADS_2