CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTENGKARAN 3


__ADS_3

Benar yang diperkirakan Arin, selama satu minggu lebih Yuda mendiamkannya. Bahkan tidak pernah makan di rumah. Namun Arin tidak perduli, karena dia ingin memberikan pelajaran pada Yuda, dan berharap dia bisa menyadari kesalahannya. Toh walaupun jika sedang tidak marah, sikap Yuda tidak ada manis-manisnya sedikitpun pada Arin, jadi apa bedanya dengan Yuda marah seperti ini, pikir Arin.


Jika sudah marah, Yuda akan betah diam berhari-hari. Dia tidak memikirkan, bahwa akan berdosa seorang suami yang mendiamkan istrinya lebih dari 3 hari. Yuda yang selalu mengeluarkan senjata ampuhnya, bahwa dalam agama yg dianutnya, seorang laki-laki adalah pemimpin, dan sudah sepatutnya seorang istri patuh padanya. Padahal sikap Yuda tidak mencerminkan seorang suami yang sesuai dalam ajaran agama. Tidak bersikap lembut pada istri, dan tidak memikirkan bagaimana seharusnya memperlakukan seorang istri dengan baik. Yang Yuda pikirkan hanyalah, bahwa dia seorang suami, apapun perintahnya seorang istri tidak boleh sedikitpun membantahnya.


Itulah mengapa begitu penting untuk mengetahui secara jelas tentang aturan dalam agama. Bukan hanya mempelajari hal-hal yang disenangi dan menguntungkan diri sendiri saja, dimana niatnya hanya untuk dijadikan alasan kuat dan memperkokoh dirinya untuk selalu berada di atas angin ketika bersiteru dengan istri. Karena dalam islam, semuanya memiliki aturan. Begitupun marah dengan pasangan. Segala sesuatu jika hanya diketahui separuh-separuh itu akhirnya akan jadi salah kaprah dan akan berbuat semaunya sendiri.


Arin seperti sudah menyerah pada keadaan. Stok kesabarannya sudah mencapai ambang kritis. Hati dan cintanya yang telah terbagi seperti memberikan kekuatan dirinya untuk berani mengambil resiko besar pada pernikahannya.


Arin mulai bisa berdamai dengan situasi yang sedang dihadapinya. Tidak lagi pusing dengan sikap Yuda yang cuek padanya. Mereka tinggal satu atap, tapi seperti hidup sendiri-sendiri. Yang Arin pikirkan saat ini adalah Flo. Yang penting Yuda masih bertanggung jawab, dan Arin tetap tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri itu saja. Komunikasinya dengan Brian yang terus berlanjut, bisa melupakan semua permasalahan rumah tangganya.


" Jadi udah berapa hari Rin??"


" Ya semenjak kepulanganku dari sini mbak."


" Astagfirullah hal adzim!! Satu minggu lebih Rin!!"


" Kalau nggak salah hitung sih begitu mbak." Jawab Arin santai sambil menimati makanan yang disediakan kakaknya.


" Kamu harus ngalah Rin. Minta maaf sama suamimu!!"


" Ngalah lagi mbak?? Nggak!!"


" Harus Rin!!"


" Nggak mbak!!"

__ADS_1


" Udah bertahun-tahun aku ngalah, bahkan aku udah kayak alas kaki yg terus dia injak. Tapi mana mbak? Bukannya berubah, tapi dia justru semakin merasa besar kepala, seolah aku ini nggak ada artinya apa-apa di mata dia."


" Rin...kalau nunggu Yuda yang ngalah, sampai tahun monyet juga ga bakalan dia mau ngalah, kamu justru bisa membawa rumah tanggamu di ambang kehancuran. Mbak tau Yuda, dia bisa melakukan apa saja demi harga dirinya."


" Ya udah, biar aja kalau memang dia maunya begitu. Seolah cuma aku yang harus mempertahankan rumah tanggaku, dan dia nggak. Dalam rumah tangga kalau cuma satu orang yang berjuang dan nggak diimbangi dengan pasangannya, percuma mbak. Suatu hari nanti bakalan hancur juga."


" Huuusss...ngomong apa sih kamu??"


" Ya memang begitu kan mbak? Coba mbak pikir, setiap ada masalah aku harus ngalah, ada masalah lagi, aku yang diam. Saat aku melawan dan mencoba menyadarkan dia, dia marah, terus menyerahkan semua sama aku kelanjutan rumah tangga ini. Akhirnya aku ngalah lagi, sampai tahun gajahpun nggak bakalan sadar dia mbak, justru semakin menjadi."


" Sekarang posisinya aku balik, terserah dia maunya apa, aku lihat gimana reaksi dia. Kalau dia memang maunya berakhir, berarti dia memang nggak mau berubah, dan lebih mengorbankan rumah tangga kami, itu aja."


" Kamu bukan seperti Arin yang mbak kenal."


" Yang mbak tau, kamu itu orang yang paling nggak betah kalau ada yang marah sama kamu, tapi kali ini kenapa kamu beda?"


Arin diam. Jangan sampai Sisi tau bahwa dia memiliki sebuah kekuatan luar biasa yang membuatnya bisa sebegitu berani mengambil sebuah resiko besar dalam rumah tangganya.


" Kenapa diam?"


" Aku cuma berpikir, mungkin karena aku udah lelah dengan sikap dia, dan perasaan ini numpuk karena sering dia perlakukan begitu mbak." Jawab Arin beralasan.


" Apapun alasannya, tetap nggak dibenarkan seorang istri melawan suami Rin, dosa besar Rin."


" Nggak bisa begitu juga dong mbak. Semua terjadi karena ada penyebabnya, masak cuma aku yang menanggung semua itu?"

__ADS_1


" Udahlah Rin, minta maaf sama suamimu, masak kamu nggak sedih terus diam-diaman kayak gini?"


" Biar aja mbak. Aku malah bisa enjoy, dan nggak pernah dimarahin kalau aku pergi kemana aja."


" Tapi dia jadi nggak perduli sama kamu, rumah tangga kamu bisa hancur Arin!!"


" Apa bedanya sama sebelumnya mbak? sebelumnyapun aku udah kayak hidup dalam neraka, aku udah hancur, dan setiap hari aku merasa seperti diancam mbak dengan segala sikapku yang menurutnya nggak pernah benar!"


" Rin, setiap rumah tangga itu punya masalah sendiri-sendiri. Ada yang bersumber dari ekonomi, dari anak, dari orang tua, dari pihak ketiga, dan permasalahan kamu ini sumbernya dari suamimu. Jadi kamu harus bisa mengatasinya."


" Hidupmu itu udah sangat sempurna. Kamu tinggal menikmatinya, jangan sampai semua yang dulu kalian perjuangkan bersama menguap gitu aja."


" Mbak, aku tau itu. Tapi coba mbak pikir, aku itu menikah dengan dia supaya bisa menjalani kehidupan ini bersama, berjalan beriringan, saling menguatkan tanpa ada salah satu yang merasa terintimidasi. Dan itu yang aku alami sekarang. Suamiku yang seharusnya jadi satu-satunya orang yang melindungiku, menjadi tempat keluh kesahku, justru jadi sumber masalahku yang akhirnya menyebabkan aku seperti orang bodoh dan takut berbuat apa-apa. Lalu harus bagaimana aku mempertahankan perasaanku padanya mbak?"


" Seharusnya dalam rumah tangga itu, istri bisa jadi obat disaat suami memiliki masalah, begitupun sebaliknya, bukannya jadi tempat pelampiasan kemarahan. Aku itu di rumah seharusnya jadi tempat tujuan dia pulang dalam arti yang sebenarnya. Dia itu nggak mbak. Kalau dia sedang ada masalah, melihat aku kayak melihat musuh. Aku tanyain malah aku yang dimarah. Jadi fungsiku sebagai seorang istri itu apa? atau cuma buat tempat pelampiasan kemarahan? apa cuma buat disuruh-suruh ke atm transfer uang? apa cuma buat disuruh bikinin kopi? cuma itu? kalau cuma itu, Bik Asih juga pinter mbak."


Sisi menarik nafas panjang. Dia iba dengan kondisi adik satu-satunya itu. Padahal Arin dulu adalah anak yang ceria, suka berpetualang kemana saja, selalu aktif di organisasi sekolah dan kampusnya. Namun sekarang, dia seperti seekor burung yang berada di sangkar emas. Punya sayap tapi tak bisa terbang.


" Rin, mbak paham yang kamu rasakan. Tapi kita itu perempuan. Perempuan itu terkadang harus tetap bertahan dengan rasa sakit, walaupun pada akhirnya dia mati dengan kesakitan itu. Namun satu hal yang harus kita ingat, pengorbanan kita tak akan pernah sia-sia, karena ada alasan kuat kita melakukan semua itu. Ada kehidupan lain yang kita perjuangkan, yaitu anak-anak kita dan orang-orang yg hidupnya bergantung dengan kita Rin." Kata Sisi pelan sambil menggenggam tangan adiknya.


Arin menatap kedua bola mata kakaknya. Mengingat semua kejadian saat mereka tumbuh bersama. Saat begitu bahagia dengan masa remaja mereka. Penuh tawa dan ceria. Arin lalu memeluk kakaknya. Sisi membelai rambut adiknya.


" Kuat ya Rin, demi Flora dan keluarga kita yang bergantung padamu." Kata Sisi lagi.


Benar yang dikatakan Sisi. Banyak keluarga Arin yang tidak mampu telah dibantu dan ditopang kehidupannya oleh Yuda. Bersyukurnya Arin, Yuda bukan tipe suami pelit. Namun keburukan Yuda adalah, jika pria itu sekali dibantah, maka dia tidak akan mau perduli lagi dengan kesusahan mereka. Makanya, walaupun sebenarnya banyak saudara Arin yang tidak suka dengan sikap keras Yuda, namun karena Yuda sudah banyak membantu, maka mereka hanya diam saja, dan pasrah dengan semua aturan yang diberlakukan oleh Yuda.

__ADS_1


__ADS_2