
Setelah selesai mandi dan merapihkan diri, Arin segera menemani suaminya di ruang tamu. Sebuah bungkusan diberikan pada Yuda yang sedang asyik bermain hp.
" Nih mas buat mas."
" Apa ini?"
" Buka aja."
Yuda kemudian membuka bungkusan tersebut. Sebuah kemeja branded warna biru marun pilihan Arin sengaja dibelinya untuk Yuda di rumah.
" Ohhhh baju, makasih ya." Kata Yuda kemudian diletakkan di atas meja di depannya.
" Kok nggak dicoba, nggak suka ya?"
" Suka kok, nanti aku coba."
" Aku kan pengen lihat mas, pantes apa nggak."
" Apa ukurannya?"
" L."
__ADS_1
" Ya udah berarti cukup." Kata Yuda sambil matanya tetap di layar hp.
" Kamu tuh mas, apa nggak bisa sih menghargai pemberian istri? padahal aku sengaja beliin ini buat kamu, biar kamu seneng, eh jangankan dicoba, dibuka lipetannya aja nggak!" Kata Arin dalam hati.
Arin kemudian mengambil baju yang masih terbungkus rapi dalam plastik tersebut, membukanya, dan membuang semua merknya, kemudian melipatnya rapih.
" Selama aku nggak ada di rumah, makannya gimana mas?" Tanya Arin membuka percakapannya.
" Ya belilah!!" Jawab Yuda singkat sambil terus asyik dengan hpnya.
" Kenapa nggak nyuruh masakin Mbak Asih aja? kan lebih gampang."
" Enak di warung banyak pilihan, nggak perlu pusing mikirin menu."
" Kok tumben mau beli sendiri ke warung? gitu aja kalau aku sakit, nggak mau pergi sendiri cari makanan." Kata Arin sambil bercanda.
Yuda melirik sadis pada Arin, raut mukanya berubah jengkel.
" Ohhhh jadi nggak mau nih ngelayanin aku sekarang?"
" Ehhh bukan gitu mas, maksud aku...."
__ADS_1
" Udah...udah...!! bikin mood hilang aja!!" Sambil berdiri, meninggalkan Arin sendirian dan menuju ke tempat duduk yang ada di halaman samping rumahnya.
Selalu begitu, jika mengobrol dengan Yuda sedikit lama, pasti selalu berakhir dengan ketegangan. Pria itu tidak bisa diajak bercanda sedikit saja. Tidak ada ide, tidak ada pendapat, tidak ada protes. Intinya Arin harus diam, nurut, dan nerimo.
" Orang kok gampang banget marah!"
Arin menarik nafas panjang, membiarkan Yuda pergi. Dia memencet tombol remote mengganti saluran tv, namun tak satupun siaran yang menarik. Rasanya tidak ada sedikitpun cara untuk membangun hubungan, agar dia dan Yuda bisa semesra dulu lagi.
Andai saja Brian sendiri, mungkin Arin sudah meninggalkan Yuda, dan memilih hidup bersama Brian. Rasanya sudah tidak mampu lagi dia hidup dengan kondisi yang tegang seperti ini setiap hari.
Padahal sepulangnya dari pertemuannya dengan Brian, jiwa Arin benar-benar rapuh, dan merasa kesepian. Dia butuh seseorang yang bisa menguatkan. Namun sebaliknya, Yuda justru semakin memperkeruh suasana hatinya, yang membuatnya semakin rindu pada Brian.
Arin mematikan tv, dan langsung masuk ke kamar. Hatinya tiba-tiba begitu sedih, dan akhirnya dia menangis. Dia teringat semua saat-saat bersama Brian. Dia rindu senyum laki-laki itu, rindu candaannya, rindu kekonyolannya, rindu tatapan matanya, rindu segalanya. Waktu yang begitu singkat menorehkan kenangan yang begitu sulit dilupakan, apalagi disaat Arin sedang rapuh seperti ini.
Tiba-tiba Yuda masuk ke dalam kamar, Arin terkejut dan buru-buru menyeka air matanya.
" Aku lupa mau ajak kamu ke pesta temenku, aku tunggu 10 menit ya, kamu siap-siap." Sambil membuka lemari, dan memilih satu stel pakaian.
" Iya mas."
Arin tidak membantah sedikitpun. Padahal baru 2 jam yang lalu dia tiba di rumah. Badannya lelah dan ingin istirahat, karena semalam dia hanya tidur sebentar. Namun perintah suaminya mengharusnya dia untuk segera bergegas.
__ADS_1
Arin sudah membayangkan akan sangat lelah di sana nanti, apalagi pestanya standing party, ditambah harus beramah tamah dengan teman-teman Brian yang tidak banyak dikenalnya, pasti itu akan sangat menjemukan. Dan yang lebih menyebalkan, Yuda selalu sok mesra dan perhatian di hadapan teman-temannya itu, agar mereka mengira bahwa keluarganya harmonis. Akting yang sungguh luar biasa, namun Arin justru merasa risih dengan sikap Yuda yang dibuat-buat itu.