CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENINJAU LOKASI


__ADS_3

Pagi ini Arin terlihat telah berdandan rapih. Dia berencana meninjau lokasi ruko yang akan disewa untuk tempat usahanya. Setelah beberapa hari merenung, Arin bertekad untuk membuka sebuah usaha sendiri. Berbagai pertimbangan telah dia pikirkan matang-matang.


" Kriiinggg...!!"


" Assalamualaikum?"


" Ohhh iya, aku berangkat sekarang ya."


" Oke...nanti tunggu aja di sana."


Tanpa berlama-lama lagi Arin segera menuju garasi dan mengeluarkan kendaraannya. Tidak sampai 15 menit, Arin telah tiba di lokasi. Tempat yang disewanya cukup strategis, dan mudah dijangkau oleh semua pejalan kaki.


" Heiii...!!"


" Lama banget sih?"


" Ya maaf...aku pikir kamu baru berangkat jam 8, ternyata jam 8 nyampe di sini. Makanya kalau bikin janjian yang jelas."


" Yeee...malah nyalahin. Calon pengusaha sukses itu harus tepat waktu, jangan ngaret begini."


" Hiiihihi....maaf!!"


" Gimana? mantap nggak tempatnya?"


" Iya...siplah. Pinter juga kamu cari lokasi."


" Ya iyalah...informanku kan dimana-mana." Jawab Arin.


" Terus harga udah nego belum?"


" Udah...tapi kan kamu harus lihat tempatnya dulu, kalau setuju, baru aku bayar."


" Oke ini aja, aku yakin untuk merintis usaha awal, tempat ini menjanjikan."


" Sipp..nanti aku telfon yang punya ruko."

__ADS_1


" Jadi kapan kamu isi barangnya?"


" Terserah kamu kapan siapnya?"


" Aku harus pesan beberapa rak dulu, nanti kalau udah selesai baru kamu isi barang."


" Nggak usah pesen, kelamaan. Beli yang udah jadi aja, lagian barang kita nggak perlu rak banyak-banyak, palingan buat tempat kayak bantal-bantal dan guling aja. Kalau kasur dan ranjang kan tinggal di pajang di sini."


" Ohhh iya...ya udah tar kalau udah siap aku hubungi kamu lagi."


" Oke."


Arin ternyata telah bekerjasama dengan teman lamanya, Alya. Dia memiliki bisnis furniture cukup terkenal di kota itu. Dan berdasarkan kesepakatan, Alya bersedia membantu Arin untuk mengisi tokonya, dengan perjanjian bagi hasil.


Arin dan Alya berjalan mengelilingi ruko tersebut, cukup besar dan luas. Rasanya Arin sudah tidak sabar untuk segera membuka usahanya itu.


" Tempat ini lumayan bagus lho Rin, kok nggak ada yang nempatin ya?"


" Ya kalau toko sebesar ini, kalau barang yang dijual itu nggak sekalian banyak dan beragam, pasti nggak sesuai sama biaya kontraknya dong Al, dan itu butuh modal yang sangat besar. Aku juga kalau nggak kamu modalin barang gratis, mana mampu langsung ngisi toko sebesar ini."


" Yeeee..kamu pikir uangku nggak berseri?"


" Kan kamu punya suami tajir?"


" Buat modalin aku buka toko begini?"


" Ya iyalah."


" Jangan harap ya dia mau ngeluarin uang sepeserpun buat aku buka usaha. Yang ada malah aku diomel-omelin panjang kali lebar."


" Hahaha...gitu nekad mau buka toko, udah tau suami nggak ngijinin."


" Biarlah Al, lagian kan nggak sesibuk kalau kerja sama orang ataupun di kantor."


" Kamu sih dari dulu aku ajak join nggak mau. Tinggal sediain tempat aja, udah beres. Lihat sendiri kan usahaku berkembang pesat? dan aku bisa pakai uangku buat apa aja sesuka hati tanpa harus merepotkan suamiku."

__ADS_1


" Bukannya nggak mau Al, tau sendiri suamiku kan dia nggak pernah ijinin aku buat kerja."


" Tapi pekerjaan kamu ini kan kamu sendiri yang menghandlenya, jadi kamu bisa atur waktu sesuka kamu."


" Iya sih, tapi tetap aja dia nggak ngijinin."


" Lalu sekarang kenapa dia ngijinin?"


" Dia belum tau?"


" Muke gile!!! Kok berani kamu sewa ruko ini kalau Yuda belum tau??" Lalu Arin bercerita panjang lebar.


" Yuda dari dulu nggak berubah, masiiihhh aja egois dan mau menang sendiri." Kata Alya pelan.


" Ya begitulah Al, dan saat ini aku harus memulainya, karena aku takut nggak bisa bertahan dengan situasi rumah tanggaku yang seperti ini."


" Hehhhh...sabar ya Rin, mungkin ini cobaan buat rumah tanggamu dengan Yuda."


" Iya Al, aku selalu mencoba sabar, walaupun kadang aku merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa "


" Jangan ngomong begitu Rin. Belum waktunya kamu menuai hasil dari kesabaranmu, percayalah, pasti akan berbuah manis pada waktunya."


" Amiinn...doain aja aku masih bisa bertahan Al."


" Yuupp...kamu bisa Rin, karena aku tau kamu itu orang yang tegar dan kuat. Dari dulu aku sangat mengenal watakmu, yang nggak gampang menyerah dalam situasi apapun."


" Yahhh semoga saja jiwa fightingku belum luntur." Jawa Arin pelan sambil terus menyusuri seluruh penjuru ruko yang akan ditempatinya.


" Ehhhh...tapi usahamu ini jangan kamu jadikan niat kamu untuk jaga-jaga kalau pisah sama Yuda lho."


" Ya enggaklah Al. Yang utama itu aku ingin punya kesibukan daripada diam di rumah, yang penting positif."


" Yuuppp setuju. Positif dan menghasilkan."


" Amiinn."

__ADS_1


__ADS_2