
" Apaaa!!! Bodoh!! Kenapa bisa sampai bocor ke aparat??? Aku kan udah wanti-wanti dari awal di pertemuan kemarin!!! Jangan sampai ada masalah!!!" Spontan Yuda berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat begitu marah. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya terkepal erat. Seketika emosinya langsung naik ke ubun-ubun.
Spontan asisten Yuda menjauhkan hpnya. Gendang telinganya terasa mau pecah saat mendengar teriakan Yuda.
" Iya pak. Awalnya sih nggak ada masalah, tapi ternyata ada salah satu anak penduduk yang punya jabatan di pemerintahan, dan orang tuanya melaporkan bapak dengan dalih penyuapan." Jawab asisten Yuda takut-takut.
" Penyuapan??? Kapan aku menyuap penduduk sana??"
" Bukan bapak, tapi orang-orang yang kita kumpulkan malam itulah yang menyuap mereka dan meminta untuk menandatangani surat pembebasan lahan, saat ada aparat datang mereka justru menyeret nama bapak!!"
" Bodoh!!! Bodoh sekali mereka!! Kamu bilang mereka itu orang-orang berkompeten, buktinya apa?? malah bikin hancur semuanya!!"
" Aku kan tidak menyuruh mereka menyuap!! Aku hanya memberikan uang untuk biaya mereka saat mengurus surat persetujuan warga saja!!"
" Maaf pak. Mereka sebenarnya sudah menggunakan cara halus dan mengadakan rapat tertutup. Awalnya para warga setuju dan semua berjalan baik-baik saja, namun karena ada penduduk yang tidak suka, dan kemudian dia melapor pada anaknya itu."
" Ahhhhh.....sialan!!!"
" Maaf pak sekali lagi, ini di luar prediksi kami. Orang suruhan kita diancam, akhirnya dengan terpaksa mereka mengaku bahwa bapaklah dibalik ini semua, dan mereka ingin menaikan masalah ke atas pak!!" Sembari melihat satu persatu perwakilan warga, muka mereka terlihat pucat saat samar-samar mendengar teriakan Yuda dibalik telfon.
" Ahhhh aku tidak mau namaku ikut terseret!! Pasti akan panjang urusannya kalau melibatkan aparat." Kata Yuda berapi-api.
" Kamu sekarang ada di mana?"
" Di lokasi bersama mereka berempat pak."
" Okkk....kamu harus segera pergi dari sana. Karena pasti mereka akan semakin mencari banyak bukti untuk menjatuhkan kita. Untuk sementara ini katakan pada orang-orang itu untuk jangan dulu melakukan pergerakan."
" Baik pak."
" Tugas kamu sekarang cari info sebanyak mungkin orang yang telah melaporkan kita. Cari kelemahannya, aku yakin dia pasti bukan orang yang bersih-bersih amat dari dosa. Kita pojokan dia dengan kelemahannya sehingga nanti dia tidak bisa berbuat apa-apa pada kita."
" Jadi bapak ingin menekan Pak Surya??"
" Surya??? jadi itu namanya?"
__ADS_1
" Iya pak. Pak Surya ternyata memiliki jabatan lumayan tinggi, kita sepertinya harus kerja keras agar dapat menemukan kelemahannya."
" Justru itu kemenangan kita."
" Maksud bapak??"
" Ahhh kamu seperti tidak tau permainan kotor orang-orang di atas sana. Semakin tinggi jabatan mereka, maka akan semakin banyak kelemahan yang bisa membuatnya mudah terguling hahaha." Tawa Yuda terdengar mengerikan. Seolah dia sudah mendapatkan ide brilian untuk mengatasi persoalannya itu.
" Ingat!! Cari info sebanyak-banyaknya. Bayar berapapun yang bisa memberikan informasi penting tentang Surya, dan pastikan itu nanti bisa kita jadikan senjata untuk menekan dia."
" Baik pak. Saya akan secepatnya mendapatkan info itu."
" Ya harus cepat!! Karena jika tidak, kita bisa terlambat menghalangi dia untuk menaikkan kasus ini ke atas."
" Siap pak!!" Jawab asisten Yuda kemudian.
Yudapun segera mematikan hpnya tanpa konfirmasi seperti biasa.
" Hallo...hallo....!!" Panggil asisten Yuda di seberang sana.
Namun tiba-tiba dia berbalik lagi.
" Kalau ada aparat kemari yang tanya macam-macam, jawab yang seperti saya ajarin tadi ya. Ingat!! jangan sampai ngomong yang aneh-aneh lagi!! Karena pasti kalianpun nanti tidak akan selamat seandainya kasus ini sampai di meja hijau."
" Baik pak." Jawab mereka serempak.
" Sialan!! Kenapa semua bisa di luar prediksi!! Aku tidak ingin semuanya gagal. Biaya yang kukeluarkan sudah sangat besar, aku juga sudah berjanji pada Maya untuk segera merealisasikan semuanya dalam waktu dekat ini, tapi kenapa justru terkendala dengan lokasi bangunan??" Omel Yuda sendiri merasa geram dengan campur tangan aparat.
Tidak biasanya Yuda teledor terlebih jika itu menyangkut sebuah pekerjaan. Biasanya dia akan sangat prepare dan berhati-hati, namun entah kenapa kali ini dia begitu ambisius untuk segera mendirikan usahanya, padahal dia belum mengantongi ijin untuk mendirikan pabriknya.
Yang ada di otaknya saat ini adalah Maya, bagaimana dia bisa sesegera mungkin memiliki sebuah ikatan kerja dengan Maya sehingga secara tidak langsung dia akan dapat dengan mudah menghubungi mantannya itu dengan dalih urusan pekerjaan.
" Kriiing...kringgg..!!" Yuda terlihat menelfon seseorang.
" Hallo!!" Suara seorang perempuan menyambutnya.
__ADS_1
" May??" Ternyata lagi-lagi Yuda menghubungi Maya. Di saat situasi sedang genting seperti ini, bukannya segera mencari solusi untuk menyelesaikan masalahnya malah sebaliknya, Yuda justru kembali menghubungi Maya.
" Ada apa Yud??"
" Lagi ngapain kamu?"
" Ini aku lagi cek barang yang baru dateng."
" Cek barang lagi? Baru seminggu yang lalu kamu belanja, sekarang udah belanja lagi?"
" Alhamdulillah Yud, butikku lagi ramai, stok barang udah mulai menipis."
" Wahhh...hebat kamu. Kamu memang cocok bisnis di bidang fashion. Aku yakin usaha kita nanti bakal berkembang pesat kalau kamu yang menghandle."
" Amiin...tinggal lihat nanti aja Yud. Karena memasarkan kuota banyak itu pasti lebih sulit dan butuh proses lebih lama."
" Tapi aku percaya kamu mampu. Karena kamu udah handal di bidang itu."
Maya hanya mengangguk-ngangguk saja, sambil sesekali memberi arahan pada para pekerjanya untuk segera memberikan kode pada barang yang baru saja tiba.
" Oh iya bagaimana perkembangan rencana pabrik kita?? ada kendala??" Tanya Maya.
" Jangan khawatir, kamu tinggal duduk manis, dan tunggu semuanya selesai. Karena proses pendirian pabrik ini semua urusanku, kamu tau beres aja."
" Oh ya?? Jadi tugasku apa selaku mitramu?"
" Nanti kalau sudah mulai operasi, tugasmu banyak May, dan itu tanggung jawabmu."
" Jadi nanti aku yang menghandle semuanya??"
" Yup!! Tapi aku tetap ada di belakang layar dong. Lagian kamu kan lebih paham fashion yang sesuai selera masyarakat, jadi aku yakin kamu bisa membuat usaha kita berkembang pesat." Kata Yuda berusaha meyakinkan Maya.
" Hahaha...enak banget ya jadi aku? nggak perlu ikut urusan ini itu, taunya beres aja dan siap jadi bosnya!!" Merasa lucu dan tau bahwa ini memang akal-akalan Yuda untuk lebih dekat padanya.
Namun jauh sebelumnya Maya sudah memutuskan, berhubungan dengan Yuda hanya urusan bisnis tidak lebih. Semua dilakukan demi masa depan anaknya. Walaupun Yuda memiliki niatan lain, namun dia akan tetap menjaga jarak dengan mantannya yang sudah berkeluarga itu.
__ADS_1