
Yuda sekali lagi mematut diri di depan cermin, kemudian dia menyemprotkan sedikit parfum ke area tubuhnya, parfum yang wanginya sangat digemari oleh Arin, dan selalu Arin yang membelikan jika dilihat stoknya sudah mulai habis. Setelah dirasa cukup rapih, diapun segera meninggalkan kamar hotel. Siulan terdengar dari bibirnya. Entah lagu apa yang sedang didendangkan oleh pria yang hendak bertemu sang mantan itu, namun terlihat sekali bahwa hatinya sedang bahagia.
" Hehhhhh...sudah lama sekali aku tidak mengobrol dengannya, apakah dia masih asyik seperti dulu? ahhh aku rasa dia belum berubah, karena aku lihat senyumnyapun masih sama seperti dulu." Kata Yuda dalam hati, sembari mengingat-ingat saat kebersamaan mereka dulu.
Selama perjalanan ke rumah Maya, Brian terlihat sumringah sekali. Dia yang biasanya paling malas jika disuruh keluar disaat suasana sedang macet, apalagi weekend seperti sekarang, namun pengecualian untuk malam ini. Ramainya jalanan sepertinya mewakili hati Brian yang juga sedang gembira. Dia membayangkan akan bertukar cerita banyak hal dengan Maya.
Maya dulunya adalah sosok yang ceria dan asyik untuk diajak mengobrol. Yuda sangat cocok bersama Maya. Dia selalu bisa mengimbangi setiap pembicaraan Yuda. Maya yang dulu begitu dipujanya, dan berharap bisa menjadi tempat pelabuhan terakhirnya, namun justru meninggalkan dia bersama laki-laki lain. Disaat keterpurukannya, datanglah Arin, sehingga Yuda bisa melupakan masa lalunya dulu bersama Maya.
Saat itu Yuda berjanji, tidak akan mungkin lagi bisa memaafkan kesalahan Maya setelah penghianatan yang dilakukannya. Namun kenyataannya, ketika beberapa hari yang lalu tanpa sengaja dipertemukan kembali, Yuda telah lupa segala sakit hatinya, dan justru sekarang dia sedang merencanakan ingin bernostalgia bersama Maya.
Yuda membelokkan mobilnya pada sebuah gang perumahan yang cukup asri, dimana sepanjang kiri kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan. Yuda berhenti di sebuah rumah yang dulu sering dikunjunginya. Masih sama bentuk bangunannya, hanya saja pohon mangga yang dulu ada di depan, dimana saat itu Yuda dan Maya sering duduk di bawahnya sembari bercengkerama, ternyata sudah tidak ada. Yuda berdiri lama di depan, sembari mengingat setiap moment yang dulu pernah terukir indah bersama sang mantan. Yuda tersenyum sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Pelan-pelan Yuda melangkahkan kakinya. Pagar yang terbuka lebar, tidak menghalanginya untuk terus masuk ke dalam. Diketuknya pintu ukir yang ada di depannya.
" Assalamualaikum."
" Waalaikum salam." Tanpa menunggu dua kali mengucapkan salam, sudah ada yang menjawabnya di dalam. Pintu terbuka lebar. Terlihat seorang wanita paruh baya di depannya. Sudah 10 tahun lebih Yuda baru bertemu wanita itu lagi sekarang. Wajahnya masih sama seperti dulu, namun sudah sedikit dihiasi kerutan di wajahnya.
Wajah ibu Arin terlihat heran dengan kedatangan Yuda yang tiba-tiba.
" Kamu Yuda kan??" Sedikit terkejut dengan kedatangan mantan kekasih anak perempuannya dulu.
__ADS_1
" Iya tante, saya Yuda. Tante ternyata masih ingat saya."
" Masih ingatlah Yud...Ya Allah....kemana aja kamu??"
" Ada kok tante, masih di kota ini juga."
" Ayo masuk sini Yud!!"
" Makasih tante."
" Silahkan duduk!!"
" Udah lama banget ya nggak kesini. Kamu apa kabar?"
" Alhamdulillah, yang penting selalu bersyukur, inshaallah sehat wal afiat."
" Anakmu berapa Yud?"
" Satu tante."
" Istrimu mana Yud?"
__ADS_1
" Ada tante, di rumah."
" Kok nggak diajak?"
" Nggak tante, sedang ada kesibukan di rumah." Yuda beralasan.
" Ohhhh..." Sambil mengangguk-angguk.
" Kok tumben inget main kesini? udah lsma banget kan? kalau nggak salah 10 tahun lebih ya?"
" Hehehe..iya tan. Maaf ya, bukan maksud ingin memutus silaturahmi, tapi...."
" Udah...yang dulu ya dulu nggak usah dibahas."
" Mayanya ada tante?"
" Ohhh iya, sebentar ya...kirain nyarin tante, ternyata Maya ya." Sambil tersenyum, lalu berjalan masuk.
" Iya tante, makasih."
Sepeninggal ibu Maya, Yuda memperhatikan sekeliling ruangan. Foto-foto yang dulu menempel di dinding, masih belum berubah posisinya. Yuda menatap sedikit lama foto satu keluarga dimana Maya masih terlihat masih remaja. Foto itu menyimpan moment yang tidak bisa dilupakannya. Saat itu dialah yang mengantar Maya menyusul keluarganya untuk berfoto di studio. Dia ingat sekali, bagaimana dia menancap gas motornya sekencang mungkin agar segera sampai karena hendak turun hujan. Dan saat itu Maya sepanjang jalan berteriak ketakutan dan berpegangan erat sekali pada pinggang Yuda. Bukannya mengurangi gasnya, justru Yuda mengambil kesempatan itu dan semakin menambah kecepatannya. Yuda kembali tersenyum sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba mata Yuda berhenti pada sebuah foto yang nampaknya belum pernah dia lihat. Maya dengan seorang gadis remaja.
" Itu pasti anak Maya, senyumnya mirip sekali denganmu May." Kata Yuda dalam hati, sembari menatap gadis cantik berambut sebahu yang berdiri di samping Maya.