CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
YUDA PULANG 2


__ADS_3

Tiba-tiba Yuda masuk, dan menutup pintu dengan keras. Arin terkejut luar biasa, karena matanya saat itu sedang terpenjam dan menikmati dentingan musik yang menari-nari di telinganya.


" Matikan musik kamu!!" Perintahnya.


Dada Arin berdegub keras, namun kali ini yang dirasakannya bukan takut seperti biasanya, tapi lebih kepada kejengkelan luar biasa.


" Kenapa sih mas pakai banting-banting pintu segala? bisa nggak nutupnya pelan?"


Entah mendapat kekuatan darimana, tiba-tiba Arin bisa selancar itu berbicara pada Yuda. Padahal saat itu kondisi Yuda seolah sedang bersiap-siap menerkamnya, ditambah lagi dengan wajahnya yang merah.


" Aku heran, kamu sekarang udah berani melawan ya?"


Arin diam saja, bangun dan kemudian mengucir rambutnya yang berantakan.


" Suami nggak di rumah, malah keluyuran kemana-mana."


" Aku nggak keluyuran kok."


" Lha itu tadi pulang sore apa kalau nggak keluyuran?"


" Kamu aku tegur malah main pergi, dan langsung masuk ke kamar."


" Tapi kan aku juga menyapa mas, nggak diem aja." Jawab Arin dengan lembut dan berusaha tidak terpancing emosi.


" Kamu tadi bukan menyapaku, tapi menyindirku."


" Menyindir?? menyindir apa mas?"

__ADS_1


" Kamu bilang salammu tidak dijawab, padahal ada aku."


" Lahhh...tadi emang mas jawab salamku? nggak kan?" Arin seolah berada di atas angin, secara tidak langsung Yuda mengakui sendiri bahwa dia tadi tidak menjawab salamnya.


" Kamu itu bisanya cuma membantah, tadi kan aku tanya, kenapa kamu pulang telat? bukannya dijawab malah ngomong nggak enak dan langsung pergi ke kamar, kamu nggak denger pertanyaanku? atau pura-pura nggak denger?"


" Lohhh mas tadi kan nggak nanya, mas cuma melontarkan kata-kata pedas buatku, jadi aku nggak jawablah. Seandainya mas tanya baik-baik pasti aku jawab dong." Masih bersikap setenang mungkin.


" Kamu semakin keterlaluan Arin!! Sejak kapan kamu berani membangkangku kayak gini?"


" Duhhh salah lagi. Kenapa sih aku selalu salah di mata mas?"


" Karena kamu selalu membantahku!!"


" Coba mas jelaskan, pas dimananya aku membantah mas."


" Dari tadi juga kamu sedang membantahku Arin!! setiap aku ngomong kamu selalu menyangkalnya."


" Nanti kalau aku diam, mas bilang aku nggak punya mulut, nggak mau jawab pertanyaan mas."


" Dan seharusnya mas tau sejak kapan aku berani kayak gini."


" Apa maksud kamu?"


" Mas nggak sadar? Bahwa perubahan mas itulah yang lama-kelamaan buat aku jadi berubah bersikap seperti ini. Mas yang selalu ingin di hormati dan dihargai, tapi tidak pernah menghargai keberadaanku."


" Ohhh jadi kamu merasa bahwa aku kurang menghargai kamu? Kurang banyakkah aku menghargai kamu selama ini dengan segala hal yang sudah aku berikan sama kamu, sehingga kamu menjadi seperti sekarang ini, kamu bilang kurang dihargai?"

__ADS_1


" Mas jangan pernah samakan kedudukan harta yang mas berikan sebagai kepala rumah tangga, dengan perlakuan mas kepadaku sebagai seorang suami, karena itu nilainya berbeda. Kalau mas sudah mensejahterakan aku dan memuliakan aku sebagai seorang istri, itu memang sudah kewajiban mas."


" Berbeda apanya? dengan keadaan sekarang, bahkan kamu banyak disegani orang, dihormati orang, apa itu tidak sama saja aku telah menghargai kamu?"


" Mas itu terlalu picik, mas sombong dengan yang mas miliki selama ini. Jika sikap mas belum berubah, aku jamin keluarga kita bisa hancur mas akibat kesombongan mas sendiri!!"


" Kamu menyumpahiku?"


" Bukan menyumpahi mas, tapi mengingatkan!! Mas yang dulu bukan seperti ini. Mas dulu selalu mendengar kata-kata orang lain, mas dulu tidak pernah meremehkan orang lain, mas yang dulu...."


" Stop!!!" Yuda memutus kalimat Arin.


" Nah begini nih mas yang sekarang, nggak mau dikritik sedikitpun!! Selalu merasa benar, dan nggak mau instropeksi diri, bisanya mencari kesalahan orang lain atas semua masalah!!"


" Ooohhhhh...jadi kamu nggak terima atas sikap aku selama ini?"


" Mas..mas...nggak ngerasa ya kalau rumah tangga kita selama ini nggak ada sedikitpun harmonisnya? Semuanyanya hilang semenjak kita kaya. Hampir setiap hari suasananya tegang, mas sering marah-marah, dan ada ajaaa pemicu masalah yang buat mas marah."


" Aku marah karena ada sebabnya, dan kalau nggak ada sebab nggak mungkin aku marah!!"


" Sebabnya itu ada di hati mas. Mas kurang bisa bersyukur, mas kurang bisa bersabar, dan mas nggak bisa sedikitpun menerima kekurangan orang lain, dan selalu ingin yang sempurna."


" Ahhhh...aku pusing denger kamu ngomel!!" Kata Yuda sambil berjalan meninggalkan Arin. Akhirnya diapun pergi lagi.


" Nahhh begini nih, kalau ada masalah mas nggak pernah mau menyelesaikannya, dan selalu membiarkannya." Sambil mengikuti Yuda dari belakang. Yuda meraih kunci mobil di atas meja dengan kasar, dan terus berjalan meninggalkan Arin tanpa satu kalimatpun.


" Udah...nggak usah ngomong lagi!!" Teriak Yuda.

__ADS_1


" Mas.. !! Mas...!! Aku belum selesai bicara!!" Teriak Arin, namun Yuda sudah menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dengan menginjak pedal gas sekencang mungkin.


" Sampai kapan mas rumah tangga kita kayak gini? kapan kamu mau berubah? apa kamu tunggu kehilanganku dulu baru kamu menyadari semuanya? Aku kangen kamu yang dulu mas" Bisik Arin. Kemudian dia masuk ke dalam rumah lagi.


__ADS_2