
" Apaan sih? baru aja wa, giliran disuruh telfon, malah ilang, nyebelin!!!" Arin bete sendiri, karena Brian tak juga menelfonnya. Arin tidak tau bahwa saat ini Brian sedang dag dig dug karena tiba-tiba Mirna menghampirinya, disaat dia sedang mengirim pesan pada Arin.
Brian tidak jadi menelfon Arin, karena menunggu Mirna benar-benar masuk dulu ke dalam kamar. Saat ini dia berpura-pura membuka beberapa aplikasi, karane khawatir Mirna datang lagi. Setelah beberapa saat kemudian, Brian masuk ke dalam rumah, untuk memastikan bahwa Mirna telah benar-benar terlelap dalam mimpi indahnya. Benar saja, terlihat Mirna meringkuk pulas di atas kasur sembari memeluk guling. Brian segera berjalan pelan menuju gazebo lagi, lalu dia langsung menelfon Arin.
Tidak butuh waktu lama, Arin segera mengangkat telfon dari Brian.
" Assalamualaikum sayang."
" Waalaikum salam." Jawab Arin pelan.
" Kok nggak ceria sih?"
" Habis ditungguin dari tadi nggak telfon-telfon, kemana aja sih?"
" Duhhh maaf yank, istriku tiba-tiba dateng waktu aku baru baca pesan kamu tadi, jadi aku nunggu dia masuk rumah dulu."
" Ya udah deh matiin aja telfonnya, besok lagi aja." Mood Arin otomatis langsung hilang, berganti dengan rasa cemburu.
" Kok malah dimatiin sih, nggak kangen apa?"
" Nanti istrimu dateng lagi gimana?"
" Nggak, tadi aku lihat dia udah tidur."
" Tetserah lho ya, kalau ada apa-apa aku nggak tanggung jawab."
" Tenang aja, dari posisiku duduk sekarang ini, kelihatan kok kalau dia datang."
Brian sesaat melihat ada ketikdakberesan yang sedang dialami kekasihnya itu.
" Sayang, wajah kamu sembab, habis nangis ya?"
__ADS_1
" Nggak, mungkin kebanyakan tidur tadi siang."
" Aku tau kamu yank, jadi kamu nggak bisa menyembunyikannya dari aku. Ekspresi wajah kamu nggak bisa bohong."
" Kamu lagi sakit?"
" Nggak...aku nggak papa."
" Yank.. ayo dong cerita, ada apa?"
" Udah deh...bahas yang lain aja oke?"
Brian langsung diam, nada kalimat Arin sedikit tinggi, seperti ada rasa ketidaksukaan karena dia terus mendesaknya.
" Ok, maaf!!" Kata Brian kemudian.
Arin diam saja, suasana sedikit terlihat kaku, dan tidak ceria seperti biasanya.
Arin tetap diam, dan hanya menatap wajah Brian dari layar hpnya. Arin sedikit merasa bersalah karena Brian jadi sasaran kesedihan hatinya.
" Maaf ya yank."
" Maaf buat apa?"
" Barusan nadaku sedikit tinggi."
" Nggak papa, kalau kamu memang lagi pengen sendirian aku matiin aja telfonnya."
" Nggak yank!! temenin aku ya?"
" Bener? kamu nggak malah merasa tsrganggu?"
__ADS_1
" Nggak."
" Beneran?"
" Iya bener."
" Oke kalau gitu."
" Tapi aku nggak pengen cerita masalahku ke kamu, jadi jangan coba-coba tanya ya?"
" It's ok, kita ngobrol hal lainnya aja. Tapi kalau kamu butuh seseorang yang bisa dengerin kamu, aku siap yank." Arin hanya mengangguk. Dia terus menatap wajah Brian.
" Kamu itu baik banget. Tapi apa kalau kamu suatu hari jadi suamiku, masih akan tetap sebaik ini dan sesayang inikah kamu sama aku? Dulu suamikupun sebaik kamu, dan semuanya berubah. Apakah semua pernikahan selalu seperti itu? Setelah hidup bersama bertahun-tahun, hubungan suami istri seharusnya tidak menghilangkan semua rasa saat seperti pacaran dulu. Seharusnya rasa sayang semakin bertambah puluhan kali, karena sudah bukan lagi menjadi sepasang kekasih, melainkan menjadi satu bagian yang sudah melebur jadi satu. Harusnya semua hal kecil yang tidak perlu dipermasalahkan bisa dihindari, karena suami ataupun istri itu adalah satu-satunya orang yang menjadi tempat persinggahan terakhir kita, seseorang yang pertama merasakan rasa sakit, ketika salah satunya mengalami penderitaan. Seharusnya kita bisa saling menjaga dan bukan malah menyakiti hatinya, karena dialah orang yang bisa menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan kita." Arin berbicara sendiri dalam hati.
" Yank? kamu melamun?"
" Eh ehmm...maaf yank." Arin terkejut saat Brian menegurnya.
" Jangan bengong kayak ayam nelen karet gitu, ayo senyum dong!!"
" Hehehe..iya yank nggak tau nih pikiranku rasanya buntu banget."
" Aku itu bukan siapa-siapa kamu, cuma seseorang yang hadir dan mengisi hati kamu tanpa bisa berbuat lebih. Tapi aku tetap perduli sama kamu. Kesedihan kamu itu sekarang sudah menjadi kesedihanku yank. Lihat kamu kayak gini, aku jadi merasa nggak berguna sama sekali, nggak bisa melakukan apa-apa buat bantu selesaikan masalah kamu."
" Maaf yank, bukannya aku nggak mau cerita. Tapi aku nggak mau urusan keluarga ini melibatkan perasaanku sama kamu, sehingga bisa menyulitkanku berpikir obyektif. Aku nggak mau, ada pihak ketiga yang mempengaruhi pikiranku, termasuk kamu." Kata Arin dalam hati.
Arin sebenarnya memiliki harapan besar untuk bisa terus mempertahankan rumah tangganya bersama Yuda, walaupun jauh di hati kecilnya perasaan dia telah terbagi. Namun sebenarnya dia masih belum rela keutuhan rumah tangganya hancur. Dia masih ingin membenahi semuanya dari awal. Dia ingin Hari-harinya bersama Yuda dipenuhi canda dan tawa seperti dulu. Dia ingin pernikahan dia dan Yuda itu berakhir hanya oleh maut, dan bukan yang lain.
Setan memang selalu muncul dimana-mana. Selalu saja ada kesempatan menggoda manusia. Seperti Arin saat ini, ketika kehidupan rumah tangganya mulai tidak harmonis, setan mulai ikut campur. Hadir Brian yang kemudian mampu menggantikan apa yang dibutuhkan oleh Arin. Rasa sepinya hilang, canda tawanya mulai hadir kembali. Brian mengubah semuanya.
Begitupun dengan Brian. Sosok Mirna yang menurutnya tidak seperti wanita sekaligus istri idamannya, membuat Brian berpaling pada Arin. Mirna yang sering mengabaikan, menggampangkan, serta tidak perduli bagaimana seharusnya tampil sebagai seorang istri yang mampu membanggakan dan menyenangkan suami, membuat Brian lebih mudah tergoda oleh Arin.
__ADS_1
Pada prinsipnya, hanya iman yang bisa menyelamatkan. Namun manusia punya sebuah batasan, dimana pada saat tertentu dia bisa berada di titik paling dasar. Dan di waktu itulah setan mulai ikut campur tangan.