CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENUJU BANDARA


__ADS_3

" Udahan yuk yank!!" Ajak Arin.


" Buru-buru amat?"


" Lihat nih udah jam 8!" Sembari menunjukkan arlojinya. Brian lalu melihat ke layar hpnya.


" Di hpku masih jam 7 kurang."


" Jam 7 apanya? kita tadi kesini aja jam 7 kok. Jam di hpmu tuh telat."


" Mungkin sih, dari kemarin emang mau aku bawa ke bidan nggak jadi-jadi."


" Kok bidan?"


" Ya kan telat sayang."


" Hiiihhh...bercanda aja, udah ah ayo!!" Sambil berdiri.


" Iya...iya..Udah nggak sabaran banget sih pengen pulang? udah kangen ya sama suamimu?"


" Udah deh jangan mulai." Sambil melirik sebal pada Brian.


" Ayo buruan!!"


" Iya sabar sayang!"


Brian dan Arin segera berjalan menuju kamar kembali.


" Tinggal ini aja yank?"


" Iya."


" Nanti ada yang ketinggalan lho, dicek lagi."


" Ya kalau ketinggalan balik lagi aja." Jawab Arin sekenanya.


" Kayak rumahnya di seberang jalan, enak banget mau balik lagi."

__ADS_1


" Ya kan cuma dua belokan yank, ke kiri terus ke kanan."


" Iya deh terserah anda, yang penting anda bahagia." Sembari mengangkat koper Arin dan memasukkannya ke dalam mobil. Arin hanya tersenyum saja.


" Udah? beneran ga ada yang ketinggalan?" Tanya Brian sembari menutup pintu kamar.


" Ada tuh di toilet."


" Ya udah dibawa sekalian, sayang kan kalau ditinggal."


" Hihihi...buat kamu aja deh aku ikhlas."


" Ogahhhh!!"


" Hihihi...siapa tau pengen buat kenang-kenangan."


" Kamu tunggu di mobil, aku ke resepsionis dulu ya." Kata Brian sembari menyerahkan kontak mobilnya pada Arin.


Setelah urusan administrasi selesai semua, Brian langsung menuju ke kendaraannya kembali.


" Berangkat sekarang?" Arin mengangguk. Lalu Brian menstarter mobilnya dan melaju di jalan raya menuju bandara.


" Nggak ah."


" Nanti di jalan haus?"


" Ya kan perjalananku cuma setengah jam sayang, bukan sehari semalam."


" Ohhh iya lupa."


" Hemmmm..jangan coba-coba mengulur waktu keberangkatanku ya."


" Hihihi...usaha yank, boleh kan."


Arin tersenyum. Sebenarnya ada rasa sedih di hatinya. Walaupun dia berusaha bersikap biasa, dan menutupinya di depan Brian, namun tetap saja ada sesuatu yang tidak mampu dia ceritakan pada siapapun, betapa saat ini dia merasa hampa.


Perasaan Arin ataupun Brian campur aduk, antara tidak ingin berpisah, dan khawatir akan keberadaan keluarga di rumah yang tentunya sedang menanti kedatangan mereka.

__ADS_1


" Tiketnya nggak lupa kan?" Brian mencoba membuka obrolan kembali.


" Nggak." Jawab Arin singkat.


" Kalau udah nyampe, jangan lupa kabarin aku ya? Biar aku nggak kepikiran." Sambil melirik wanita di sebelahnya.


" Iya sayang. Kamu juga jangan lupa ngabarin aku."


" Ok."


" Langsung pulang ke rumah ya?"


" Emang mau kemana?"


" Siapa tau pengen mampir kemana gitu."


" Misalnya kemana?"


" Ke pacar yang lain lagi."


" Hahaha..nyari pusing kok berjamaah."


" Kok berjamaah?"


" Aku sama kamu ini aja udah pusing tujuh keliling, ga bisa berbuat apa-apa, eh mau ditambah yang lain lagi."


" Siapa tau kan pengen gitu."


" Nggaklah yank. Aku langsung pulang ke rumah. Percaya deh sama aku ya." Sambil terus berkonsentrasi mengemudikan kendaraannya.


Brian terus melajukan mobilnya. Dan kebisuan kembali menyelimuti mereka berdua. Ingin rasanya bercanda seperti kemarin, namun dengan situasi yang seperti ini, untuk menata hati mereka masing-masing saja sudah sangat sulit. Dalam hitungan menit mereka akan segera berpisah. Meninggalkan sebuah cerita hubungan terlarang yang terlanjur mereka jalani. Semakin hari bukannya semakin mudah untuk saling melepaskan, tapi justru semakin berat untuk saling melupakan.


Brian yang merasa Arin begitu sempurna dan merupakan sosok wanita yang diidamkan selama ini, hadir dan mengisi hatinya nyaris tidak ada tempat lagi untuk istrinya. Sedangkan Arin yang merasa Brian sangat berbeda dari suaminya, merasa nyaman ada di dekat laki-laki itu, dia merasa dihargai, dan dibutuhkan kehadirannya tulus tanpa ada tuntutan ataupun cinta bersyarat seperti suaminya.


Suaminya yang selama ini diharapkan bisa menjadi tempat pelabuhan terakhir, justru menjelma menjadi sosok yang arogan, dan ingin menang sendiri. Arin merasa tidak nyaman berada di sampingnya, karena ada saja hal-hal kecil yang diprotes suaminya dan membuatnya muak. Karena hal itulah, lama kelamaan cinta Arin yang tadinya begitu besar, perlahan mulai terkikis sedikit demi sedikit. Jika ada Yuda, dia seperti seorang pesakitan yang setiap saat dan setiap waktu selalu mendikte Arin dengan kesalahan-kesalahan yang menurut Arin sering dicari-cari.


Kehadiran Brian memberinya semangat hidup yang tadinya hilang. Saat dia merasa seolah hidup tapi mati, dan tidak memiliki hak sedikitpun untuk berbicara ataupun membela diri. Brian membuatnya sangat berharga dan berarti. Harta yang diberikan Yuda, ternyata tidak bisa memberikan kebahagiaan yang diimpikannya. Untuk apa berlimpah harta, sedangkan dia seperti tidak dianggap oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


Jarak hotel dengan bandara yang sebenarnya jauh, ditambah dengan jalanan yang sedikit macet, kali ini terasa singkat. Sepertinya baru 5 menit yang lalu Brian menjalankan kendaraannya, namun gerbang bandara sudah ada di depan mata.


__ADS_2