CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
SELESAI MAKAN


__ADS_3

" Kekenyangan ya?" Tanya Brian saat mereka sudah di hotel.


" Iyalah...kamu pesennya banyak banget, emang perutku dari karet, bisa melar gitu!!" Sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.


" Hahaha lagian kenapa dihabisin semua?"


" Ya mubadzirlah udah dipesen. Kalau nggak dimakan, palingan nanti sama pedagangnya dibuang, mana mau mereka makan sisa kita?"


" Ya kan bisa dibungkus sayang."


" Kalau gorengan bisa yank dibungkus, terus dimakan nanti lagi. Nah ini segala capcay, mie, apalagi tuh tadi yangberkuah-kuah, masak mau dibungkus? dibiarin dua jam berubah jadi bubur yank, udah kayak makanan bayi."


" Hahaha..tapi nggak papa, aku seneng. Makanmu kan jadinya banyak, biar gendutan dikit!"


" Enak aja, jaga badan biar tetep langsing aja susah, ini malah disuruh gemuk."


" Ya jangan terlalu gemuk, minimal pipinya agak berisi dikit, biar ga kayak orang susah." Sambil mencubit pipi Arin.


" Nggak, nanti kalau aku gemuk kamu ga cinta lagi." Gumam Arin sambil bersungut-sungut.


" Ya nggak mungkinlah. Semakin aku mengenal kamu, semakin aku paham kepribadian kamu. Fisikmu itu udah nggak aku fikirin lagi. Kamu mau gendut, mau kurus, yang penting hatimu nggak berubah. Dan satu lagi, yang penting kamu nggak pakai daster aja di rumah, udah cukup yank!!"


" Hahaha...nyebelin banget sih kamu!! Jadi di rumah aku suruh pakai baju yang blink-blink kayak penyanyi K-pop gitu yang panjang segini?" Sambil menunjuk ke atas lutut kakinya.


" Kalau kamu nggak keberatan sihhh!!"


" Enak aja...Eh tapi yank, laki-laki mah selalu begitu, ngomongnya fisik itu nggak penting, yang penting itu hatinya. Aahhhh omong kosong....giliran lihat body cewek yang lebih aduhai, matanya kemana-mana, iya kaannn??"


" Hahaha...kalau itu aku no comment."


" Nah begitu tuh suka ngeles, kalau ada apa-apa, nanti yang disalahin pasti perempuannya. Perempuan itu ya kalau udah menikah, apalagi udah punya anak, badannya itu kayak ban karet, cepet banget ngembangnya. Ibaratnya nih ya, cuma nyium angin aja udah jadi lemak, segini nih." Sambil memperagakan dengan kedua tangannya.


" Hahaha...masak segitunya?"


" Ya iyalah...Jadi harus pinter-pinter ngerawat badan. Kalau udah kebablasan, susah balik kecil lagi, siksaaan yang luar biasa yank."


" Ya udah deh terserah kamu, yang penting jangan merasa tersiksa."


" Yang penting sehat dan nggak tersiksa yaaaankk!!"


" Oh iya, sehaaatt...!! Semangattt yaaa!!" Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. Arin hanya tertawa saja.


Sepintas Brian teringat Mirna di rumah yang memiliki pemikiran berbeda dari Arin. Brian tidak pernah protes, namun dia sering mendengar seseorang yang mengomentari bentuk badan istrinya itu, dan dia selalu menjawab" Ahhh yang penting udah laku."


Mirna yang tidak mau pusing dengan kata-kata orang lain, bahkan tidak mau pusing bahaya yang mengancam rumah tangganya jika terus berpenampilan seperti itu. Mirna yang tidak sedikitpun merasa khawatir akan penampilannya yang tidak lagi menarik di hadapan suaminya. Mirna yang tidak ingin ribet dengan make up di wajahnya, dan selalu pede menggunakan daster kebesarannya dan selalu beralasan " Untuk apa dandan? kan cuma di rumah aja?"


Arin sendiripun ternyata sedang membandingkan Brian dengan suaminya

__ADS_1


Brian jauh berbeda dengan Yuda. Bahkan Yuda sering protes jika Arin mulai terlihat naik berat tubuhnya, apalagi jika perutnya mulai berlipat. Yuda yang sangat senang jika saat mereka pergi berdua, teman-temannya memuji Arin. Kemudian dia dengan akan sangat bangganya sesumbar tentang keberhasilannya memiliki istri yang selalu bisa merawat wajah dan tubuhnya. Walau sebenarnya tanpa diprotes Yuda, Arin sendiripun sangat tidak suka jika melihat tubuhnya di cermin mulai menggembung. Namun denfan adanya protes dari Yuda, seringkali membuat Arin khawatir sendiri dan merasa setres jika tiba-tiba pakaiannya mulai terasa sempit.


" Yank!"


" Eh Iya!"


" Ihhh melamun ya?"


" Nggak."


" Kok kaget."


" Iya tadi lagi ngapalin ayat-ayat pendek." Kata Arin sekenanya.


" Hahaha...kamu tuh ya."


" Mau ngomong apa tadi?"


" Duhhh apa ya? kok lupa?" Jawab Brian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Nahhh...makanya jangan kebanyakan makan pantat ayam."


" Emang pantat ayam bisa bikin lupa?"


" Katanya sih."


" Kata nenekku, kalau nggak percaya tanya aja sendiri, tapi kalau kesana jangan lupa bawa kembang ya?"


" Buat apa kembang?"


" Buat nyekar, soalnya nenek udah di kuburan hahaha."


" Woooo....!!" Sambil mengacak-acak rambut Arin yang ditutupi jilbab.


" Ihhhh rusak nih jilbabku."


" Yank...."


" Hemmmm."


" Besok hari terakhir kita di sini, dan lusa kamu udah harus kembali ke rumah. Itu artinya kita bakalan pisah dan nggak tau kapan ketemu lagi." Kata Brian sambil menunduk.


" Lalu?"


" Bisa nggak ya, aku pisah sama kamu? pasti aku bakal uring-uringan terus di rumah."


" Nggak boleh gitu dong. Kasihan istrimu kalau kamu uring-uringan gitu. Pasti nanti dia bisa jadi sasaran kemarahanmu, dia kan nggak tau apa-apa."

__ADS_1


" Iya sih, tapi apa bisa aku ngga sedih kalau pisah sama kamu." Arin menatap mata Brian, kemudian memegang kedua jemarinya. Ada kesedihan di mata pria itu.


" Yank, sebelum ada aku di kehidupanmu, rumah tanggamu baik-baik aja kan? dan tolong jaga semua itu seperti saat belum mengenalku. Aku akan merasa bersalah sekali sama istri dan anakmu, kalau kamu berubah dan mengabaikan mereka."


" Kamu masih beruntung yank, nggak kayak aku. Setelah pulang ke rumah, aku pasti akan bertemu dengan suamiku, dan hidup penuh tekanan lagi." Kata Arin dalam hati.


" Tapi janji ya, tetap hubungi aku setelah kita pulang nanti?"


" Iya, kayak kebiasaan kita sebelumnya kan? Pokoknya beres bosss...!!" Sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


" Kamu tuh ya, selalu aja bisa bikin aku ketawa, diajak ngomong serius malah ngelawak."


" Hahaha....biarin aja, kita udah pusing mikirin hubungan ini, mumpung ketemu dibikin seneng aja, jangan dibikin susah." Brian tertawa saja mendengar kalimat Arin.


" Sayang kamu nggak tau, betapa beratnya aku pisah sama kamu. Apalagi setelah di rumah nanti bertemu istriku yang tidak ada lembut-lembutnya saat berbicara sama aku. Nggak kayak kamu yang selalu bikin aku begitu dihargai sama kamu, selalu bisa nyenengin aku, selalu bisa bikin aku happy di deket kamu." Brian terus membandingkan antara Arin dan istrinya.


" Ehhh..besok kita cari oleh-oleh ya."


" Mau bawain suami ya?"


" Ya buat istrimu juga. Pasti dia suka banget kalau kamu bawain buah tangan."


" Ahhh...aku nggak terbiasa bawa oleh-oleh."


" Ehhhh...nggak boleh gitu. Itu salah satu bentuk perhatian kita sama keluarga lho. Jangan lihat harganya, tapi niat kita ingat sama mereka saat kita pergi. Harus dibiasain mulai sekarang yank. Besok kalau nikah sama aku, kalau pergi nggak bawa oleh-oleh, aku suruh balik lagi pokoknya "


" Hahaha...masak tega sih yank."


" Biarin..makanya harus diniatin, biar inget sama orang rumah."


" Terus kapan kita nikahnya?"


" Kapan yaaa? tar aku pikir-pikir, cari tanggal baiknya dulu ya??" Sambil sok mikir sembari memegang pelipisnya.


" Hahaha..." Brian lagi-lagi tertawa.


" Eh yank, emang kamu kalau berkunjung ke rumah kerabat nggak pernah gitu ya?" Brian diam. Mirna tidak pernah sedetail itu. Terkadang jika ingat saja istrinya akan membawakan buah tangan.


" Heiii...kok malah melamun?"


" Ehhhhh...ehhhmmm...enggak kok!"


" Enggak apa???"


" Enggak tau!!" Sambil garuk-garuk kepala.


" Hiiihhhhh...kamu tuh ya nyebeliiiinnnn banget...!!!"

__ADS_1


__ADS_2