
" Yuda nggak marah kamu pulang sesore ini?"
" Kalau pas suasana normal ya jelas marah mas, dia paling nggak suka kalau dia pulang kerja, terus aku nggak ada di rumah."
" Ya itu bener Rin."
" Emang bener, aku juga nggak nyalahin kok."
" Terus hari ini?"
" Pengecualian buat hari ini, karena dia lagi diemin aku, jadi nggak ngefek aku mau pulang sore atau bahkan pulang pagi sekalipun, dia nggak akan perduli, dan nggak akan mungkin tanya-tanya. Gimana mau tanya, dia aja nggak tidur di rumah hahaha."
" Kok malah ketawa gitu? emang nggak sedih ya kamu?"
" Yaelah mas, istri mana yang nggak ngenes diperlakukan kayak gini? tapi sampai kapan aku meratapi nasibku terus? Daripada aku stres sendiri mikirin dia, dipikirin juga nggak ada perubahan, ya udah nikmatin aja. Lagian bukan aku yang meninggalkan rumah, dan dia yang diemin aku, bukan aku yang diemin dia."
" Tapi kan sama aja Rin."
" Kalau aku mah biasa aja mas. Selama ini kalau pas ada masalah, jangankan ninggalin rumah, kewajibanku sebagai seorang istri sama sekali nggak pernah aku tinggalin, walaupun hatiku sakit bukan main. Aku tetep tawarin dia kopi, aku tetep masak, tetep tawarin dia makan, tapi dia yang nggak mau ngajak aku ngomong ya udah terserah, dia itu kepala rumah tangga, dia yang bakal mempertanggungjawabkan semua nantinya."
" Kamu nggak minta maaf?"
" Aku itu lebih tau watak suamiku, kalau aku minta maaf disaat situasi seperti ini, aku nggak akan digubrisnya."
" Terus?"
" Ya dibiarin aja nunggu marahnya reda sendiri, terus masalahnya hilang gitu aja. Kalau aku minta maaf malah seolah ngingetin kemarahan dia sama aku mas, dia bisa emosi lagi."
__ADS_1
" Keras amat hatinya?"
" Laaahhh udah bertahun-tahun tahun jadi kakak ipar kok nggak tau sifatnya sih?"
" Yeeeee...emangnya aku hidup serumah dengan suamimu."
" Ya begitu mas, jadi betah-betahin aja nunggu mood baik dia muncul lagi."
" Kamu nggak sedih Rin? Kalau mbak mah udah bakalan kebingungan kalau suami mbak marah." Kata Sisi sambil melirik suaminya. Yang dilirik cuma berdehem saja.
" Pasti suasana rumah jadi panas, dan nggak nyaman banget kan?"
" Ya iyalah mbak. Mana betah kita kalau lihat ada orang cemberut? Itu aku rasain tiap hari mbak. Hampir tiap hari Mas Yuda cemberut, mungkin dia itu ketawa kalau liat komedi di tv."
" Tapi buktinya kamu betah?"
" Hahaha..betah apanya? buktinya aku curhat terus sama mbak. Dan kalaupun sekarang aku udah kebal, itu karena mungkin syaraf sedihku udah mati rasa mbak, karena tiap hari digitun, jadinya udah biasa."
" Hahaha...iya mas. Ya udah Rin, pulang sana, nanti kesorean lho."
" Ihhhh ngusir nih?"
" Bukannya ngusir."
" Terus apa?"
" Nyuruh paksa pulang."
__ADS_1
" Hahaha sejenis itu mah."
" Ya udah deh aku pulang dulu ya, makasih udah dengerin ceritaku, udah ngasih masukan banyak buat aku." Sambil berjalan keluar.
" Iya Rin, cuma sebatas itu yang bisa kami lakukan. Kalau ada masalah ceritalah sama kami, jangan cerita ke orang lain, karena belum tentu mereka memberi saran yang benar sama kamu."
" Iya mas, yang penting kalian nggak bosan dengernya."
" Tapi sih harapan kami ini yang terakhir kali kamu curhat."
" Sama mas, akupun berharap kayak gitu."
" Semoga aja nggak ada curhat susulan ya Rin."
" Jadi capek nih aku curhatin terus mbak?"
" Idihhh belum selesai ngomong diputus."
" Terus?"
" Maksudnya, semoga setelah ini Yuda berubah, dan yang kami dengar adalah curhatan bahagiamu, dan bukan cerita sedih kamu Rin."
" Ohhh itu...amiin semoga aja mbak Allah membuka pintu hidayah buat Mas Yuda."
" Ya udah aku pulang dulu ya." Sambil menghidupkan mesin mobilnya.
" Hati-hati di jalan."
__ADS_1
" Iya mbak." Lalu Arin segera menginjak pedal gas, meninggalkan rumah kakaknya.
Arin sangat bersyukur mempunyai saudara yang bisa diajak bertukar pikiran, dan banyak memberikan masukan positif. Untungnya kedua kakaknya itu berpikiran obyektif dan tidak memihak salah satu pihak, sehingga bisa memberikan saran yang terbaik buatnya, dan bukan memanasinya sehingga bisa semakin memperkeruh keadaan. Karena terkadang jika kita salah curhat dengan seseorang, bukannya mendapatkan solusi, justru itu bisa memacu masalah yang lebih pelik lagi.