
" Udah malam, pulang yuk?" Ajak Maya.
" Yakin?"
" Yakinlah, udah jam 11 malem."
" Oh ya? kok nggak kerasa?"
" Ya iyalah, dari tadi ngobrol ngalur ngidul mana kerasa."
" Ya udah tunggu sebentar ya." Kata Yuda sembari berjalan menuju kasir.
Tak lama Yudapun sudah kembali. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir.
" Duhhh kayaknya mendung Yud." Sambil menatap ke langit yang tak nampak bintang satupun.
" Emang kenapa kalau mendung?"
" Ya berarti mau turun hujan."
" Hahaha...ya biarin aja, kenapa? trauma masa lalu ya? takut kehujanan?"
" Itu kan dulu May, beberapa tahun yang lalu, saat aku kemana-mana boncengin kamu pakai sepeda motor. Sekarang lihat, udah nggak kepanasan dan nggak kehujanan lagi kan."
" Iya...alhamdulillah ya kamu sekarang udah sukses."
" Yaaaahhhh...hasil dari jerih payahku May. Dulu aja mau beli sesuatu mikir berkali-berkali, sekarang tinggal nyebut aja nggak perlu mikir lagi hahaha."
" Hemmmm...ternyata kamu memang masih Yuda yang dulu, belum berubah."
" Ya iyalah, masak mau berubah jadi kura-kura ninja?"
Kemudian Yuda berjalan pelan keluar dari area parkir. Hari telah larut malam, namun bukannya sepi, justru suasana semakin ramai, terutama anak muda yang terlihat sedang kongkow-kongkow di pinggir jalan. Masa remaja adalah masa yang paling indah. Mata Yuda memperhatikan sekitar jalan yang mereka lewati.
" Jaman kita dulu lebih seru dari mereka ya May?"
" Ya iyalah....jaman kita dulu kalau ngumpul kan pasti ramai, kalau sekarang sepi."
" Kok sepi?"
" Soalnya pada main hp sendiri-sendiri. Fisik mereka emang berdekatan, tapi jiwa mereka pada keluruyan sendiri-sendiri."
" Oh iya hahaha....kalau kita dulu pas ngumpul begitu pasti ada aja hal seru yang diobrolin, kadang sampai ketawanya lupa diri."
" Yaaa...makanya dulu kita bisa akrab satu sama lain karena sering bareng. Kalau sekarang kan nggak, kadang sama tetangga aja nggak tau kalau satu sekolahan hahaha."
__ADS_1
" Kalau ngomongin masa lalu tuh nggak pernah ada habisnya ya May?"
" Yahhhh...yang penting cukup dikenang aja, nggak perlu dingat-ingat."
" Nggak pengen mengingat sih, tapi selalu teringat."
" Ya udah lupain aja, anggap aja itu adalah sedikit bagian dari pengalaman hidup kita."
Yuda diam saja.
" May!" Panggilnya kemudian.
" Iya?"
" Dari tadi setiap aku bahas cerita masa lalu kita, kenapa kamu selalu menghindar? Kamu nggak suka?"
" Bukan begitu Yud, aku cuma nggak mau kita terjebak dalam nostalgia cerita masa lalu aja, kita hidup untuk masa depan Yud, dan bukan masa lalu."
" Emang kenapa? kamu nggak suka ya mengingat masa lalu kita? apa buatmu kebersamaan kita dulu itu penyesalan buatmu, sehingga kamu ingin melupakannya?"
" Nooo...bukan begitu!!"
" Lalu?"
" Hemmmm...sepertinya kamu memang udah bener-bener move on ya, walaupun pada akhirnya pilihan kamu itupun meninggalkan kamu dengan status jandamu sekarang."
" Ohhhh kalau itu udah jalan hidupku, jangan dihubungin dengan masa lalu kita. Kita berdua juga nggak tau kan seandainya kita menikah, apakah saat ini aku jadi janda atau tidak. Harapan kita berumah tangga itukan untuk selamanya, kalau pada akhirnya kita berpisah demi untuk kebaikan bersama, apa boleh buat?"
" Tapi menurutku, kalau dulu kita menikah, pasti saat ini kita masih bersama, karena aku pikir cuma aku yang terbaik buat kamu."
" Hahaha...itu kan menurutmu?"
" Jadi menurutmu nggak?"
" Ya belum tau karena kita belum pernah hidup bersama, dan dunia pernikahan itu sangat berbeda dengan dunia pacaran."
" Oh iya Yud, seandainya aku tau saat ini kamu sedang bertengkar dengan istrimu, aku nggak akan mau kamu ajak pergi."
" Kenapa?"
" Bahaya Yud, apalagi aku kan mantanmu, sangat rentan bertemu mantan apalagi saat situasi keluargamu sedang ada masalah."
" Hahaha...itu kan kata kamu."
" Emang iya, karena bisa-bisa kita terjebak kenangan indahnya masa lalu."
__ADS_1
" Buktinya aku nggak."
" Hahaha...nggak apanya?"
" Mana buktinya?"
" Buktinya dari tadi kamu terus-terusan membicarakan kebersamaan kita dulu kan."
" Ya itu kan cuma sekedar berbicara saja."
" Ya semua bisa dimulai dari situ Yud."
Yuda cuma tersenyum saja menanggapi omongan Maya.
" Tapi kamu sama sekali nggak berubah May, masih ceria seperti dulu. Padahal pasti beban hidupmu berat membesarkan anak tanpa suami."
" Berat sih pasti Yud, tapi aku enjoy. Yang jelas aku berharap bisa membesarkan anakku hingga dia nanti benar-benar berhasil."
" Kamu nggak pengen nikah lagi?"
" Nggak munafik Yud, statusku ini sangat banyak godaannya. Dan untuk menikah lagi, siapa sih wanita yang nggak ingin punya seorang pendamping hidup yang bisa melindungi dia?"
" Terus kenapa sampai sekarang masih sendiri?"
" Statusku ini nggak bisa sembarangan cari calon suami Yud, aku harus mencari sosok ayah yang bisa menerima anakku juga."
" Ahhh itu kan gampang May, lagian anakmu kan sudah dewasa, nggak perlu perhatian seperti anak kecil lagi."
" Justru karena sudah dewasa itu aku harus lebih berhati-hati lagi cari sesosok suami sekaligus ayah buat anakku. Aku nggak mau nantinya anakku merasa tersisih ataupun merasa dinomorduakanan oleh aku ataupun ayah tirinya."
" Ya..ya..ya...aku paham."
Kendaraan Yuda terus membelah jalanan yang sudah mulai sepi. Lampu-lampu rumah mulai terlihat gelap, dan hanya tersisa beberapa saja ysng masih menyala.
" Makasih ya Yud buat makan malamnya."
" Sama-sama May. Lain waktu mau kan aku ajak lagi?" Maya terlihat berpikir sebentar untuk menjawab kalimat Yuda.
" Aku nggak bisa janji Yud, lihat aja nanti."
" Its ok."
" Ya udah aku pulang dulu ya?"
" Yup....hati-hati ya." Yuda hanya mengangguk, kemudian segera meninggalkan halaman rumah Maya.
__ADS_1