CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
TElFON MERTUA ARIN


__ADS_3

" Kriiinggg..."


Suara hp Arin berbunyi nyaring. Arin segera mengambilnya dari dalam tas.


" Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


" Rin, kamu dimana?"


Ternyata mertua perempuan Arin yang menelfonnya.


" Aku sedang di daerah "X" mah, ada apa?"


" Masih sibuk nggak?"


" Nggak sih mah, paling sebentar lagi Arin pulang."


" Bisa minta tolong jemput mama nggak? papamu ada tugas keluar kota, mama malas di rumah sendirian."


" Mati aku!! mama mau nginep di rumah, sedang mas Yuda nggak ada di rumah, aku harus beralasan apa ya sama mama??" Arin kebingungan.


" Rin?? kamu dengar mama?"


" Ohh iya mah, Arin dengar. Nanti Arin jemput ya, tapi nggak buru-buru kan?"


Spontan Arin mengiyakan, walaupun hatinya sedang bingung.


" Nggaklah, selesai'in aja dulu urusan kamu, baru kemari."


" Ohhh iya mah, sebentar lagi Arin kesitu ya."


" Ok mama tunggu. Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


" Mertuamu?"


" Iya...Al."


" Kok mukamu tegang gitu?"


" Gimana nggak tegang? beliau mau nginep di rumah, sedangkan suamiku lagi kabur nggak tau kemana. Aku harus bilang apa sama mama seandainya tanya kemana suamiku?"


" Ya udah telfon Yuda aja, bilang mamanya mau nginep di rumah. Repot amat."


" Nggak!! Bisa-bisa tambah besar kepala dia."


" Tapi kan demi kebaikan bersama juga, hilangin tuh gengsinya."


" Ogah...biar nanti aku bilang, suamiku lg ada kerjaan di luar kota."

__ADS_1


" Hehhhh..kamu ternyata sama keras kepalanya dengan Yuda."


" Eitttsss...enak aja, ini pengecualian ya. Karena aku nggak mau dia semakin besar kepala. Setiap ada masalah selalu aku yang ngalah dan minta maaf, untuk kali ini, aku mau lihat sampai sebatas mana dia mau terus mempertahankan egonya."


" Hehhhh...terserah kamu ajalah."


Sementara itu, terlihat mama Yuda sedang menelfon seseorang.


" Kriiiinggg.....kriiinggg....kriiinggg.."


" Lama amat, kemana sih anak itu? Udah bebarapa hari ini nggak nongol di rumah, giliran ditelfon nggak diangkat-angkat."


" Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


" Lama banget sih Yud ngangkatnya?"


" Iya maaf ma, Yuda lagi di toilet maaf."


" Sepulang kerja nanti, mamah tolong dibelikan steak yang ada di Jalan Anggrek ya, beli 3 porsi."


" Kok banyak amat?"


" Iya, mama malam ini nginep tempat kamu, sebentar lagi dijemput Arin, mama pengen makan steak bareng sama kalian."


" Apa-apaan ini?? Jadi Arin sama sekali nggak memberitahuku kalau mama mau nginep di rumah?? Semakin keterlaluan dia!"


" Ehhh iya ma, apa??"


" Kamu ini diajak ngomong sama orang tua malah nggak merhatiin!!"


" Iya maaf ma, ini sambil ngecek pembukuan." Yuda beralasan.


" Inget!! pulang kerja beli steak di Jalan Anggrek 3 porsi ya."


" Baik ma!"


" Ya udah assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


" Kayaknya Arin emang sengaja nggak kasih tau ke aku, apa maksudnya coba? biar mama tau apa kalau aku sebenarnya sedang meninggalkan rumah?"


" Awas aja!!" Gerutu Yuda sambil memencet tombol telfonnya.


" Kriiiiinggg...kriinggg...!!" Telfon genggam Arin kembali merauang-raung.


" Perasaan laris amat, beli dimana tuh handphone bisa sebentar-sebentar bunyi?" Ledek Alya.


" Hahaha...apaan sih??" Sembari mengambil hpnya dari dalam tas.

__ADS_1


" Yuda Al!!"


" Ya udah buruan angkat, malah didiemin."


" Hemmmm...udah sadar mungkin Al."


" Assalamualaikum."


" Kamu sengaja ya nggak kasih tau aku kalau mama mau nginep di rumah???" Tanpa menjawab salam dari Arin Yuda langsung nyerocos tanpa henti.


Arin menjauhkan hp dari telinganya, matanya melotot sedikit terkejut. Dia pikir Yuda menelfon karena ada inisiatif baik untuk lebih dulu menghubunginya, ternyata tebakannya meleset jauh.


Alya menaikkan kedua alisnya, memberi kode pertanyaan kenapa Arin terlihat begitu terkejut.


" Ngamuk lagi..." Bisik Arin. Alya langsung menepuk jidatnya sendiri.


" Apa maksud kamu nggak mau kasih tau aku? biar mama tau kita lagi marahan dan aku nggak tidur di rumah ya? Dewasa dikit dong kamu, kamu mau nambah pikiran orang tua??"


" Mas bisa nggak sih tanya baik-baik? jangan asal nuduh sembarangan gitu."


" Buktinya kamu udah mau jemput mama, dan kamu belum memberitahuku."


" Aku emang sengaja nggak kasih tau kamu, lagian mas kan lagi ngambek, mana mau pulang walaupun aku telfon, jangankan aku suruh pulang, telfonku juga belum tentu mas angkat kan??"


" Ohhh gitu ya? jadi kamu seneng kalau mama tau kita lagi ada masalah? Kalau kamu mau nambah beban pikiran orang tuamu terserah, tapi jangan sampai itu terjadi dengan orang tuaku ya!!"


Arin terkejut dengan kalimat Yuda. Bahkan Arinpun tidak pernah membeda-bedakan sikap pada kedua orang tua Yuda, namun Yuda juatru sebaliknya.


" Mas ini ngomong apa? orang tua mas itu ya orang tuaku, sebaliknya juga begitu. Udah nikah lama kok masih aja nggak paham sifat istrinya." Gerutu Arin jengkel.


" Dengar ya, aku malam ini pulang, dan awas aja kalau sampai wajah kamu terlihat cemberut di depan mamaku."


" Dan satu lagi, aku pulang bukan karena aku memaafkan kamu, tapi karena mamaku." Dan telfon langsung dimatikan.


" Astagfirullah hal adzim...!!" Kata Arin sambil mengusap dadanya.


" Sabar Rin.." Sambil memegang pundak Arin.


" Hehhhh...kapan dia berubah Al??"


" Doakan saja dia mendapat hidayah."


" Ahhhhh...aku jadi nggak mood kalau kayak gini."


" Nggak mood gimana? harusnya ini dijadikan pecutan kamu agar kamu semakin semangat buat maju, jangan malah lembek."


" Kamu bilang ingin mandiri?"


" Iya Al, aku harus semangat!! Semangattt!!"


" Nahhh gitu dong...ini baru Arin yang kukenal, nggak gampang melempem."

__ADS_1


" Udah ah...lanjut yuk." Sambil berjalan mengitari ruko lagi.


__ADS_2