CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BAJU BARU


__ADS_3

" Yank, aku tadi beli sesuatu buat kamu." Sambil menyerahkan bungkusan pada Arin.


" Apa ini?"


" Buka aja."


" Bukan petasan kan?"


" Bukan, itu bom nanggung amat petasan!!"


" Idiiihhh jutek amat kayak emak-emak datang bulan." Canda Arin.


" Emak emak-emak kalau datang bulan jutek ya?"


" Datang bulannya pas tanggal tua, barengan ama uang belanja habis hihihi."


" Hahaha...kalau itu mah bakalan kena semprot semua serumah."


Arin membolak-balik bungkusan itu, dan menggoyang-goyangkan di dekat telinganya.


" Ihhh ngapain pake digituin, tar bocor loh."


" Hihihi...tinggal ditampung pake ember dong di bawahnya." Kata Arin sambil membuka bungkusan tersebut. Saat bungkusan itu terbuka, Arin segera mengeluarkan isinya.


" Kamu yang beli ini buat aku?" Sambil menempelkan baju itu di badannya.


" Bukan, tadi nitip pak lurah sebelah."


" Ya ampun yank, pak lurahnya baik banget sih...nanti kenalin ya sama aku!!"


" Hihhh..udahh....buruan dicoba!!" Sambil mendorong tubuh Arin memasuki toilet.


" Iyaaa....sabar dong, kayak mau ngelahirin aja!!" Kata Arin sambil cekikikan.


Sebelum mencobanya, Arin memperhatikan setiap detail baju yang dibeli oleh Brian. Arin tersenyum sendiri. Dia dulu sering dibelikan baju juga oleh Yuda. Jika suaminya itu sedang bepergian keluar kota, dia tidak pernah lupa membawakan oleh-oleh buat Arin di rumah. Namun sekarang, Yuda sepertinya sudah lupa dengan kebiasaan itu.


Arin memutar tubuhnya di depan cermin yang ada di toilet, ternyata Brian pintar memilih pakaian. Beberapa saat kemudian Arin sudah keluar


" Sumpah!! kamu cantik banget yank!!" Sambil menatap Arin kagum.


" Udah lama yank."


" Jadi bukan karena bajuku?"


" Pengaruhnya 10% sihhh."


" Orang ini ya nyebelin banget!!"


" Hahaha..." Arin tertawa melihat bibir Brian yang manyun. Kemudian Arin mendekat.


" Yank, makasih ya udah beliin baju ini buat aku. Pertama aku lihat, yang aku pikirin adalah...."


" Apa??" Potong Brian.


" Pilihan emang begini!!" Sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


" Ehhhh bentar-bentar!" Kata Arin sambil mencari tempat duduk.


" Ngapain sih?" Brian bingung melihat Arin yang tiba-tiba langsung duduk.


" Kamu begini yank!!!" Diulanginya, namun kali ini sembari menunjukkan kedua jempol kakinya.

__ADS_1


" Hahaha...ngapain begitu??"


" Hihihi jempolnya kurang banyak!!"


" Nih..aku pinjemin juga." Kata Brian sambil menawarkan kedua ibu jarinya. Kemudian mereka tertawa bersama.


" Makan yuk!!" Ajak Brian.


" Ayo, laper ya?"


" Iya, udah bunyi-bunyi perutku."


Arin lalu beranjak dari tempat duduknya.


" Aku pakai baju ini aja ya?" Sembari mengambil tasnya yang ada di atas ranjang.


" Ya udah, ngapain ganti lagi?"


" Emangnya boleh ya dipakai sekarang?"


" Ya bolehlah, kenapa nggak boleh."


" Kirain boleh pakainya pas lebaran nanti." Sambil mematut wajah di cermin.


" Hahaha kamu tuh aneh-aneh aja, kelamaan, keburu basi!!"


" Soalnya dulu kalau mama beliin aku baju baru, boleh pakainya pas lebaran, kalau belum lebaran belum boleh dipakai, nanti nggak kelihatan barunya!!"


" Hahaha....ya udah biar nggak kotor dibungkus aja, nggak usah dipakai."


" Ini kenapa merknya nggak dilepas!!" Sambil memegang kertas yang bergantung di salah satu bagian baju.


" Biarin aja, biar kelihatan kalau masih baru."


" Hihihi...udah ah ayo!!" Ajak Arin.


Baru saja berjalan sebentar, tiba-tiba hp Arin berbunyi.


" Suamiku yank!!" Tanpa dikomando Brian segera menjauh. Arin lalu buru-buru mengangkatnya.


" Iya mas!" Sambil menatap Yuda dari balik layar hpnya.


" Kok di luar kamar? mau kemana?"


" Mau makan mas."


" Makan dimana?"


" Di depan aja, hotel ini kan ada cafenya." Arin berbohong.


" Pulang jam berapa tadi? tumben jam segini belum makan?"


" Habis magrib baru sampe rumah, jadi ga sempet makan."


Yuda tidak melanjutkan pertanyaannya, mungkin itu jawaban masuk akal yang diberikan Arin, sehingga tidak diperpanjang lagi.


" Kamu ke atm dulu ya, transfer uang buat beli barang yang aku pesen kemarin."


" Sekarang mas?"


" Ya sekarang, masak besok?"

__ADS_1


" Ya udah mas wa'in jumlah uang sama rekeningnya, aku cari atm dulu." Arin tidak menjawab lagi perintah suaminya, karena dia tau suaminya sangat tidak suka dibantah, dan tidak mau terima alasan sedikitpun.


" Iya, nanti aku wa'in." Kemudian tanpa basa-basi lagi, telfonpun ditutup.


" Yank!!" Panggil Arin.


" Udah selesai?" Sambil berjalan mendekat.


" Kita cari atm dulu ya, aku mau transfer bentar." Sambil memasukkan hp ke dalam dompetnya.


" Suamimu yang nyuruh?"


" Iya."


" Dia lagi dimana?"


" Di rumah."


" Kenapa bukan dia yang pergi aja? egois banget sih."


" Emang kenapa?"


" Dia kan nggak tau posisi kamu saat ini deket atm atau nggak? Terus ini kan malam hari, dia kan taunya kamu sendirian. Seandainya atm yang kamu cari jaraknya jauh, apa dia tetep nyuruh kamu?" Arin diam saja.


" Tega amat sama istri!" Brian menggerutu sendiri.


" Udaaahhhh.....ayo pergi!! mau nganterin nggak nih??"


" Mana tega aku biarin kamu pergi sendiri yank."


" Ya udah ayo!! ngomel aja kayak emak-emak komplek." Kata Arin sambil menarik tangan Brian.


" Suamimu diktator ya kayaknya. Kalau aku punya istri kayak kamu, bakalan aku jagain yank, aku muliain."


" Berarti istrimu sekarang kamu muliain dong!"


" Iya sebisa mungkin pekerjaan aku handle sendiri, aku nggak mau ngerepotin dia kalau nggak terpaksa banget."


" Masak sih??"


" Iyalah yank. Palingan dia aku tugasin hal-hal yang ringan aja, makanya aku mending bayar pegawai."


" Tapi kan aku cuma transfer aja, nggak berat." Bela Arin.


" Emang nggak berat, tapi kan suamimu kayaknya nggak mau tau situasi dan kondisimu sekarang yank."


" Udah deh nggak usah bahas suamiku, bahas yang lain aja."


" Maaf yank. Aku cuma menyayangkan aja. Dia itu seharusnya beruntung dan bersyukur punya istri kayak kamu, bukannya semaunya sendiri kayak gitu." Arin diam saja. Benar sekali yang dikatakan oleh Brian, Yuda memang tidak bisa dibantah sedikitpun, sehingga dia jadi merasa tidak nyaman berada di samping Yuda. Apapun selalu diprotesnya, seolah Arin itu tidak boleh sedikitpun membuat kesalahan.


Saat tiba di atm, ternyata antrian panjang.


" Hehhhh..bakalan lama nih yank!!"


" Ya udah kamu tunggu di sini ya, duduk manis dulu, biar aku yang ngantri. Kalo udah tiba gilirannya, kamu aku panggil ya?"


" Bener nih? nggak papa?"


" Hiiihhhhh...bawel...!! apa sih yang nggak buat kamu." Sambil berjalan menuju antrian atm. Arin tersenyum, sembari duduk di sebuah pagar pembatas.


" Hemmmm....kalau Yuda mana mau dia ngantri kayak gitu. Jangankan ngantri di atm, ngantri di dokter aja dia malas, dan justru memintaku pura-pura sakit dan menggantikan dia yang periksa ke dokter, kemudian dia tinggal minum obatnya aja, sambil duduk manis di rumah." Kata Arin dalam hati.

__ADS_1


Yuda yang sedari kecil hidup berkecukupan, dan apa yang diinginkan selalu terpenuhi, membentuknya menjadi pribadi yang tidak mau susah. Walaupun dulu saat awal menikah, hidup mereka belum berkecukupan seperti sekarang, namun ternyata itu tidak dijadikannya pelajaran berharga buatnya, justru sekarang dia menjadi semakin sombong dan angkuh. Dan yang paling menjengkelkan, Yuda itu selalu menyalahkan orang lain, tapi tidak pernah intropeksi diri sendiri. Arin selalu diam dan terus diam, dia malas jika suaminya itu sudah mulai mengomel, pasti bakal panjang lebar.


__ADS_2