
Sementara itu Arin segera memejamkan matanya setelah menyimpan hpnya di dalam almari. Sudah pukul 1 lebih, namun Yuda belum juga pulang. Biasanya saat kendaraan suaminya itu memasuki rumah akan terdengar pintu garasi di buka, namun hingga sekarang Yuda belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ternyata setelah kepulangan tamunya itu, Yuda tidak langsung kembali ke rumah, melainkan mengobrol dulu bersama asistennya.
" Kamu yakin mereka bisa dipercaya?"
" Yakin pak!! Lihat sendiri mereka bisa dengan mudah dirayu pakai uang. Orang-orang model seperti itu akan bergerak cepat jika memang ada imbalan yang mereka dapatkan. Mereka tidak akan berpikir panjang lagi, yang ada di otaknya hanya pundi-pundi rupiah, tidak lebih."
" Ya..ya...ya..aku nggak mau aja jika biaya besar yang kukelurkan sia-sia."
" Tenang saja pak, saya akan pantau pergerakan mereka."
" Tapi ingat!! tidak ada keributan sedikitpun oke!!"
" Tidak akan pak, saya sudah mewanti-wanti mereka sebelumnya."
__ADS_1
" Pokoknya saya tau beres. Kamu paham kan kalau lahan itu benar-benar saya butuhkan?"
" Iya pak saya paham."
" Saya sangat paham pak karena itu menyangkut hubungan bapak dengan mantan bapak kan?" Kata asisten Yuda dalam hati.
Tanpa sepengetahuan Yuda ternyata sang asisten telah banyak mendapatkan informasi mengenai pembangunan pabrik garmen yang hendak Yuda dirikan. Sebagai asisten dia bertanggung jawab besar terhadap segala hal yang berhubungan dengan urusan pekerjaan. Karena secara tidak langsung dia turut andil dan juga terlibat dalam proyek itu.
Bagaimana tidak, dia memikul beban tanggung jawab besar. Dia juga yang telah mencari mitra dalam usaha baru milik Yuda tersebut. Demi sukses tidaknya usaha tersebut, mau tidak mau asisten Yuda harus menggali informasi sebanyak-banyaknya, termasuk siapa saja orang yang dilibatkan dalam proyek itu, tidak terkecuali Maya yang tak luput dari perhatian sang asisten. Dan setelah semua informasi didapatkan, dia baru paham bahwa Maya itu adalah mantan bosnya. Dia jadi mengerti kenapa bosnya itu bersikeras usahanya harus segera berdiri, dan bahkan sering mengabaikan urusan lain termasuk kejadian saat dia dimarahi klien gara-gara Yuda membatalkan janji secara sepihak.
" Ok, pokoknya saya tunggu informasi lanjutannya. Jika cara ini tidak berhasil kita harus menggunakan cara yang kedua yang sudah kita bicarakan."
" Baguslah, karena kita tidak perlu bersusah payah lagi membuat strategi." Yuda lalu melirik arlojinya. Tidak terasa sudah pukul 01.00 wib.
" Udah malam ayo kita pulang!" Ajaknya sembari berdiri." Diikuti asistennya.
__ADS_1
Saat masuk ke dalam, keadaan rumahnya sudah gelap. Hanya beberapa lampu saja yang hidup. Yuda segera masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya Arin sudah terlelap dibalik selimut tebal. Maklum, Yuda tidak pernah mau jika suhu ac di dalam kamarnya dirubah, walaupun cuaca sedang tidak mendukung. Mau tidak mau Arin mengalah, dan lebih memilih menggunakan selimut tebl untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk pori-porinya.
Setelah membersihkan diri, Yuda segera merebahkan tubuhnya di samping Arin. Tanpa menunggu lama dia sudah langsung terbuai mimpi. Yah kegiatan hari itu sangat menyita tenaganya dan juga otaknya. Arin yang biasanya sangat sensitif dengan gangguan sekecil apapun, saat itupun dia tidak mendengar sama sekali kehadiran Yuda, entah kenapa tidurnya begitu lelap. Namun tak lama kemudian tubuhnya menggeliat. Dia melihat ke sebelahnya, tempat yang tadinya kosong telah terisi, ternyata Yuda sudah datang.
Arin menatap wajah suaminya yang sedang terlelap begitu lama, ada rasa iba dalam hatinya. Sebenarnya dia adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga, terbukti dia selalu mencukupi kebutuhannya dan anaknya. Dan dia berharap sifat tanggung jawabnya itu tidak berubah, karena mungkin itu adalah salah satu hal yang positif yang masih dimiliki Yuda saat ini semenjak mereka kaya raya.
Arin usap perlahan wajah yang terlihat begitu tenang itu. Jika sedang tertidur begitu Yuda terlihat sangat tampan dan damai, membuat Arin begitu rindu saat-saat hubungan mereka begitu mesra dan bukan seperti sekarang. Berbeda jika pria itu sudah membuka matanya, yang tersisa adalah wajah yang tak pernah dihiasi senyum sedikitpun, walaupun itu di hadapan istrinya. Dia hanya mau tersenyum jika ada di antara orang tuanya, dan lebih kepada senyum palsu dan sikap yang dibuat-buat, seolah hubungannya bersama Arin begitu romantis.
Tiba-tiba Arin meneteskan Air mata. Kemana hilangnya masa-masa indah mereka dulu? disaat ekonomi mereka sudah lebih mapan, harusnya hubungan merekapun semakin baik, dan bukannya malah semakin jauh dan dingin seperti ini.
Dalam hati kecil Arin sebenarnya dia begitu iba menatap wajah suaminya itu. Karena sikap suaminya yang semakin hari semakin berubah kasar, membuat cintanya terkikis sedikit demi sedikit, bahkan berpaling pada laki-laki lain yang mampu memberikannya kenyamanan, walaupun jaraknya berjauhan. Dulu cinta mereka berdua begitu besar, saat tidak bertemu suaminya sehari saja, rasanya dia begitu rindu dan tidak sanggup berlama-lama jika harus berjauhan, itu pula yang dirasakan Yuda. Namun sekarang kebalikannya, jika Yuda keluar rumah untuk mencari nafkah, justru Arin merasa lega, karena entah kenapa setiap kali Yuda ada di rumah, ada saja sikap Yuda yang membuatnya selalu meradang dan sakit hati.
Arin saat ini lebih memilih menceritakan banyak hal kepada Brian dibandingkan pada suaminya sendiri. Karena Brian akan menanggapinya dengan antusias, dan tidak jarang memberikan masukan yang positif kepada Arin, dia akan betah berlama-lama sharing mengenai berbagai macam persoalan dibanding berbicara kepada Yuda, karena tidak jarang suaminya itu akan menanggapinya dengan ketus dan ogah-ogahan.
Padahal sedari dulu Arin berusaha untuk tetap menjadi istri yang baik, saat ekonomi mereka pas-pasan hingga melesat naik seperti sekarang. Tetap tampil menarik di hadapan suami dan tidak mengurangi sedikitpun kwalitas pelayanannya terhadap Yuda. Namun justru sebaliknya, Yudalah yang sudah berubah dan itu membuat Arin akhirnya memilih menjadi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Seandainya bisa memutar waktu, Arin ingin tetap hidup sederhana seperti dulu namun penuh cinta, walaupun tidak bisa memberi barang-barang mewah dengan mudah seperti sekarang, namun mereka tidak pernah kekurangan. Makan apapun terasa nikmat. Tidak seperti sekarang ini, tidak jarang Arin dibuat pusing oleh selera lidah Yuda yang membuatnya kelabakan dan tidak segan mendiamkan istrinya cuma gara-gara makanan.
Arin perlahan mengusap pipinya yang telah basah oleh air mata. Dia bingung dengan masa depan rumah tangganya jika terus seperti ini. Dia takut dia tidak mampu bertahan menghadapi sikap Yuda jika tidak mau berubah. Sabar itu memang tidak ada batasnya, namun ketika sebuah hati jika terus-terusan disakiti apakah dia bisa mengendalikan kesabaran itu. Kelebihan wanita adalah terletak pada perasaannya. Wanita akan lebih menggunakan perasaan mengenai banyak hal. Dan saat ini mungkin perasaan Arin sudah sedikit mati pada Yuda, dan dia benar-benar takut jika sewaktu-waktu bom itu akan meledak dan menghancurkan semuanya tanpa bersisa.