CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
ARIN MEMINTA IJIN


__ADS_3

" Lama banget sih?? emang kamu bikin kopinya di mana?" Benar saja Yuda langsung mengomeli Arin.


" Ya di dapur mas, emang di warteg!!" Jawab Arin sebal.


" Emang harus selama itu ya?"


" Ya kan airnya harus direbus dulu mas, nanti kalau airnya ga direbus dulu mas marah....lagian mas naruh rokok dimana sih, aku harus nyariin dulu."


" Kok malah kamu yang marah??"


" Bukannya marah...mas tuh nggak bisa ya naruh rokoknya itu di satu tempat, jadi aku nggak perlu bingung nyariin!!"


" Nihhh...aku beliin yang baru lagi, tadi aku lama karena nyariin rokok mas tapi nggak ketemu-ketemu."


Yuda cuma memutar matanya jengah mendengar kalimatnya yang sudah dibantah. Dia sangat menyadari bahwa sekarang Arin memang mulai berani berontak padanya, dan itu membuat keduanya jadi semakin jauh.


Bukannya meminta maaf, Yuda malah terlihat santai saja, dan asyik menyeruput kopinya sambil kemudian menyulut sebatang rokok. Sesekali dia terlihat senyum-senyum sendiri pada benda pipih di tangannya.


Arin hanya melirik sebentar, lalu ikut-ikutan hanyut dalam dunia sosmednya. Sore ini Arin memang sengaja menemani Yuda, dia ingin meminta ijin Yuda mengenai bisnis furniturenya. Namun sedari tadi Yuda terlihat asyikterus dengan androidnya.


" Mas!!" Panggil Arin akhirnya. Jika menunggu pria itu melepas hpnya, bisa-bisa menjelang tidur malam baru Yuda akan berpisah dari benda elektronik itu.


" Hemmmm....!!" Sahut Yuda malas-malasan dan tanpa menoleh sedikitpun pada Arin.


" Aku mau ngomong."


" Ya udah ngomong aja, aku denger. Telingaku masih normal!!"


" Yaelahhh....pake ditambahin telinganya masih normal segala. Kenapa sih nggak bisa ngomong sedikit lembut sama istrinya, adaaaa aja yang nyakitin!!" Kata Arin dalam hati.


" Hehhhhh....!!" Arin menarik nafas panjang.


Yuda melirik sebentar pada istrinya.


" Katanya mau ngomong?? jadi nggak??"


" Ohhh iya!!" Kata Arin buru-buru, takut mood suaminya berubah lagi.


" Aku mau bilang kalau aku udah dua bulanan ini punya usaha mas!!"

__ADS_1


" Hemmmm....!!" Jawab Yuda biasa saja dan tetap tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali.


" Mas!! bisa nggak sih serius dikit?? aku ini ngajak ngomong beneran!! Hpnya ditaruh dulu kenapa??"


" Lho kamu pikir aku nggak dengerin serius??? Dari tadi juga aku dengerin."


" Terus pendapat mas gimana?"


" Pendapat apa lagi??"


" Ya pendapat mas tentang usahaku itu??"


" Kan usahamu udah jalan, kenapa harus tanya aku lagi?? ya udah diterusin aja. Toh udah berjalan kan?? kecuali kamu baru mau mulai, terus kamu ijin aku, baru aku keluarin pendapatku. Kalau sekarang kan kamu cuma sekedar memberitahu aja, ya udah lanjutin."


" Maaf mas, karena kalau seandainya aku ijin sebelumnya, pasti mas nggak bakal ijinin. Tapi aku kan masih bisa bagi waktu mas. Aku pergi waktu mas kerja, dan pulang sebelum mas ada di rumah."


" Ya udah lanjutin aja!!" Kata Yuda.


Entah kenapa tiba-tiba pikiran Yuda berubah. Dulunya dia amat tidak suka jika Arin itu ikut-ikutan mencari nafkah, namun sekarang justru Yuda ingin Arin menyibukkan diri dibanding selalu kepo dengan urusan pekerjaannya. Apalagi dia saat ini sedang membangun bisnis bersama Maya dan masih tahap awal, semua itu butuh konsentrasi penuh tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk urusan-urusan tidak penting, apalagi sikap kepo Arin yang selalu bertanya ini itu masalah pekerjaannya.


" Beneran mas, mas nggak marah???" Tanya Arin antusias.


" Hemmm!!"


" Aku bilang lanjutin aja, kamu nggak denger??? Kamu mau pikiranku berubah lagi???"


" Ehhh iya mas..iya..makasih!!" Kata Arin antusias.


" Ya udah mas lanjutin main hpnya, aku mau masuk ke dalem dulu ya!!" Kata Arin tersenyum sumringah, sambil berdiri dari tempat duduknya.


Hati Arin begitu bahagia. Dengan ijin suami yang dikantonginya, otomatis langkah Arin untuk membina usaha itu agar lebih maju pasti lebih mudah ke depannya. Tidak lagi merasa khawatir akan sikap Yuda yang nantinya bisa menjadi penghalang baginya.


Arin benar-benar tidak menyangka, suami dinginnya itu membolehkan dia untuk bekerja. Entah setan apa yang sudah mempengaruhi pemikiran Yuda, sehingga tanpa Arin sangka yang awalnya dia begitu was-was jika drama perijinan itu akan diwarnai perselisihan lagi, namun ternyata apa yang dibayangkannya sama sekali tidak terjadi. Justru dengan mudahnya Yuda meminta Arin untuk melanjutkan.


Yuda melirik Arin yang melenggang santai masuk ke dalam rumah. Sedari tadi dia memang merasa terganggu dengan kehadiran istrinya itu. Karena niat hati ingin menghubungi Maya jadi tertunda.


Usahanya bersama Maya memang sedikit memiliki kendala, semua alat yang dibutuhkan sudah deal hanya tinggal pembayaran dan siap kirim ke alamat yang disebutkan oleh Yuda, namun ternyata masih terhalang oleh permasalahan ijin tempat yang belum keluar. Ada beberapa warga sekitar yang tidak setuju dengan pabrik yang akan didirikan Yuda karena dekat tempat hunian mereka, sehingga sampai sekarang tempat usahanya itu belum juga dibangun.


Tanpa menunggu lama, dia langsung mencari nama Maya di hpnya.

__ADS_1


" Tuuutttt....tuuutttt.....!!" Berkali-kali dia menekan tombol call, namun tidak juga diangkat.


Kembali Yuda mengulangi panggilannya.


" Hallo!!"


" Hallo May, kok lama sih ngangkatnya? lagi sibuk ya??"


" Emangnya aku harus bawa hp kemana-mana Yud??"


" Ada apa?"


" Cuma mau bilang aja, aku udah dapet klien yang siap menerima produk kita untuk dipasarkan ke luar kota."


" Ohhhh cuma mau bilang itu??"


" Lho kok kayaknya nggak seneng gitu sih??"


" Bukannya nggak seneng Yud, itu kan kemarin udah kamu bilangin ke aku, dan sekarang kamu bilang lagi."


" Ehhh masak iya??" Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Namanya Pak Harun kan?? Surveyor satu-satunya di daerah N yang dipercaya sama perusahaan pakaian merk D??"


" Ehhh iya ya, kamu udah tau semua."


" Ya jelas taulah, baru kemarin kamu ceritain ke aku lewat telfon!!" Jawab Maya jutek.


" Terus gimana?? Lahan yang mau kita bangun buat pabrik aja masih bermasalah, ini malah udah bingungin masalah suveyor segala!!" Lanjutnya.


" Itu aku akan urus May, tenang aja. Tinggal butuh tanda tangan beberapa warga aja."


" Kamu nggak bisa sembarangan Yud. Pabrik di sekitar hunian warga itu pasti limbahnya akan mengganggu mereka. Pikirkan itu baik-baik."


" Jangan sampai ke depannya nanti bisa menghalangi kita. Kalau mau buat tempat usaha itu baiknya jangan ada sedikitpun permasalahan, apalagi di awal-awal seperti ini."


" Ahh itu gampang May, kamu tenang aja. Mereka mungkin butuh ganti rugi yang sedikit besar, makanya ngotot tidak mau memberikan tanda tangan. Toh kita membangun pabrik itu juga nantinya bisa memberikan mereka lapangan pekerjaan."


" Jangan menggampangkan masalah Yud, bicarakan baik-baik. Mungkin bukan uang yang mereka butuhin, tapi ada pertimbangan lain. Masalah kesehatan misalnya. Kamu harus memikirkan tentang limbah pabrik kita, nantinya jangan sampai mengganggu hunian mereka. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain."

__ADS_1


" Iya May, aku akan atasi itu, kamu jangan khawatir."


" Hemmmm....aku harus mencari seseorang yang bisa aku andalkan untuk mengatasi mereka, masak mereka nggak akan tergiur kalau aku kasih ganti rugi 2 kali lipat dari harga tanah mereka itu." Kata Yuda dalam hati.


__ADS_2