CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
YUDA PULANG


__ADS_3

Arin terus melajukan kendaraannya. Matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat, namun masih sedikit terlihat temaram cahayanya. Tidak ada rasa was-was, atau khawatir seperti yang dirasakannya selama ini jika dia pulang terlambat. Entah kemana hilangnya rasa takut itu. Entah kemana juga hilangnya rasa ngeri saat Yuda emosi mendapati istrinya pergi dan tiba di rumah tidak sesuai jadwal yang ditentukannya. Yuda yang tidak mau mengerti alasan apapun yang diberikan oleh Arin. Yuda yang selalu menganggap kesalahan kecil adalah fatal dan tidak bisa dimaafkan. Dan masih banyak hal-hal receh lainnya yang menurut Arin tidak perlu dibahas di forum resmi bak rapat DPR, seperti ketika Yuda membahasnya dan memvonisnya ibarat seorang pesakitan.


Saat memasuki gerbang utama, Arin melihat mobil Yuda sudah terparkir di dalam garasi. Garasi yang cukup luas dan muat dimasuki 3 kendaraan. Pintunya masih terbuka lebar, itu artinya Yuda baru saja datang, karena pria itu mana mau menutupnya kembali, dan pasti selalu Arin yang membukanya, ataupun menutupnya jika Yuda mengeluarkan atau memasukkan mobil.


" Hemmmm....Bang Toyip udah pulang rupanya, kirain masih betah tidur di luar." Gumam Arin.


Arin segera turun sembari menebak-nebak apa yang akan dihadapinya kali ini. Apakah Yuda akan tetap membiarkannya dan seolah tak perduli padanya, atau justru sebaliknya semakin meradang melihat Arin pulang sesore ini, karena lebih dulu Yuda di rumah ketimbang dia.


" Assalamualaikum." Tidak ada jawaban dari dalam. Arin terus masuk ke dalam rumah. Saat tiba di ruang tv, ternyata ada Yuda di situ sambil menikmati segelas kopi.


" Heeehhh...cuma buka mulut buat jawab salam aja kayaknya berat banget." Gerutu Arin yang merasa jengkel karena salamnya tadi tidak dijawab oleh Yuda, dan terus berjalan menuju ke arah kamar, pura-pura tidak melihat suaminya.


" Oooohhhh....ada yang keenakan rupanya selama aku nggak ada di rumah. Bebas kemana aja, nggak ada yang larang. Semakin didiemin semakin senang ya kamu. Udah kayak nggak punya aturan, pulang sore semaunya sendiri!!" Tiba-tiba Yuda menyambutnya dengan kata-kata pedas.

__ADS_1


" Ehhh ada mas? kirain nggak ada orang lho, soalnya tadi salamku nggak ada yang jawab, nggak taunya mas duduk di situ ya." Kata Arin sesantai mungkin, padahal hatinya gondok luar biasa dengan kata-kata Yuda tadi.


" Aku mandi dulu ya mas, gerah banget nih badanku." Kata Arin lagi sambil terus berjalan.


Yuda bengong sesaat dengan sikap Arin barusan. Padahal sebelum ini, jika dia menggertak Arin sedikit saja, wanita itu pasti sudah sangat kebingungan dan berusaha memperbaiki kesalahannya. Namun kali ini sebaliknya, Arin terlihat santai sekali seolah tidak terjadi apa-apa, dan justru sikapnya dibuat semanis mungkin. Yuda marah sekali, karena dia merasa Arin sengaja mengejeknya.


" Kenapa dia? aku diamkan beberapa hari ini kenapa terlihat santai sekali? dan nggak merasa salah sama sekali?" Kata Yuda dalam hati.


Ketika sadar, Yuda langsung menyusul Arin di kamar. Namun ternyata Arin sudah masuk ke dalam kamar mandi, dan yang lebih menjengkelkan, Arin mandi sambil bernyanyi-nyanyi seperti sedang merasakan kebahagiaan luar biasa. Padahal hatinya panas luar biasa mendapat sambutan sadis dari suaminya tadi, namun dia berusaha menghibur dirinya sendiri.


Kepala Yuda rasanya seperti mau meledak, karena dia merasa Arin telah meremehkannya. Arin seolah tidak mendengarkan teguran Yuda saat baru masuk tadi.


Untungnya adzan magrib terdengar nyaring, sehingga Yuda mengurungkan niatnya untuk menegur Arin. Dia lalu keluar kamar dengan tetap membawa kemarahannya.

__ADS_1


Setelah rapi dan selesai menunaikan kewajibannya, Arin segera keluar kamar. Dibukanya tudung saji, masakan yang disiapkan dia untuk Yuda ternyata belum disentuh sama sekali, posisinya masih sama saat Arin meninggalkannya tadi. Arin sendiri sudah malas untuk menyentuh makanan itu. Padahal Yuda sudah ada di rumah, namun dia tetap tidak mau makan masakan Arin. Sudah seminggu lebih Yuda tidak pulang, namun Arin tetap menyiapkan makanan untuk dia, siapa tau Yuda kembali ke rumah. Walaupun toh makanan itu akhirnya tetap masuk ke dalam perut kedua asistennya, tapi minimal Arin tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


" Mbak, nanti beresin aja ya makanan ini."


" Nggak dimakan lagi ya bu?" Arin cuma menggeleng.


" Hehhhhh...sayang banget sih makanan enak bergizi begini dianggurin."


" Biarin aja mbak, yang penting kan aku nggak lupain kewajibanku."


" Iya bu, bapak kalau marah betah banget sih?"


" Hahaha udah biasa mbak."

__ADS_1


Kemudian Arin meninggalkan asisten rumah tangganya, diliriknya Yuda masih tetap bermain android di depan tv, padahal posisi tv masih hidup. Arin melewatinya tanpa menegur sama sekali, dan terus masuk ke dalam kamarnya. Arin merebahkan diri, rasanya hatinya sedih sekali, ingin dia menangis dan menjerit sekeras-kerasnya, namun berusaha ditahannya, walaupun dadanya terasa sangat sesak.


Kemudian dia menghidupkan musik dari hpnya dan mendengarkan sembari tidur-tiduran, minimal itu bisa melegakan sedikit perasaannya, agar tidak terlalu larut dalam masalah yang sedang dihadapinya.


__ADS_2