CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTENGKARAN


__ADS_3

" Mas!! kenapa sih cuma baju aja jadi masalah?" Sembari membuntuti Brian dari belakang. Spontan Brian membalikkan badan.


" Kamu bilang cuma? jadi menurutmu ini masalah sepele?"


" Ya iyalah, cuma gara-gara baju mas main pergi aja, nggak menghargai aku banget sih!!" Menjatuhkan diri dengan kesal di kursi.


" Nggak kebalik? dengan kamu berpakaian kayak gitu di luar, justru kamu yang nggak menghargai aku sebagai suami kamu!!"


" Kamu bangga kalau dilihat banyak orang di luar sana? Kan banyak baju yang lebih pantas kamu pakai, selain baju kurang bahan kayak gitu."


" Pleas deh mas....Sejak kapan mas begitu perduli dengan caraku berpakaian? apa nggak ada hal yang lebih penting lagi buat dibahas semalam ini? ini udah larut malam banget mas, waktunya orang tidur bukannya berdebat!!"


" Kamu yang nggak pernah sadar!! sejak dulupun aku selalu komplain dengan caramu berpakaian, bahkan aku minta kamu tutup auratmu, kamu nggak pernah mau kan?"


" Aku merasa belum siap aja mas."


" Kamu selalu beralasan!! Terus kapan kamu siapnya? jangan sampai nunggu kesabaranku habis baru kamu siap!"


" Ohhh mas mengancamku?"


" Jika demi kebaikanmu dan kebaikan keluarga kita, bukan cuma ancaman aja yang aku lakukan, tapi bisa lebih dari itu!!"

__ADS_1


" Lho selama ini juga keluarga kita baik-baik kan? nggak pernah ada masalah akibat cara berpakaianku."


" Itu menurutmu, karena aku selalu memilih diam jika kamu sudah mulai membantahku."


" Buktinya baru malam ini kita bertengkar gara-gara pakaianku, itu juga mas yang terlalu berlebihan."


" Aku itu cuma minta kamu ganti baju, kamu bilang berlebihan?"


" Mir, aku udah lelah sering memperingatkanmu, tapi kamu nggak mau mendengarnya. Aku ini suamimu, seharusnya kamu menuruti permintaanku dong untuk merubah penampilanmu."


" Dengan kamu berpenampilan seperti itu, kamu sama aja mempermalukan aku, orang akan berpikir bahwa aku sebagai suamimu nggak bisa mendidikmu."


" Ngapain pusing dengan omongan orang? orang itu bisa nya cuma mengkritik dan ngomongin di belakang. Bukan mereka ini yang ngasih makan kita. Kita diem aja masih banyak yang ngomongin mas, jadi nggak usah pusing dengan omongan orang."


" Dengar ya, sebagai suamimu aku tetap mau kamu rubah penampilanmu, apa uang bulanan yang aku kasih ke kamu kurang, sehingga kamu beli baju yang kurang bahan gitu?"


" Apaan sih mas? kenapa jadi merembet kemana-mana? Kalimat itu menyinggung perasaanku ya!"


" Kamu pikir sikap kamu itu nggak menyinggung perasaanku sebagai seorang suami? kamu selalu beralasan belum siaplah, panaslah, inilah, itulah. Orang itu seiring usia bertambah, seharusnya penampilannyapun kudu berubah, bangga banget pamer aurat kemana-mana."


" Kamu pikir orang yang melihatmu nggak risih?"

__ADS_1


" Ya terserah, salah siapa ngeliatin?"


" Jangan salahin yang ngeliat, salahin kamu tuh yang suka pakai baju sembarangan."


" Aku males mas berdebat sama kamu cuma masalah pakaian aja diributin. Nggak penting!!" Kata Mirna sembari masuk ke kamar.


" Hei kamu mau kemana? ada suami ngomong main pergi aja."


" Tidur, ngantuk!!" Sambil menutup pintu kamarnya.


" Astahfirullah hal adzim!!" Brian terkejut dengan sikap Mirna.


" Aku gagal didik dia." Bisik Brian kemudian.


Brian lalu terduduk lemas di kursi yang ada di ruang tamu. Mirna seberani itu padanya.


" Ya Allah kenapa dia nggak pernah mau dengar kata-kataku sih? Kenapa dia nggak pernah mau merubah penampilannya sih?"


Mirna sebenarnya sosok istri yang strong dan tahan banting. Pekerjaan apapun dilakoninya demi untuk membantu perekonomian keluarga. Bahkan sekarangpun saat keadaan ekonomi mereka sudah lebih dari cukup, Mirna tetap tidak mau tinggal diam di rumah. Walaupun sekarang sudah ada pegawai yang membantunya, dia tetap ingin terlibat langsung dalam usaha yang mereka rintis bersama. Padahal Brian sudah memintanya untuk konsentrasi merawat anak-anak mereka, dan merawat dirinya sendiri. Brian mampu menggaji pegawai demi untuk memberikan waktu luang bagi Mirna untuk memanjakan diri sendiri. Namun Mirna menolaknya, dengan alasan badannya sakit semua jika jarang bergerak. Namun efeknya, Mirna semakin tidak memperhatikan penampilannya karena toko sembako milik mereka semakin hari semakin ramai.


Tidak jarang Brian memintanya ke salon untuk sekedar spa ataupun perawatan tubuh untuk istrinya, namun Mirna menolaknya mentah-mentah, dengan alasan pemborosan. Sebenarnya Brian ingin melihat istrinya bisa menikmati apa yang telah mereka miliki saat ini, jangan terlalu ambisi untuk terus menumpuk harta, namun mungkin karena dulunya Mirna sudah terbiasa bekerja keras, maka sekarang dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

__ADS_1


Brian kemudian mengeluarkan hp dari saku bajunya. Dia teringat Arin. Brian berpikir bahwa pasti Arin tadi sedikit kecewa karena mematikan telfonnya dengan tiba-tiba. Namun itu harus dilakukannya sebelum Mirna tau dia sedang menelfon seseorang.


Brian lalu mengecek wa-nya, dan ternyata Arin tidak menulis status satupun untuknya. Brian sedikit kecewa, lalu dimasukkan kembali hpnya ke dalam saku kemudian merebahkan diri di atas sofa yang ada di ruang tamu. Dia masih sangat marah dengan Mirna, dan rasanya malas tidur bersebelahan dengan istrinya itu.


__ADS_2