CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MAYA VS YUDA


__ADS_3

" Masuk Jenny!!"


Membuka pintu mobil, dan menyuruh anaknya masuk. Jenny menurut walaupun sedikit enggan. Namun sepanjang perjalanan, Jenny terus bungkam dan tidak mau berbicara sepatah katapun.


Mayapun demikian. Karena dia tau sifat anak semata wayangnya itu. Jika dalam kondisi marah, dia tidak akan mungkin mau diajak bicara. Jika Maya memaksa, makan Jenny akan semakin menjadi-jadi.


Sampai di rumah tanpa mengucap salam Jenny langsung masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya dengan keras.


" Astagfirulah hal adzim!! Kenapa lagi itu anak!!" Ibu Maya yang berpapasan dengan Jeny terkejut saat mendengar suara pintu kamar cucunya yang dibanting.


" Assalamualaikum."


" Waalaikum salam."


" Kok udah pulang May?? katanya mau langsung ke butik??"


" Nggak mah, tuh lagi ngambek." Sambil matanya menuju kamar Jenny. Kemudian menjatuhkan tubuh di kursi dan menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata.


" Kenapa lagi?"


" Hehhhh....!!" Maya menarik nafas sejenak.


" Dia keterlaluan mah, masak ngerjain Yuda."


" Ngerjain gimana?"


Maya kemudian menceritakan semua kejadian yang membuat Jenny marah.


" Hemmm kamu kan paham, anak itu dari awal emang udah nggak suka sama Yuda May, apalagi sekarang dia tau Yuda udah beristri. Pasti anak itu trauma kamu disakiti lagi."


" Mamapun sejak awal nggak suka kamu berhubungan lagi dengan Yuda, lain halnya jika Yuda masih single."


" Iya Maya tau mah, cuma seharusnya nggak boleh seperti itu dong tindakan dia. Itu udah keterlaluan banget mah, Maya malu sama Yuda, dipikir Maya nggak bisa mendidik Jenny dengan baik."


" Masalah Yuda itu gampang May, kamu tinggal jelasin aja masalah sebenarnya, dia pasti bakalan ngerti kok."


" Kenapa sih Jenny nggak bisa jaga nama baik Maya? Maya nggak habis pikir sama itu anak."

__ADS_1


" Jenny itu masih remaja May, kamu harus pelan memberi nasehat sama dia, nggak bisa kasar, karena pasti dia akan semakin menjadi-jadi. Dia itu sebenernya pengen melindungi kamu, cuma caranya yang salah. Ajak dia bicara baik-baik, pasti dia mau ngerti. Memberi masukan sama anak seusia Jenny itu itu susah-susah gampang, karena anak segitu biasanya emosinya masih labil. Mereka egonya masih tinggi dan berpikir bahwa merekalah yang paling benar. Kamu pernah kan seusia Jenny? Jadi kamu pasti bisa mengatasi anakmu itu."


" Iya mah, memang sulit mengikuti jalan pikiran ansk seusia Jenny. Nanti Maya coba bicara sama dia."


" Ingat!! pelan-pelan kasih pengertiannya, jangan pakai emosi ya?"


" Iya mah, makasih. Ya udah Maya ke kamar dulu ya, belum sholat dhuhur." Kemudian Maya segera masuk ke kamarnya.


Ibu Maya hanya geleng-geleng kepala melihat cucu dan anak perempuannya sedang bertengkar.


Selesai sholat, Maya segera menelfon Yuda, dia ingin menceritakan duduk perkara yang sebenarnya.


" Hallo Yud?"


Yuda langsung mengangkat telfon yang memang sedari tadi dinanti-nantikan.


" Kenapa baru telfon sekarang? kamu udah baca kan screen shoot chat kita tadi pagi?"


" Iya maaf Yud, tadi aku lagi di luar sama Jenny."


" Iya Yud, maaf sekali lagi. Sebenernya yang ngechat kamu dan ngajak kamu janjian itu Jenny Yud, bukan aku."


" Maksudmu??"


Lalu Maya bercerita panjang lebar.


" Jadi tadi dia sengaja mengerjaiku?"


" Duhhh maaf ya Yud, dia itu nggak suka kita deket."


" Kamu tau nggak May?? gara-gara kamu, aku sampai lupa menemui klienku, dan tadi dia mengancam akan memutus kontrak kerjasama kami."


" Lho...kok kamu nyalahin aku, kan kamu yang lupa nemuin klienmu, kok jadi nyalahin aku ?"


" Bukan kamu, maksudku gara-gara chat anakmu!!" Lagi-lagi Yuda mengkambinghitamkan orang lain atas kecerobohannya.


" Lho itu kan karena kesembronoanmu? seandainya kamu udah ada janji ketemu klien, kenapa kamu mengiyakan chat yang dikirim anakku?? Keputusan kan ada di tangan kamu, dan itu keputusan yang kamu buat sendiri, harusnya kamu bisa dong memprioritaskan hal yang lebih penting dibanding hanya sekedar makan siang bersamaku. Jangan suka mencari kesalahan orang lain ya atas kelalaianmu sendiri!!" Naluri seorang ibu mulai keluar, dimana tidak ada satu orang tuapun yang mau anaknya diusik.

__ADS_1


" Karena aku menghargai ajakanmu May, dan aku pikir itu benar-benar chat kamu yang nulis."


" Lha itu kan berarti udah keputusan kamu untuk menerima resiko atas pembatalan janji yang udah kamu buat. Kalau udah tau resikonya ya jangan menyalahkan siapa-siapa dong."


" Hahaha...Yuda-Yuda...kalau aku jadi kamu, aku berpikir dua kali lagi untuk menerima ajakan makan siang seseorang. Siapapun dia, ketika aku sudah memiliki janji dengan orang lain, maka aku tidak akan melanggar janjiku. Kita bisa menilai seseorang itu dari omongannya lho Yud, konsekuen nggak dengan kalimat yang keluar dari mulutnya, apalagi cuma belain makan siang yang nggak penting."


" Tapi bagiku penting Maya!!" Yuda terpancing emosinya.


" Hey...kenapa membentak? biasa aja lagi Yud nggak usah pakai emosi. Hemmm...atau jangan-jangan kamu terlalu bahagia saat menerima chat yang dibuat Jenny, sehingga langsung mengiyakannya, dan lupa segala urusan pekerjaanmu? Kamu pikir itu beneran aku ya? Ow ow ow...jangan bilang kamu masih belum lupa kenangan masa lalu kita Yuda."


" Bu...bukan begitu...Aku cuma ingin kita berteman baik kayak dulu lagi walaupun udah jadi mantan May." Yuda terjebak dengan kalimatnya sendiri.


" Its ok...memang harusnya begitu, berteman baik, dan tetap menjadi teman."


" Yang harus kamu paham, Jenny nggak suka aku terlalu dekat sama kamu Yud, jadi aku nggak mau kita sering komunikasi kalau nggak ada urusan yang penting."


" Maksudmu?"


" Kamu udah tau maksudku Yud. Aku nggak mau ada kesalahpahaman jika kita terlalu dekat."


" Kamu itu pria beristri, kamu harus bisa jaga perasaan istrimu dong. Coba pikir, gimana perasaan dia kalau tau kamu sering chat aku?"


" Kan kita cuma chat biasa bukan chat mesra?"


" Tetep aja Yud, Nggak ada seorang istri yang rela suaminya chat perempuan lain, walaupun hanya sebatas teman."


" Kalau gitu aku mau istirahat dulu Yud. Sekali lagi, aku minta maaf atas kenakalan Jenny, aku akan nasehati dia. Selamat siang, assalamualaikum." Kemudian Maya menutup telfonnya, dan Yuda hanya bengong saja. Makan siang gagal, dan kerjasamanya terancam putus di tengah jalan.


Maya langsung melog off hpnya. Dia sangat kenal watak Yuda. Yuda pasti akan terus menelfonnya dan menerornya untuk sekedar menyelesaikan masalah yang menurutnya belum kelar. Namun Maya tidak ingin memperpanjangnya, hanya malah memberi peluang Yuda untuk terus menghubunginya.


" Siang-siang bikin emosi aja!! Siang panas gini mah enaknya minum es campur, bukannya denger orang ngomel-ngomel. Kesel banget!!" Gerutu Maya dan kemudian pergi ke dapur.


" Telfon yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi." Suara operator terdengar menghiasi nada panggil di sebrang sana.


" Hiiihh selalu begitu, dari dulu nggak berubah, masalah belum selesai pasti hpnya dimatikan." Gerutu Yuda. Dan sekali lagi dia mencoba menelfon Maya berharap hp Maya aktif. Namun tetap saja hanya suara khas operator yang menyambutnya.


" Heran...harusnya aku kan yang marah karena udah dikerjain anaknya, tapi kok malah dia yang marah? nggak kebalik nih??" Yuda menggerutu sendiri. Kemudian meletakkan hpnya di meja dan mengusap wajah dengan kedua telap tangannya serta menarik nafas dalam-dalam untuk sekedar mengurangi emosinya.

__ADS_1


__ADS_2