
Sesampainya di kantor, Yuda masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan kasar.
" Brakkkk!!!"
Beberapa pegawainya yang sedang lalu lalang spontan menyingkir dan menyelamatkan diri masing-masing, karena tidak mau menjadi sasarahan kemarahan bos arogannya itu.
Yuda mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Bukan hanya perutnya saja yang lapar, tapi juga kejengkelan luar biasa karena insiden kegagalan yang kedua kali untuk mengajak makan siang Maya.
" Kesini sebentar!!" Perintah Yuda melalui telefon genggamnya.
Tak lama pintu ruangannya diketuk dari luar. Seorang pria menyembulkan kepala dari luar, dan ternyata yang dipanggilnya adalah sang asisten.
" Belikan saya makanan di luar, cepat nggak pakai lama, saya udah laper!" Perintahnya tanpa basa basi.
" Ehhhhmmm...maaf kalau boleh saya tau apa ya pak menunya?"
" Terserah!!!"
" Kalau nasi padang gimana pak, kan ga pakai lama kalau nasi padang??"
" Saya bilang terserah ya terserah!!!"
" I...iya pak...baik!!" Sang asisten buru-buru keluar dengan dongkol.
" Udah nyuruh orang nggak bawain uang, ehhh menunya juga nggak jelas!! Giliran nanti nggak sesuai selera marah-marah, mana minta nggak pakai lama lagi, dipikirnya warung milik nenek moyang apa !!"
" Heran tuh orang, dulu lahirnya palingan bareng sama gunung meletus makanya bawaannya emosi melulu!!" Gerutu asisten Yuda sambil jalan dengan bersungut-sungut.
" Ssstttttt....kenapa lagi kok muka keliatan asem gitu??" Sekretaris Yuda yang kebetulan bertemu sang asisten menyapanya, lebih tepatnya menyapa sambil mengejeknya.
" Aseman mana ama bau keringetku?" Sembari menyodorkan ketiaknya dan mengibas-ngibaskan di depan sekretaris.
" Busyet!! Itu ketiak apa lubang got, bau amat??" Sambil menutup hidung dengan jarinya.
__ADS_1
" Ahhh masak??? Padahal aku tadi udah pakai parfum merk Jeniffer Lopis lho!!" Sambil mengendus-ngendus ketiaknya sendiri.
" Jelas aja baunya kayak got, kamu belinya yang literan bukan yang milian hahaha!!"
" Sialan!! Kamu pikir parfumku kayak bensin, pakai diliteri segala!!!" Sambil bersungut-sungut kembali.
" Tuh muka kenapa lagi?? Apa baru kena semburan panas gunung merapi??" Menggunakan istilah lain saat menyebutkan bos galaknya yang sedang marah.
" Tau tuh!! Dateng-dateng pesen makan sambil marah-marah nggak jelas. Mana udah nyuruh tapi nggak ngasih uang lagi. Dipikir kali aku bapaknya dimintain makan gratis!!"
" Hahaha...yang ikhlas kalau bantu orang itu. Ngasih makan orang yang kelaparan pahalanya banyak lho!!"
" Wooyyy dodol!! Itu kalau aku ngasih makannya sama kaum duafa, orang miskin dan anak-anak terlantar. Ini yang mau aku kasih makan harimau lapar gaisss!!"
" Judulnya kan tetep aja lapar to hahaha!!"
" Ahhh kamu tuh ada temen yang kesusahan kayaknya bahagia banget sih." Dengan tampang memelas.
" Bukan bahagia, tapi aku coba menghibur kamu. Bos kita kan emang udah bawaan orok kayak gitu. Kalau setiap dia marah terus kamu masukin hati, lama-lama kamu bisa kena darah tinggi terus stroke terus END gimana??" Sembari mempraktekkan menyilangkan telapak tangannya di leher.
" Makanya santai dong kayak di pantai. Kalau bos lain hobbynya itu main golf, terus kongkow-kongkow bareng temen, kalau bos kita itu beda, hobbynya marah-marah hahaha....!!"
" Hihihi...ssstt...jangan ketawa keras-keras nanti ada yang denger." Sembari menengok ke kanan dan ke kiri.
" Uuups!!" Spontan sang sekretaris menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Udah ahh aku pergi dulu, tadi dipesenin katanya nggak pakai lama." Sambil ngeloyor pergi.
" Biar cepet difoto aja Bray!!" Masih sempat menggoda, dan yang digoda hanya tertawa sembari menunjukkan kepalan tangannya.
Sementara itu Yuda terlihat sedang memijat pelipisnya, rasanya kepalanya mau pecah. Akhir-akhir ini pikirannya dipenuhi hal-hal yang berkaitan dengan Maya. Dia lupa dengan Arin yang telah dia abaikan, bahkan kehadirannya tidak dia anggap sama sekali, apalagi semenjak insiden marah pada waktu itu.
" Asisten nggak becus bekerja!! Dibilang terserah masihhh aja banyak tanya!!!" Gerutunya sambil menghidupkan sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam, berusaha menetralisir perasaannya yang sedang kacau dengan nikmat nikotin yang mulai memberinya efek tenang walaupun hanya sementara.
__ADS_1
Dia menatap beberapa map yang menumpuk di mejanya. Rasanya otaknya sedang buntu untuk diajak berpikir. Dia tidak membuka satupun map yang sebenarnya sangat membutuhkan tanda tangannya itu. Yuda terus menghisap rokok yang semakin lama semakin berkurang ukurannya akibat terbakar dan berubah menjadi sekumpulan asap yang bukan saja memenuhi ruangannya, namun juga berkumpul menjadi satu memenuhi rongga paru-parunya.
Asisten Yuda bergerak ekstra cepat untuk membelikan bosnya makanan. Tadi waktunya sedikit tersita akibat bercanda dengan sekretaris yang merupakan sahabatnya itu. Mereka akrab akibat memiliki nasib yang sama, yaitu sering menjadi sasaran kemarahan bos besarnya.
Sang asisten berlari kecil menuju ruangan milik Yuda. Nafasnya sedikit ngos-ngosan. Rasanya seperti habis dikejar anjing karena khawatir kena sasaran kemarahan Yuda lagi akibat terlambat membelikannya makanan.
" Hehhh..hehh...hehhh..." Nafasnya naik turun.
" Ini pak hehhh...hehhh..makanannya!!" Katanya sembari menghapus peluh yang membasahi wajahnya.
" Kenapa kamu?? Habis dikejer setan??"
" Nggak pak."
" Terus kenapa ngos-ngosan gitu??"
" Hehh..hehh...saya tadi lari pak!!" Masih di sisa nafanya yang naik turun.
" Kalau olahraga itu jangan di kantor, di lapangan sana lebih luas."
" Iya pak, saya memang tidak ada waktu olah raga di lapangan, makanya saya olah raga di kantor." Jawabnya asal.
" Buruan bawa sini makanannya, saya udah lapar."
" Iya ini, silahkan pak!!" Memberikan makanan dalam stereofom yang memang dipesan khusus oleh asistennya. Dia sangat tau bahwa Yuda tidak akan mau makan jika nasinya itu dibungkus dengan kertas, maka tadi sebelum pergi dia menyempatkan diri dulu mengambil stereofom di dalam ruangan pentri.
Yuda menerimanya dan langsung membukanya. Aroma harum masakan langsung menari-nari di depan indra penciumannya. Maklum dia sudah sangat lapar. Walaupun sedang marah, tapi bukan berarti dia lupa bahwa perutnya minta diisi.
" Saya permisi dulu."
" Hemmmmm!!" Jawab Yuda tanpa mengucapkan terimakasih. Untungnya walaupun Yuda adalah bos yang galak, namun dia bukan sosok yang pelit. Dia sering memberikan bonus pada pegawainya, maka dari itu pegawainya memilih tetap bertahan daripada kehilangan pekerjaannya. Begitu juga asistennya, walaupun Yuda sering meminta dia membelikan sesuatu tanpa memberinya uang, namun setiap akhir bulan dia selalu memberikan bonus khusus pada asistennya itu.
" Hehhhh...nyebelin banget sih!! Apa dia nggak sadar sih kalau aku itu lari karena buru-buru? Dia tadi kan bilang jangan pakai lama?? ehhh malah ngira aku ngelihat hantu. Bukan cuma hantu, tapi bosnya hantu, dan itu anda Pak Yuda!!" Berjalan sembari menggerutu sendiri. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Ehhh dia kan bosku, kalau dia bos hantu, berarti aku???" Sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Ralat...ralat nggak jadi!!" Katanya berbicara sendiri sembari menepuk bibirnya sendiri menyesali apa yang baru saja dia katakan.