CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PAGI YANG SIAL


__ADS_3

Sementara itu Yuda terlihat bersemangat sekali pagi ini. Setelah mandi dan merapihkan penampilan, dia lalu mengambil hpnya. Padahal masih pukul 06.00 WIB. Sembari menyelonjorkan kaki ditemani sepiring camilan dan kopi hitam yang baru dipesannya melalui pelayan hotel, Yuda mengetikkan pesan pada seseorang.


" Pagi Maya...Udah siap berangkat kerja or masih tidur??" Kemudian tombol kirim ditekannya.


Kemudian dia menyulut rokok, dihisapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul memenuhi seluruh ruangan, membumbung tinggi dan semakin lama semakin pudar, disusul kembali dengan asap baru yang keluar dari celah-celah bibir Yuda Sementara waktu, dia lupa Arin dan juga masalahnya. Sesungging senyum menghiasi wajahnya. Dia teringat moment kebersamaan dengan Maya semalam. Ternyata pertemuan singkat itu menggoreskan secuil kebahagiaan dalam hatinya.


" Clingg..." Jenny yang sedang mematut diri di kamar mamanya, melihat hp Maya yang tergeletak di meja riasnya berbunyi. Jenny melirik sebentar. Entah kenapa rasa curiganya timbul, dan rasa ingin tau isi pesan di hp mamanya membuat dia penasaran ingin membukanya.


" Hemmmmm....siapa pagi-pagi begini chat? sepenting apa sih?" Gerutu Jenny. Nama Yuda tertera di layar hp Maya.


" Hehhhhh...benar dugaanku, pasti laki-laki semalam." Jenny langsung membalas pesan wa tersebut.


" Kayak nggak ada kerjaan aja, pagi-pagi kepo sama aktivitas mama, nggak penting banget!!" Gerutu Jenny sembari membalas pesan Yuda.


" Drrrt..drrrrr..!" Yuda yang menyetel hpnya hanya dengan mode getar saja, bereaksi pada pesan yang dikirim oleh Jenny.


" Nggak perlu tau aku ngapain, emang nggak ada kerjaan ya pagi-pagi udah kirim pesan?"


" Ihhhh jutek amat? hahaha...wanita emang sulit dimengerti. Sok jual mahal nih, lupa apa semalam habis bermanis ria!!" Yuda mengira bahwa yang membalas pesannya adalah Maya, justru tergelak melihat balasan pesan darinya. Dengan pedenya dia membalasnya lagi.


" Idiiihhhh...galak amat, lagi dapet ya?"


" Hahhhh...nih orang, nggak punya etika banget, dibalas begitu bukannya berhenti dan minta maaf, malah godain...Hemmmmm..awas aja!!" Cerocos Jenny sambil sesekali matanya melirik pintu toilet berharap Maya belum keluar dari dalam sana.


" Maaf ya...aku sedang sibuk, nggak ada waktu buat ngurusin wa dari orang nggak penting kayak kamu."


" Hiiihhh..rasain!!" Sambil menekan tombol kirim.

__ADS_1


" Whattt...!!" Mata Yuda meloto saat membaca balasan pesan dari Jenny.


" Seriusan nih kayaknya Maya...kenapa dia kayaknya marah sama aku?? ada apa ya? padahal saat aku mengantarkan dia pulang, dia masih bersikap ramah, kenapa tiba-tiba jadi galak begini??"


" Kamu kenapa sih May?? semalam kita masih bercanda lho, kok sekarang tiba-tiba kamu jadi jutek begini, lagi ada masalah ya?" Yuda langsung mematikan rokoknya, rasa nikmat nikotin tak berasa lagi, saat membaca balasan chatnya.


" Nggak ada urusannya sama kamu, apa yang terjadi padaku, entah itu semalam atau sekarang, kamu nggak ada hak untuk ikut campur!!" Disertai emote marah.


Setelah tombol kirim ditekan, terlihat senyuman sinis tersungging di sudut bibir Jenny.


" Dengar ya...!! aku nggak suka kamu dekat dengan mamaku. Dan yang terpenting, setiap orang yang ingin mendekati mamaku, harus aku ketahui dulu latar belakangnya, nggak main selonong kayak kamu!!" Gerutu Jenny.


Jenny remaja yang baru saja tumbuh, masih mengedapankan emosi dan bukan akal sehat, merasa bahwa kepergian mamanya tanpa sepengetahuannya menumbuhkan rasa benci pada Yuda. Walaupun sebenarnya itu bukan murni kesalahan Yuda, karena Mayapun mengiyakan ajakannya tanpa ijin pada Jenny terlebih dahulu. Namun Jenny tak mau tau, intinya Jenny sudah terlanjur tidak menyukai Yuda.


Yuda semakin memelototkan matanya, kali ini dia langsung terbangun dari duduknya, namun gerakan yang begitu cepat, menyebabkan lututnya membentur meja yang ada di depannya.


" Hiiihhhh...sial banget sih!!" Sambil meringis kesakitan, dan terus mengusap lututnya yang masih nyeri.


Sambil jalan terpincang-pincang, Yuda segera berpindah duduk di atas ranjang. Telfon genggam masih berada di tangannya.


" Gara-gara kamu nih kakiku kebentur meja, menyebalkan!!" Gerutu Yuda sembari memelototi chatnya bersama Maya. Yuda hobbynya memang selalu menyalahkan orang lain dan tidak mau intropeksi diri. Kemudian dilemparkan hpnya ke atas ranjang, mood baiknya langsung lenyap seketika, wajahnya yang tadi terlihat sumringah, berubah kusut bak baju lusuh yang belum disetrika beberapa hari.


Kepala Yuda menengok kesana kemari mencari sesuatu. Dia lupa bahwa saat ini sedang berada di hotel, dan mana mungkin hotel menyediakan obat gosok untuk kakinya. Dia angkat kakinya ke atas, kemudian menarik celana panjangnya. Terlihat lututnya memerah pertanda ada memar di sans.


Sementara itu Jenny tertawa cekikikan melihat upayanya untuk menghentikan chat Yuda berhasil. Setelah ditunggu lama, Yuda tidak lagi membalas pesannya.


" Rasain!! Mau main-main sama aku!!" Gumam Jenny sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


" Cklek..!" Terdengar pintu dibuka.


Jenny buru-buru menghapus chatnya bersama Yuda tadi, dia tidak mau Maya tau bahwa dia baru saja mengerjai teman lelaki mamanya. Lalu Jenny pura-pura mematut diri di cermin lagi.


" Hemmm perasaan kamu di depan cermin udah dari semenjak mama masuk toilet, kok belum selesai juga? anak mama tuh udah cantik, jadi nggak perlu dipoles lama-lama." Sambil mencubit pipi Jenny yang mewarisi kecantikannya itu.


" Ahhh...mama kayak nggak pernah muda aja." Sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya.


" Eitttsss....atau jangan-jangan kamu sedang naksir seseorang ya? biasanya anak gadis kalau sedang jatuh cinta, suka berlama-lama di depan cermin."


" Apaan sih ma? nggaklah ya. Aku mau konsen sekolah dulu, bekerja, punya uang sendiri, baru deh nikah. Nggak usah pacaran lama-lama, buang-buang waktu."


" Hemmm....anak mama rupanya lebih dewasa dari yang mama kira. Mama setuju dengan cara berpikir kamu."


" Iyalah mah. Aku mau punya penghasilan sendiri seperti mama, biar bisa mandiri."


" Anak pinter!!" Sembari mengacak-acak rambut Jenny.


" Ihhh apaan sih mah, berantakan lagi nih!!" Sambil membenahi rambutnya, dan Maya hanya tersenyum.


Maya kemudian mengambil hpnya, memeriksanya sebentar, kemudian meletakkan kembali, karena tidak ada satupun pesan ataupun telfon yang masuk.


Jenny hanya melirik saja, dan berharap lelaki itu tidak membalas chatnya lagi.


" Mah aku tunggu di meja makan ya." Kata Jenny sembari menyambar tas sekolahnya.


" Iya, sebentar mama mau siap-siap dulu." Sembari memoles bedak tipis-tipis di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2