CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
BELANJA


__ADS_3

" Ini bagus nggak yank?"


" Bagus, tapi apa modelnya nggak terlalu seksi? ini kan lengan pendek? "


" Ini bukan buat aku, tapi buat istrimu."


" Buat istriku?"


" Iya, buat istrimu? Dia nggak pakai jilbab kan? aku rasa ini cocok buat dia." Brian tertegun sejenak.


" Ihhhhh...kok malah bengong sih, kenapa? kamu nggak suka ya? biar aku cariin yang lain aja ya?" Sambil berbalik hendak memilih-milih lagi.


" Ehhh nggak usah!! Udah ini aja bagus." Menarik tangan Arin.


" Tapi kayaknya kamu nggak suka gitu?"


" Bukannya nggak suka, cuma lagi mikir aja, apa kamu bener-bener yakin milihin baju buat istriku?"


" Hahaha...yakinlah. Emang kenapa?"


" Ya kan....!!"


" Aku emang cinta sama kamu. Aku emang cuma wanita kedua dalam hidup kamu. Tapi aku bukan wanita pelakor seperti dalam sinetron yang masukin bubuk gatal ke baju istri kamu ini." Memotong kalimat Brian.


" Bukan itu maksudku."


" Laluuuu..??"


" Emang kamu nggak cemburu ya?"


" Kalau cemburu mah udah pasti."


" Terus kok mau pilihin baju buat istriku?"


" Nggak papa kan sekali-sekali perhatian sama rivalku?" Sambil tersenyum. Brian cuma garuk-garuk kepala.


" Nggak kok yank bercanda...mau diapain lagi? kan udah jadi istri kamu."


" Terus tujuan kamu milihin baju dia?"


" Biar dia suka aja, kamu pergi masih inget dia di rumah. Semua perempuan pasti seneng kalau dibeliin baju sama suaminya yank."


" Tapi apa justru dia nggak curiga? aku nggak pernah kayak gini lho."


" Kalau dia curiga curiga ya? hemmm jujur itu lebih baik." Sok serius.


" Hahhhh...?? cari mati itu namanya!!"


" Hahaha...serius amat!!! Kamu tuh ya, cuma beliin baju buat istri khawatirnya udah kayak mau ngadepin perang dunia ke tiga. Santai aja Man... Tinggal bilang, sebagai bentuk permintaan maaf kemarin nggak ngajakin dia kesini, udah beres."


" Terus kalau dia kesenengan, terus ngajakin....!"

__ADS_1


" Ngajakin apa?"


" Itu...."


Arin mengernyitkan dahi, mencoba menerka kalimat Brian. Kemudian dia terbahak.


" Hahaha....ya udah diturutin, emang nggak kangen ya ninggalin dia beberapa hari?"


" Ya kan aku pasti belum bisa move on baru aja pisah sama kamu, soalnya ini bicara perasaan yank bukan ***** doang."


" Kalau itu mah urusan kamu, kamu yang bisa menghandlenya sendiri."


" Terus kamu nggak marah, atau gimana gitu, soalnya beberapa hari ini kan aku sama kamu terus?"


" Kalau dipikir ya pasti ada perasaan sedih, marah, nggak terima, tapi ngapain? kan nggak di depan aku ini? Lagian kalian udah menghasilkan anak itu berarti..."


" Ya maksudku...!"


" Udahhhh ahhh nggak asyik, bahas yang lain aja. Intinya kamu bilang aja, ini dari kamu, aku jamin dia bakalan seneng banget, ok!" Sembari memanggil petugas toko.


" Yang ini aja ya Mbak!!"


" Ohhh iya. Ada tambahan yang lain lagi?"


" Itu aja dulu."


" Baik, tunggu sebentar ya!" Kemudian petugas toko meninggalkan mereka.


" Pede benget kamu milih ukuran itu buat istriku?"


" Tau darimana kalau baju itu nggak bakal kekecilan atau kebesaran?"


" Hemmm...kalau kekecilan sih nggak mungkin, tapi kalau kebesaran dikit sih mungkin."


" Emang kamu tadi minta ukuran apa?"


" Rahasia dong, tapi udah aku jamin kalaupun kebesaran, yah cuma dikitlah."


" Tunggu! kamu tau ukuran baju istriku darimana?"


" Yahhh kira-kira aja sih. Instingku mengatakan, body istrimu sebesar ini." Sembari memperagakan dengan kedua tangannya, dan menggembungkan kedua pipinya.


" Hahaha...!" Brian tertawa. Mirna memang jauh dari kata langsing, namun yang diperagakan oleh Arin sepertinya dua kali lipat dari tubuh Mirna.


" Aku curiga nih, jangan-jangan kamu buka-buka medsosku ya?"


" Hihihi...dikittt!"


" Hemmm sudah kuduga. Eh tapi kan aku nggak pernah pajang foto dia di albumku?"


" Tapi dia berteman denganmu kan? dan dia komen di statusmu."

__ADS_1


" Ooooo..jadi selama ini kamu obok-obok medsosku?"


" Kayak kobokan aja diobok-obok."


" Ini Mbak!!" Pelayan tadi kembali, dan menyerahkan nota bon pada Arin.


" Sini yank, biar aku yang bayar."


" Nggak usah, biar aku aja. Nanti kalau ditanyain, bilang aja dari istri muda hahahaha!!!" Sambil berjalan menuju kasir.


" Ehhhhhh....ada ide yang lebih menyeramkan lagi ga?? Sambil terbahak.


" Ayo yank!!" Arin yang telah selesai membayar sejumlah uang di kasir, kemudian mengajak Brian keluar dari toko tersebut.


" Kok lama banget sih?"


" Ya kan ngantri sayang di kasirnya."


" Aku pikir tadi lagi menggosip sama kasirnya."


" Yeeee...enak aja, emang aku suka ngegosip??"


" Biasanya sih ibu-ibu kayak gitu."


" Ehhh sembarangan!! Aku bukan ibu-ibu ya!!"


" Terus apa??"


" Emak-emak!!!"


" Itu mah lebih parah hahaha!!"


Mereka berdua terus menyusuri jalan yang penuh pedagang di kanan kirinya. Kedua tangan Brian dan Arin sepertinya sudah tidak tersisa tempat lagi untuk menambah bawaan belanjaan mereka.


" Pulang yuk yank??"


" Yakin udahan belanjanya? tar nyesel lho?"


" Udah capek aku."


" Masak baru segitu capek?"


" Iya ihhh pegel kakiku. Ayo ke hotel aja. Udah cukup deh kayaknya."


" Ntar kalau masih ada yang kurang kan gampang balik lagi."


" Hemmm...dasar wanita!!"


" Yeee...apaan sih!!! Aku kan belanjanya bukan buat kebutuhan pribadiku, tapi oleh-oleh buat orang rumah!!"


" Hahaha..tapi kan hobi wanita tetap sama, yaitu belanja."

__ADS_1


" Kalau hobi wanita cuma tidur, pria ga akan mungkin makan, soalnya nggak ada wanita yang pergi ke pasar buat kebutuhan masak!! ok?"


" Hahaha...benar juga...Ya udah pulang aja yuk masak!!" Ajak Brian sembari terbahak.


__ADS_2