CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTENGKARAN


__ADS_3

Arin memilih sebuah gaun panjang berwarna abu-abu, dan memadupadankan dengan jilbab warna senada. Dia memang lebih menyukai warna-warna soft, dan tidak suka warna-warna mencolok. Setelah memeriksa riasannya sekali lagi di depan cermin dan dirasa sudah rapih, kemudian dia keluar kamar. Dilihatnya Yuda sudah menunggunya di ruang tengah.


" Ayo mas, aku udah siap!"


" Sebentar!" Jawab Yuda sambil mengotak-atik hpnya. Kemudian Arin duduk di kursi kosong yang ada di samping suaminya. Ditunggu 5 menit, 10 menit, hingga setengah jam, Yuda belum juga beranjak dari duduknya. Akhirnya Arin melangkah ke dapur.


" Lho ibu belum berangkat?"


" Belum bi!"


" Perasaan saya lihat ibu sudah siap dari tadi? Nggak jadi berangkat bu?"


" Nggak tau jadi apa nggak, yang penting saya udah siap." Sembari mengambil sebuah gorengan yang ada di hadapan kedua asistennya.


" Minta ya bik?"


" Ambil aja bu silahkan. Ehhh awas nanti lipstiknya ilang lho. Udah dandan cantik gitu mulutnya belepotan minyak."


" Hehehe..biar aja bik, cantik kalau cuma karena riasan aja percuma bi."


" Iya bu benar. Jaman sekarsng nyari wanita cantik itu ibarat nyari kacang goreng. Apalagi salon kecantikan udah ada dimana-mana. Yang paling penting itu cantik hati, cantik pikiran, juga cantik juga rejekinya ya bu."


" Bibi ini ada-ada aja."


" Bener lho bu, secantik apapun wanita, kalau rejekinya nggak cantik, bakalan jelek juga. Bukan karena nggak bisa beli skin care, tapi lebih karena beban pikiran, tiba-tiba aja muka jadi berubah tua hahaha!!" Arinpun ikut tertawa.


" Bapak nih selalu begitu ya bu? nyuruh ibu buru-buru dandan, giliran udah siap nggak berangkat-berangkat."


" Kadang-kadang malah nggak jadi berangkat ya bu, terus tau-tau bapak malah tidur hahaha!!" Sambungnya lagi, lalu kedua asistennya tertawa dan Arin hanya tersenyum kembali.

__ADS_1


" Kalau saya mah udah pasti ngambek bu. Ibu ini sabar banget ya. Resepnya apa bu bisa sabar begitu?"


" Resepnya ya sabar mbak!" Jawab Arin sambil tertawa. Padahal hatinya gondog bukan main, dan otaknya hampir meledak diperlakukan Yuda seperti itu, rasanya seperti tidak dihargai sama sekali. Namun stok sabarnya belum mendekati angka limit, dan semoga tidak pernah ada angka limit.


" Tiiiiiiiinnnnnn.....!!!" Terdengar suara klakson mobil ditekan.


" Astagfirullah hal adzim!!" Kedua asistennya teriak berbarengan.


" Ya Allah siapa itu bu? bikin kaget aja!!"


" Itu pasti bapak mbak!" Kata Arin sambil beranjak dari duduknya, dan buru-buru keluar.


Benar saja, Yuda ternyata sudah menunggunya di dalam mobil. Arin langsung menyambar tas yang ada di meja, dan segera berlari kecil menuju mobil.


" Kasihan ya ibu?"


" Iya ya, bapak tuh suka semaunya sendiri."


Baru saja membuka pintu, Yuda sudah langsung ngomel-ngomel.


" Ditunggu di mobil dari tadi, malah enak ngobrol di belakang!!" Arin jengkel bukan main, merasa tidak terima disalahkan lagi. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun.


" Lho...yang nunggu itu aku apa mas sih?? Aku kan udah selesai dari setengah jam yang lalu, dan mas justru masih mainan hp!!"


" Aku itu nggak mainan, tapi balas wa dari temen!" Jawab Brian tak mau kalah.


" Ok mas lagi balas wa!! Jadi berarti yang nunggu aku atau mas? Kenapa selalu aku yang disalahin? Kecuali dari awal mas nyuruh aku siap-siap terus aku diem aja, baru mas boleh nyalahin aku!!" Entah ada kekuatan apa yang memberikan keberanian Arin melawan suaminya. Yang jelas saat ini dia benar-benar muak dengan perlakuan Yuda. Apalagi ditambah keadaan hatinya yang sedang galau, karena baru saja berpisah dari Brian, dan sampai rumah mendapat perlakuan dari suaminya yang sangat tidak mengenakkan hati.


Yuda terkejut bukan main. Biasanya Arin tidak pernah sedikitpun membantah kata-katanya. Selalu diam dan memilih mengalah menghadapinya. Tapi hari ini Arin seperti berbeda dari Arin yang selama ini mendampinginya.

__ADS_1


" Kamu sudah berani melawan kata-kataku?"


" Kesambet setan mana kamu pulang-pulang langsung berani melawan suami?"


" Mas!! Seharusnya mas intropeksi diri dong kenapa aku jadi berani melawan mas. Mas nggak pernah kasih aku kesempatan buat berbicara apalagi membela diri. Mas hanya memintaku menuruti apa kata-kata mas, walaupun itu nggak sesuai dengan kemauanku."


" Lalu maksudmu apa?"


" Mas sadar nggak sih selama ini mas egois? Mas nggak pernah memberiku kesempatan untuk berpendapat?"


" Ohhh jadi kamu ingin kamu memiliki kedudukan yang sama denganku?"


" Mas selalu negatif menyimpulkan kata-kataku. Sampai kapanpun aku itu nggak akan bisa menyamai kedudukan mas sebagai kepala keluarga, aku tetap makmum mas. Tapi sebagai istri, beri dong aku kesempatan berbicara, paling nggak untuk mengingatkan mas jika ada sikap mas yang kurang benar!!"


" Ahhhhh udah stop!! Nggak usah diperpanjang!! Intinya kamu itu sudah mulai berani membangkang!!" Dan seperti biasa, jika sedang marah Yuda akan mengendarai mobilnya sekelas pembalap Rossi. Dia tidak perduli Arin ketakutan, dan tidak perduli kendaraan lain memaki-makinya.


" Berhenti mas!!!" Arin berteriak. Namun Yuda tetap saja tidak menggubris kata-kata Arin.


" Kalau mas nggak berhenti, aku lompat dari mobil ini!!" Teriak Arin lagi. Yuda tiba-tiba mengerem mendadak.


" Lompat!! Ayo lompat!!" Teriak Yuda tidak mau kalah. Kesabaran Arin habis, dia langsung membuka pintu mobil dan keluar.


" Egoiss..!!!" Sambil menutup pintu kembali.


" Heiiii...kamu mau kemana??" Arin tidak menggubris teriakan Yuda, dan terus berjalan, lalu menghentikan sebuah taksi.


" Jalan pak!!" Pikiran satu-satunya adalah pergi ke rumah Sisi, kakak perempuannya. Bahkan dia sudah tidak perduli resiko yang akan dihadapinya nanti.


Arin sering iri dengan kehidupan rumah tangga kakaknya. Walaupun ekonomi mereka jauh di bawah Arin, namun mereka terlihat bahagia dan sempurna. Suami Sisi adalah orang yang sangat sabar dan pengertian. Belum pernah sekalipun selama menjadi adik iparnya, Arin mendengar keluh kesah kakaknya tentang perlakuan suaminya, juga belum pernah sekalipun Arin melihat kalimat kasar kakak iparnya pasa Sisi.

__ADS_1


Sisi sangat hafal watak Yuda. Yuda bahkan tidak pernah segan mendiamkan tamu yang datang ke rumahnya, apabila mood hati suaminya itu sedang tidak enak. Tidak terkecuali yang datang itu adalah Sisi, kakak iparnya sendiri. Makanya banyak keluarga Arin yang malas dan enggan datang mengunjunginya.


__ADS_2