CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
TURUN DARI PESAWAT


__ADS_3

Perjalanan selama setengah jam buat Arin terasa menjemukan. Belum lagi ditambah suasana hatinya yang sedang tak menentu.


" Silahkan mbak!!" Seorang pramugari menyapa di depan pintu. Arin tersenyum dan berjalan menuruni tangga.


Saat di bawah Arin ingat bahwa hpnya belum dihidupkan, kemudian dia menekan tombol on. Beberapa pesan wa langsung masuk. Dilihat salah satunya berasal dari Brian. Arin segera membukanya.


" Sayang...bagiku kamu sudah menjadi bagianku, walaupun kita belum bisa bersama, tapi aku akan selalu mencintaimu sayang." Arin terdiam sesaat, namun tidak membalas pesan tersebut, karena sudah dikirim bebera menit yang lalu yang lalu. Dia khawatir sekarang Brian sedang berjalan ke arah pulang, dan tidak tau jika Arin membalas pesannya, kemudian istrinyalah yang nanti membaca wa-nya. Arin segera memasukkan hpnya kembali ke dalam tas, dan terus berjalan keluar. Tujuan satu-satunya adalah mencari taksi, karena dia tidak bisa mengandalkan Yuda mau menjemputnya.


Baru saja berjalan sebentar, hpnya berbunyi lagi. Ternyata Yuda yang menelfon.


" Masih dimana kamu?" Suara Yuda terdengar di seberang sana.


" Ini baru aja turun dari pesawat. Ada apa mas?"

__ADS_1


" Nggak apa-apa, kirain belum pulang." Kata Yuda sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.


" Pasti dia siap-siap memarahi aku, seandainya aku nggak jadi pulang hari ini." Kata Arin dalam hati.


" Emang mas dimana?"


" Aku di rumah."


" Naik taksi aja kan bisa, daripada kamu harus nungguin aku kelamaan. "


" Oh ya udah." Benar sekali perkiraan Arin, pria itu tidak bisa diharapkan untuk mau menjemputnya di bandara.


" Padahal di rumah, tapi nggak ada inisiatif jemput istrinya. Dasar!! memang nggak ada niat jemput, pakai alasan kelamaan nunggu segala. Kalau memang niat, kan dia bisa berangkat lebih awal, lagian dia tau jadwal keberangkatanku. Hehhh menyebalkan!!" Gerutu Arin lagi dalam hati.

__ADS_1


Arin berhenti sebentar, tangannya lelah menarik kopernya yang lumayan berat. Tiba-tiba matanya melihat pemandangan di depannya. Seorang pria sedang menggandeng anak kecil. Dari arah berlawanan datang seorang wanita, spontan anak tersebut berteriak memanggil wanita itu dengan sebutan "mama" kemudian mereka bertiga saling berpelukan.


Arin tertegun sejenak. Betapa bahagia wanita itu, kedatangannya sangat diharapkan oleh orang-orang yang menyayanginya. Tidak seperti dirinya, Yuda seperti tidak perduli padanya. Dia memang bisa naik taksi sendiri, namun antusiasme Yuda menantinya sebagai seorang suami yang sedang merindukkan kehadiran istrinya, tidak ada sama sekali.


" Ya udah ya." Kata Yuda kemudian menutup telfonnya. Padahal Arin belum mengiyakan kata-katanya. Arin hanya menarik nafas panjang.


" Padahal nggak ketemu istrinya satu minggu, tapi sikapnya masih aja begitu. Boro-boro nanyain kabar!!" Arin kembali mengomel dalam hati.


Arin terus berjalan sembari membayangkan muka masam Yuda menyambutnya di rumah. Belum lagi macam-macam perintah dibumbui omelan yang bakal dinikmatinya kembali. Arin memantapkan hatinya untuk kembali ke istana kecilnya, menghadapinya takdir hidup rumah tangga yang telah digariskan olehNya, dan menjalani profesinya kembali sebagai istri dari seorang Arya Yuda


Waktu satu minggu jauh dari suaminya, bukannya rasa rindu yang dirasakan, tapi justru bayangan-bayangan yang seperti momok mengerikan silih berganti berseliweran di otaknya. Semua itu yang akan menghiasi hari-harinya kembali. Suaminya yang seharusnya menjadi tempat berlabuh segala kesedihan hatinya, segala cerita hari-harinya, segala moment yang melengkapi hidupnya, justru berubah menjadi musuh yang setiap hari mempermasalahkan hal kecil yang seharusnya bisa diatasi tanpa sebuah emosi apalagi kata-kata yang menyakitkan.


Arin sebenarnya sangat takut cintanya semakin hari semakin memudar, bahkan hilang. Namun Yuda tidak pernah menyadari itu. Yuda menganggap bahwa apa yang diberikan pada Arin sudah lebih dari cukup, apalagi membuatnya hidup layak tanpa kekurangan. Yuda seolah membuat hak-hak Arin hilang dengan melimpahinya harta. Padahal Arin merasakan kehampaan dan kekosongan hati yang luar biasa. Dengan harta seolah Yuda ingin mengikatnya dan tidak akan mungkin bisa berpaling lagi darinya. Namun ternyata semua itu salah, justru Arin sekarang mencintai Brian, pria yang ekonominya jauh di bawah Yuda, namun mampu memberinya ketenangan hati.

__ADS_1


__ADS_2