CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
SEPENINGGAL YUDA


__ADS_3

" Saya ke kamar dulu ya mbak, udah malem." Sambil berdiri.


" Nggak pengen lihat filmnya sampe bubar bu? seru lho, nanggung sebentar lagi."


" Nggak ah mbak ngantuk, besok ceritain aja ya."


" Hahaha ibu ini, nggak ada cerita ulang bu."


" Ya udah lanjutin aja mbak, saya tidur duluan ya."


" Ohhh iya bu."


Arin melangkahkan kakinya menuju kamar. Seharian ini dia memang belum mengecek hp yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Brian. Bahkan dia hanya menulis status satu kali, itupun saat bangun tidur pagi tadi. Rasanya otak Arin sudah penuh oleh masalah rumah tangganya, sehingga sesaat dia lupa pada Brian, pria yang membuat Arin menduakan cinta Yuda.

__ADS_1


Arin lalu mengambil hpnya, dan ternyata Brian sudah mengiriminya pesan beberapa kali. Mungkin dia bingung, karena tidak biasanya Arin seperti ini.


Arin hanya membacanya sebentar, kemudian meletakkan kembali hpnya. Entah kenapa dia begitu malas untuk berbicara dengan Brian. Rasanya dia ingin sendiri dulu dan menenangkan pikirannya.


Arin membuka lemari pakaiannya, mengambil album pernikahan dia dan Yuda dulu. Dilihat dan diamatinya satu persatu. Ada tawa bahagia di sana. Tawa yang menyimpan sejuta cerita dan kenangan. Saat itu yang ada dalam pikirannya adalah bisa membangun rumah tangga yang indah bersama Yuda, pria yang lama dipacarinya dan sangat dicintainya, juga mencintai Arin. Dia terpesona oleh sifat Yuda yang dulu amat pengertian, sehingga mampu meluluhkan hatinya. Arin bahkan menolak hadirnya pria lain, dan menerima lamaran Yuda untuk menjadi calon ibu dari anak-anak mereka kelak.


Masa yang begitu bahagia, rasanya ingin mengulangnya. Arin meneteskan air mata, saat-saat indah itu sangat dirindukannya. Rindu dengan kemesraan mereka berdua, rindu saat-saat bercanda bersama, rindu saat saling berbagi cerita.


Namun sekarang semua itu telah hilang, berganti ketegangan yang selalu dihadirkan Yuda saat mereka bersama. Arin tidak pernah membayangkan Yuda bisa berubah, sehingga membuat Arin merasa jenuh dan ingin lari dari semuanya. Arin kehilangan kehangatan bersama Yuda. Arin kehilangan sosok suami yang dia idamkan dulu. Yahhh....Arin kehilangan segala hal indah bersama Yuda.


Arin merebahkan tubuhnya di kasur. Dia menatap sekeliling kamarnya. Cukup luas dan sangat nyaman. Terlebih dilengkapi oleh pendingin ruangan, sehingga membuat penghuninya bisa tertidur pulas tanpa merasa kepanasan. Namun ternyata, kenyamanan yang diciptakan oleh kamar itu, tidak mampu memberikan suasana hati senyaman kamar yang dimilikinya. Arin selalu tertidur dengan banyak beban pikiran dan terbangun dengan rasa was-was yang terus menghantui dirinya. Kasur, bantal serta gulinglah yang jadi saksi, betapa telah banyak air mata yang menempel dan membasahi peraduannya itu.


Selama ini yang dia tahu setiap bangun tidur, yang pertama dilakukannya adalah berusaha menciptakan mood baik Yuda, dan jangan sampai merusak suasana hatinya, karena jika itu terjadi sedikit saja, suaminya akan uring-uringan sepanjang hari. Jika saat terbangun dia mendapati wajah suaminya ceria, dan tersenyum padanya, ibarat di sebuah padang tandus yang gersang, Arin bak menemukan oase yang mampu menghilangkan dahaganya.

__ADS_1


Tiba-tiba hpnya bergetar, Arin sedikit terkejut. Ternyata Brian mengiriminya pesan lagi. Arin diam sejenak.


" Kasihan dia, pasti dia sedang bingung menungguku. Dia nggak salah apa-apa, harusnya aku nggak biarin dia nunggu." Kata Arin dalam hati.


" Maaf sayang, aku baru pegang hp. Kalau nggak sibuk telfon aku ya." Balas Arin.


Sementara itu Brian terlihat sedang mengotak-atik hpnya. Berkali-kali dia mengecek status, berharap Arin menulis sesuatu untuknya. Tak lama Brian terlihat girang saat tau Arin membalas pesannya.


" Kok belum tidur sih mas? udah jam 11 lho." Mirna yang kebetulan tau suaminya masih di luar sengaja mendatanginya.


Brian sangat terkejut, karena disaat bersamaan Mirna mendatanginya, buru-buru Brian menghapus pesan dari Arin.


" Ehhhh ehmmm...iya kamu duluan aja, aku belum ngantuk, pengen dengerin musik dulu." Jawab Brian bersikap setenang mungkin, sembari memasang headset di telinganya, padahal jantungnya bergetar hebat.

__ADS_1


" Jangan begadang terus mas, ngapain sih? mendingan tidur." Jawab Mirna lagi sembari berjalan meninggalkan Brian yang sedang duduk di gazebo depan rumahnya.


Brian menarik nafas lega. Untung istrinya itu tidak meminjam hpnya, karena Mirna biasa menggunakan hp Brian juga.


__ADS_2