CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
OTW MAKAN SIANG


__ADS_3

" Ayo berangkat.!!" Ajak Maya, sembari melangkah keluar meninggalkan butiknya. Yuda mengikutinya dari belakang.


Suara high heels Maya berbunyi nyaring saat bersentuhan dengan lantai keramik butik miliknya. Rambutnya yang panjang, tergerai indah menambah kecantikan wajahnya. Dari dulu Maya selalu mempertahankan mahkotanya itu melewati batas bahunya.


Yuda berdecak kagum dalam hati. Walaupun sudah memiliki seorang anak yang mulai beranjak dewasa, namun Maya masih begitu pandai merawat tubuhnya. Yuda bahkan lupa memiliki seorang istri yang tak kalah cantik namun tak pernah mengekspose bentuk tubuhnya seperti mantan kekasihnya itu.


" Dug.." Maya menutup pintu kendaraan yang baru dinaikinya. Angin yang keluar dari pendingin ruangan menyapu kulitnya, sehingga mampu mengalahkan panasnya cuaca di siang bolong itu.


" Ingat!! sebelum jam 2 udah harus sampai di sini lagi ya, aku ada janji sama pelanggan."


" Yaelah...belum juga berangkat udah ngajak pulang aja." Sembari menjalankan kendaraannya.


" Cuma ngingetin Yuda, bukannya ngajak pulang, biar kamu nggak lupa."


" Siyaaapp...!!" Jawabnya sambil tersenyum semanis mungkin.


Hati Yuda begitu gembira bisa satu mobil bersama Maya. Jika dulu saat pacaran dia hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua, bahkan untuk mengobrolpun harus teriak-teriak karena suaranya yang terbawa angin, namun sekarang bunyi mesin mobilnya yang haluspun bahkan tidak bisa mengalahkan detak jantungnya yang ternyata masih dag dig dug saat bersama Maya seperti ini. Yahhh rasa itu ternyata masih ada dan belum hilang sedikitpun.


" Coba jaman pacaran dulu aku udah punya mobil ya May, pasti kita bisa ngobrol santai kayak sekarang."


" Ya kalau kamu waktu itu udah bawa mobil, pasti kamu nggak bakal pacaran sama aku."


" Kok bisa?"


" Ya iyalah...pasti udah banyak gadis yang ngantri pengen kamu pacarin, dan harusnya kamu bersyukur, dulu aku mau pacaran sama kamu walaupun cuma bawa motor, dan aku rela kulitku ini kebakar matahari."


" Hehhhh...tapi kan akhirnya kamu milih orang lain untuk jadi suami kamu May, dan ninggalin aku tanpa alasan yang jelas."


" Udah deh jangan ngerusak hubungan kita yang udah baik ini dengan cerita masa lalu, udah bagus kita nggak musuhan kan?"


" Ya itu kan karena aku udah lupain sakit hati saat kamu dulu pergi dari hidup aku dulu May, kalau nggak pasti aku nggak mau ketemu kamu lagi."


" Kalau kamu nggak mau ketemu aku lagi, berarti kamu nggak bisa move on dari aku dong Yud...hahaha...kasiaan banget hidup kamu kalau masih begitu."

__ADS_1


" Hehhhh...kayaknya kamu bahagia banget liat aku menderita."


" Ya bukan begitu...Itu kan cuma masa lalu kita dan bisa jadi itu yang terbaik yang direncanakan Allah buat kita Yud."


" Yahhhh..itu jawaban pamungkas May."


" Maksudnya?"


" Setiap pasangan yang berpisah rata-rata alasannya mungkin itu yang terbaik buat kita, padahal itu buat menutupi kesalahan yang memang dibuat oleh salah satu pihak. Selalu mengatasnamakan Allah sebagai senjata akhir."


" Ya memang begitu Yud, kita kan cuma bisa berencana dan Allah yang menentukan. Mungkin dengan kita tidak berjodoh, Allah telah menyiapkan jodoh yang lebih baik buat kita semua. Seperti istrimu saat ini, aku yakin istrimu itu adalah sosok wanita penyabar, kalau nggak mana bisa dia bertahan sama kamu hingga sekarang, karena aku itu paham banget karakter kamu."


" Hemmmm....dengan kata lain kamu mau bilang kalau aku bukan orang yang sabar nih?"


" Hehehe..sedikit banyak sih begitu."


" Sialan....!!


" Udah deh Yud, jangan diterusin, nanti malah jadi perdebatan, dulu kita udah sering begini lho, dan ujung-ujungnya berantem."


" Ya kamu nggak pernah mau ngalah kok." Ujar Yuda.


" Dan kamu selalu merasa paling benar."


" Hehehe..bahas yang lain aja deh kalau gitu."


" Dari tadipun aku udah ngajak ngalihin pembicaraan." Sambil memutar bola matanya dengan malas.


" Sebenernya apa lagi sih Yud yang mau kita bahas?"


" Banyak May salah satunya menentukan produk bahan yang akan kita jadikan standar pakaian kita nantinya."


" Yuda...Yuda...kita itu baru dalam tahap persiapan, dan menuju proses produksi itu masih sangat lama. Banyak hal yang harus kita lakukan, utamain dulu deh yang memang harus diutamain. Apalagi memilih bahan, desain aja belum kita tentukan, kenapa musti memilih bahan dulu?"

__ADS_1


" Ya kan sembari mempersiapkan semuanya, kita bisa sambil memilah May, agar konsumen nggak kecewa dengan kwalitas pakaian jadi kita. Mutu bahan itu yang utama May, kita jangan sampai lupain itu."


" Emang bahannya udah ada?"


" Belum sih May."


" Nah itu belum, terus gimana kita bisa tau mutunya kalau samplenya aja belum ada?"


" Tapi mereka udah kirim katalognya May, kamu nanti bisa lihat-lihat di katalog itu." Jawab Yuda sambil nyengir.


" Hahhh...kamu pikir kita sedang main jual-jualan? itu sama aja beli kucing dalam karung Yuda. Aku nggak mau ambil resiko dengan hanya melihat gambarnya aja. Gambar itu cuma permainan cahaya Yud, kalau nggak aku pegang sendiri mana tau itu barang bagus apa nggak!!" Sedikit emosi.


" Ya kan dari merknya kamu pasti udah taulah May mana yang berkwalitas mana yang nggak." Tetap tidak mau kalah.


" Merk mah sekarang udah banyak yang kw Yud. Merk nggak jaminan lagi sekarang. Pokoknya aku tetap nggak akan ambil keputusan kalau samplenya belum ada. Kamu tuh kayak baru aja di dunia bisnis, harusnya kamu itu lebih berpengalaman dibanding aku, dan nggak sembarangan kayak gini." Rasanya otaknya sudah sangat mendidih melihat cara kerja Yuda yang sembrono seolah menyepelekan kwalitas produknya.


Yuda akhirnya diam saja. Sebenarnya dia mengakui apa yang dikatakan Maya adalah benar, namun dia tidak tau alasan apa lagi yang bisa digunakan agar bisa mengajak Maya makan siang berdua.


Waktu terus berjalan, dan Yuda terus menambah kecepatannya menuju restoran yang telah dipilihnya.


Maya melirik arloji yang melingkar di tangannya. Dia merasa sudah sedari tadi berjalan namun Yuda belum juga menghentikan kendaraannya di sebuah rumah makan.


" Yud sebenarnya kita mau kemana? lihat ini udah jam 12.30. Waktu kita sempit lho!" Kata Maya mengingatkan.


" Sebentar lagi May, aku ada restoran yang eeenakkk...recomended banget deh, pasti kamu suka."


" Tapi ini udah terlalu jauh Yud, aku nggak punya waktu banyak. Belum lagi nanti kita harus nunggu makanan kita disiapkan, mau selesai jam berapa?"


" Sebentar lagi kita sampai May."


" Nggak!! Kita balik aja, cari tempat yang dekat sama butikku, aku nggak mau nanti pelangganku nunggu terlalu lama!!" Maya mulai kesal.


" Ya udah May biarin aja dia nunggu, sekali-kali kan nggak apa-apa." Tanpa menghentikkan kendaraannya. Maya sudah memasang tampang juteknya.

__ADS_1


__ADS_2