CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
DI CAFE


__ADS_3

Yuda kemudian membelokkan mobilnya pada sebuah cafe yang cukup bergengsi di kota itu. Letaknya yang berada di dataran tinggi, membuat pengunjung lebih leluasa menikmati pemandangan kota dari cafe tersebut. Cukup banyak mobil berjejer rapi memenuhi parkiran.


" Hemmmm....lumayan ramai May, nggak masalah kan jalan agak jauh?"


" Nggaklah....tapi kamu gimana? dulu kamu paling malas lho kalau masuk ke tempat-tempat yang cukup banyak antriannya."


" Sekarang sih masih sama May."


" Terus kenapa ke sini, tuh lihat pasti bakalan lama pesanan makanannya nanti."


" Biar aja, kesempatan kita ngobrol lebih lama juga."


" Hahaha itu pasti tujuan kamu kan?"


" Hihihi...tau aja. Eh inget nggak? dulu jaman kita pacaran, kita pengen banget ke sini, tapi nggak berani karena takut uang kita nggak cukup."


Maya mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat moment itu.


" Oh iya hahaha...dan kita cuma lewat, kamu jalanin motor pelan-pelan sambil bilang, suatu hari pasti ngajak aku ke sini, iya kan?"


" Yup benar!! Dan sekarang aku penuhin janjiku."


" Kamu tuh...Kalau sekarang aku udah nggak pengen lagi Yud, dulu aku sering ke sini sama mantan suamiku."


" Tapi sama aku belum kan?"


" Hehehe..iya juga sih, cuma menunya sama, dan udah aku coba semua."


" Nggak masalah menunya sama, yang penting perginya bukan dengan orang yang sama. Ya udah, ayo masuk." Ajak Yuda sembari turun dari mobil. Mereka kemudian langsung naik ke lantai dua, disana tempatnya lebih asyik.


Mata Yuda berkeliling mencari meja yang kosong, namun sayang posisi meja favorit sudah full terisi. Akhirnya mereka memilih tempat seadanya saja.


" Coba kita pergi agak sorean, pasti di situ belum terisi May." Sedikit kecewa sambil menunjuk sebuah meja yang viewnya menghadap keluar.


" Di sini aja sama aja, yang penting dapet tempat duduk daripada berdiri, pilih mana?"


" Hehehe iya juga."


" Belajar menerima yang sudah menjadi takdir kita Yud, baik pahit ataupun manis."


" Cie cie...berfilsafat nih."


" Bukan berfilsafat, intinya kita harus belajar bersyukur apapun rejeki yang diberikan Allah sama kita."


" Iya bu ustadzah."


" Mbak!!" Panggik Yuda pada seorang pelayan wanita, sembari menjentikkan jemarinya.


" Iya pak, mau pesen apa?"


" Menu favorit di sini aja mba."


Kemudian pelayan itu menunjukkan gambar yang tertera di buku menu.


" Ini pak?"


" Iya, saya pesan satu. Kamu apa May?"


" Ya udah samain aja."


" Minumnya apa pak?"


" Lemon tea aja mbak, iya kan May?" Mayapun mengangguk.

__ADS_1


" Baik pak, ditunggu ya?"


" Jangan pakai lama ya mbak!" Pelayan itupun hanya tersenyum.


" Kamu tuh baru datang udah minta cepet aja, tuh liat yang lebih dulu dari kita aja belum dapet."


" Ehhh misal kita tambah tips buat pelayan itu kira-kira diduluin nggak ya?"


" Nggak bisa gitu dong, jelas bisa bikin pembeli lain ribut. Kamu tuh nggak berubah Yud, Yuda ya tetap Yuda." Kata Maya sambil geleng-geleng kepala.


" Eh jadi selama pisah dengan suamimu, kamu terusir dari rumah yang kalian tempati selama ini?"


" Bukan terusir, tapi aku sendiri yang keluar dari rumah itu."


" Kenapa? dengan begitu kamu kehilangan hak kamu atas rumah tersebut dong?"


" Nggak juga, karena rumah itu sudah atas nama Jenny."


" Dan sekarang?"


" Sekarang aku kontrakkan."


" Kenapa nggak kamu tempati?"


" Terlalu besar buat kami berdua Yud, lebih baik aku tinggal bersama orang tuaku lagi, sembari nemenin mereka."


" Jadi sekarang suamimu dimana?"


" Masih di kota ini juga."


" Kenapa jadi bahas aku? kamu sendiri belum cerita tentang keluargamu."


" Apa yang harus aku ceritakan?"


" Ohhhhh istriku. Dia wanita biasa sih May, bukan pegawai ataupun wanita karier seperti kamu." Yuda seperti memberikan penekanan "biasa" pada kalimatnya, seolah menunjukkan bahwa istrinya itu tidak terlalu spesial.


" Kok wanita karier?"


" Ya kan kamu punya usaha, sama aja berkarier kan?"


" Hahaha...kamu pikir wanita karier itu sudah sangat luar biasa? justru aku lebih salut pada perempuan yang bisa mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga, karena itulah justru ladang pahala utama mereka."


" Eh dia pasti cantik ya, makanya kamu jatuh cinta dengannya?"


" Yang jelas dia mau menerima aku apa adanya."


" Yaahhh...aku sudah bisa tebak, bahwa dia wanita yang begitu tulus mencintaimu, karena kalau tidak...??"


" Kalau tidak apa?"


" Ehhhh nggak, nggak papa kok."


" Hemmmm...ada yang disimpan nih?"


" Nggak...maksudnya kalau nggak tulus, kenapa mau nikah sama kamu. Iya kan?"


" Ooohhhh...ya gitu deh."


" Tapi tetap, kamu dan Arin sosok yang berbeda May. Kamu buatku itu gimana ya..."


" Udah deh...kita lupakan masa lalu kita, syukuri yang kamu miliki saat ini. Arin dan juga anakmu adalah hartamu yang tidak bisa tergantikan oleh apapun." Memutus kalimat Yuda agar tidak mengunggulkan dia terus menerus.


" Yahhhh...memang harus begitu."

__ADS_1


" Ngobrol sama kamu aku kayak ngerasain beberapa tahun yang lalu, waktu kita masih bareng May."


" Cuma bedanya dulu kamu belum beruban dan sekarang udah hahaha."


" Sialan...!! Kamu merhati'in?" Sembari mengusap rambutnya.


" Nggak diperhatiin juga kelihatan Yud. Baru punya anak satu aja, uban udah numpuk gitu, jangan terlalu ngoyo, tar cepet jadi kakek-kakek lho."


" Hahaha...begini nih, kalau otak diforsir terus May."


" Kamu itu ya, dari dulu nggak berubah selalu ambisius."


" Ya harus begitu biar kita bisa maju May. Buktinya kamu bisa lihat hasilnya sekarang kan?"


" Ya..ya..ya...kamu memang pekerja keras Yud, asal jangan lupa diri aja kalau udah di atas."


" Oh iya, kamu tadi bilang istrimu pergi sama aku?"


" Aku nggak bilang."


" Lho...kok nggak bilang?"


" Aku nggak tidur di rumah beberapa hari ini."


" Kenapa?"


" Ya...biasalah, ada masalah sedikit sama istriku."


" Kamu tuh ya selalu begitu, kalau ada masalah pasti kabur, bukannya diselesaikan."


" Daripada aku emosi kalau di rumah, mending pergi aja."


" Kebiasaan buruk itu Yud. Apalagi kamu udah berkeluarga. Dengan kamu mengabaikan istrimu apalagi meninggalkan rumah seperti ini, fatal lho akibatnya."


" Biar aja, biar buat pelajaran dia."


" Kamu tuh masih aja ya keras kepala dari dulu."


" Hahaha...beruntung aku dulu ninggalin kamu, coba kalau jadi nikah sama kamu, pasti setiap marahan aku bakalan ditinggalin kayak istrimu sekarang."


" Ehhhh bukannya nyesel, minta maaf, malah bangga banget ya nggak jadi nikah sama aku."


" Hahaha...becanda...maaf."


" Mungkin dulu kalau kita jadi nikah, rumah tangga kita bakalan bahagia ya May."


" Emang sekarang rumah tanggamu nggak bahagia?"


" Ya maksudku, kita itu kan dulu pacaran lama dan saling mencintai."


" Lah kamu dan Arin emang nggak saling mencintai?"


" Ya tapi kan kamu cinta pertamaku, dan cinta pertama itu pasti bakalan terngiang seumur hidup."


" Ahhhh....kebanyakan nonton sinetron kamu tuh. Realistis aja deh mikirnya, jangan berandai-andai."


" Aku itu udah pernah gagal berumah tangga Yud, jadi paham betul. Bagaimana sih dulu aku dan Ardi itu begitu saling mencintai, nyatanya bubar juga."


" Lalu masalahnya apa kok bubar?"


" Ahhh nggak usah mancing-mancing deh."


" Hahaha...sialan umpanku nggak kena."

__ADS_1


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Kemudian mereka melanjutkan obrolan sembari makan.


__ADS_2