
Siang ini Yuda menelfon Maya. Ada saja alasan Yuda agar selalu bisa menghubungi Maya.
" May di butik nggak hari ini?"
" Iya, kenapa?"
" Makan siang nanti aku jemput ya? sekalian ngomongin kerjasama usaha kita. Ini aku mau kasih sample bahan produksi kita."
" Emang udah dateng bahannya?"
" Belum sih, cuma mereka udah kirim katalog ke aku."
" Kalau gitu nanti aja kalau sample bahannya udah dateng, biar bisa aku lihat."
" Tapi ada hal yang mau aku bahas sama kamu nih."
" Bahas apa lagi sih? kemarin kan kan udah fix semua."
" Ya kita kan perlu kaji ulang May. Bisnis kita ini bukan bisnis kecil-kecilan, persiapannya harus benar-benar matang."
" Harus ya?"
" Maksudnya?"
" Nggak bisa lewat hp gitu bahasnya?"
" Kamu ini gimana? kita ini lagi mau ngobrolin kerjaan, bukan mau ngomongin tetangga sebelah. Kamu pikir aku ibu-ibu kompleks yang telfon cuma mau ghibah doang?" Jawab Yuda sedikit gondok. Entah kenapa, Maya begitu sulit jika diajak keluar, walaupun itu hanya untuk masalah pekerjaan.
" Ya kalau nggak kamu ke butikku aja."
__ADS_1
" Emang kamu lagi sibuk ya?"
" Iya nih, aku lagi ngecek barang yang baru aja masuk, sekalian ngasih kode harga ke anak-anak."
Maya memang sedikit tidak enak hati. Selain untuk membatasi diri terlalu sering pergi dengan Yuda, namun dia juga menjaga kemungkinan omongan orang yang menganggap dia janda yang suka jalan dengan suami orang, walaupun mereka tidak tau jika Maya ada urusan bisnis dengsn Yuda.
" Kenapa May? kamu keberatan? Ini demi kelancaran usaha kita lho. Kalau ngobrol di butikmu aku yakin pasti kamu nggak bakalan bisa fokus ke obrolan kita, yang ada malah konsentrasimu terbagi. Lagian kan kamu punya asisten, ngapain masih repot sendiri?"
" Ya asisten itu gunanya hanya membantu Yud, bukan untuk menyelesaikan semua pekerjaan kita."
" Ya udah serahin dulu sama dia, setelah urusan kita selesai, baru kamu balik lagi ke butik."
" Lho kok malah jadi dia yang ngatur?? belum apa-apa udah berani ngatur pekerjaanku." Gerutu Maya dalam hati.
" May?? kok malah diem sih?"
Maya diam sebentar menimbang-nimbang kalimat yang baru dilontarkan Yuda. Tawaran usaha yang diberikan Yuda memang sangat menggiurkan. Dia bahkan bisa mengembangkan usaha butiknya hingga menembus pasar di luar daerah, karena selama ini penjualannya hanya lokalan saja walaupun pelanggannya sudah banyak, namun tetap saja dia ingin usahanya itu bisa lebih maju lagi. Dia ingin bisa membuat brand sendiri dan hasil karyanya itu diakui kalangan luas. Itu semua tentu membutuhkan modal besar dan chanel yang mampu dia percaya untuk menghandle itu semua. Dan Yuda sudah menyanggupi itu.
" Ok...jam 11.45 jemput aku ya. Tapi inget!! sebelum jam 2 harus udah pulang, cos mau ada pelangganku dateng."Jawab Maya tanpa basa basi lagi.
" Ok...siap tuan putri, nanti aku meluncur ke butikmu." Yuda begitu semangat ketika ajakannya diiyakan oleh Maya.
Ada sedikit sungging di sudut bibir Yuda. Ternyata setelah bertahun-tahun pisah, dan Maya sempat membuatnya terpuruk hingga di titik paling rendah, semua itu tidak menghilangkan rasa nyaman bersama wanita itu. Rasanya masih tetap sama seperti dulu.
Yuda kemudian kembali menyibukkan diri pada pekerjaannya. Namun bukan Yuda namanya, jika sudah menyangkut hal yang berkaitan dengan Maya, mana bisa dia konsentrasi pada pekerjaannya, matanya terus-terusan melihat jam yang bergerak begitu lambat.
Yuda kemudian malah melemparkan map-map kosong yang baru akan diperiksanya. Sedari tadi pikirannya tidak bisa move on dari bayangan akan makan siang nanti bersama Maya.
" Ahhh mendingan aku pergi sekarang aja." Gumamnya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10. 45, dan perjalanan menuju butik Maya tidak memakan waktu lama. Namun rasanya dia sudah jengah jika harus menunggu lagi, bahkan waktu 5 menit saja saat ini sudah terasa sangat lama baginya.
__ADS_1
" Tuuuuttt...tuutttt...!!" Yuda menelfon asistennya.
" Kesini sebentar!" Katanya singkat, tanpa basa basipun langsung menutup lagi telfonnya.
Tak lama pintu ruangannyapun diketuk dari luar.
" Ada apa pak?"
" Nanti ada beberapa pelanggan yang datang, kamu urusi mereka, bilang saya sedang ada urusan di luar. Ingat!! layani mereka dengan baik."
" Tapi pak, nanti ada klien yang akan menawarkan kita kerjasama bagus, ada beberapa partai barang yang bisa mendatangkan untung besar, jika bapak tidak ada di sini, saya khawatir mereka membatalkan kerjasamanya."
Usaha baru Yuda yang semakin berkembang pesat, membuat beberapa pengusaha tergiur untuk bekerjasama dengannya. Bisnis alat berat yang baru saja dirintisnya, ternyata memiliki masa depan yang menjanjikan. Terlebih banyak pembangunan dimana-mana, itu semua membuat stok barangnya semakin hari semakin bertambah jenisnya.
" Kamu kan sudah lama di sini, masak nggak pinter-pinter? saya cuma sampai jam 1an. Lobby mereka dulu. Kamu kan bisa mengalihkan perhatian mereka sambil sementara menunggu saya datang!!" Cerocos Yuda sambil berjalan keluar.
" Tapi pak!!"
" Kamu masih mau bekerja di sini nggak?"
" Ohhh iya pak maaf."
" Ini tantangan buat kamu, dan tunjukkan kinerja kamu yang baik!!"
" Baik pak, saya akan berusaha."
" Bagus." Lalu Yuda segera meninggalkan ruangannya.
Yuda tidak menghiraukan kata-kata asistennya. Dia terus melaju menuju butik milik Maya. Ternyata makan siangnya bersama Maya lebih menggiurkan dibanding kelangsungan masa depan usahanya.
__ADS_1
" Hehhhhh....selalu seenaknya sendiri. Dipikir orang itu selalu mau menunggu? terlebih mereka itu orang-orang sibuk yang menghargai waktu dan konsistensi. Kalau sifatnya begini terus, lama-lama usahanya bisa gulung tikar. Semoga mereka nanti mau bersabar menunggu Pak Yuda." Kata assisten Yuda dalam hati.
Yuda yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman masa lalunya menjadikan dia terus mengulangi lagi kesalahan yang sama. Padahal pada waktu dia membatalkan pertemuannya dengan Mr. John, sempat membuat kolega bisnisnya itu marah besar dan hampir membatalkan kerjasamanya. Untungnya Mr. John masih bisa memaafkan Yuda, dan memberi kesempatan kedua bagi Yuda untuk memperbaiki kesalahannya. Namun kali ini diulanginya lagi. Padahal jelas-jelas dia tahu dan sudah diingatkan oleh sang asisten akan janji pertemuannya dengan rekan bisnis, namun Yuda bahkan tidak perduli itu. Dia lebih memilih untuk makan siang bersama Maya. Kehadiran Maya seperti memberi semangat baru. Dia lupa akan sumpah serapahnya dulu kala Maya meninggalkannya secara tiba-tiba. Dia lupa akan janjinya yang tidak akan pernah mau lagi melihat batang hidung sang mantan. Namun justru kebalikkannya, kali ini dia terus dan terus ingin bertemu dengan Maya.