CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTEMUAN DENGAN WARGA


__ADS_3

Yuda sengaja menjamu mereka di sebuah cafe elit yang memang diperuntukkan orang-orang yang memiliki kantong tebal sepertinya. Mereka adalah beberapa tokoh masyarakat yang memiliki jabatan penting di wilayah lahan yang hendak dia jadikan bangunan pabrik garmen miliknya nanti. Dia mengundang mereka dan memilih tempat eksklusif demi untuk menarik perhatian mereka. Yuda berpikir, orang-orang yang memang silau dengan uang seperti mereka ini memang harus dijamu dulu dengan segala kemewahan duniawi sehingga akan melancarkan maksud tujuannya nantinya.


Padahal jika boleh jujur, mereka itu sangat bingung melihat daftar menu yang tertera yang kebanyakan bertuliskan bahasa asing, karena mereka baru satu kali itu berkunjung di Cafe X. Mereka bukan kalangan elit seperti Yuda yang dengan mudah mengeluarkan uang ratusan bahkan jutaan untuk satu kali jamuan makan seperti ini. Mereka hanya orang-orang penting yang memiliki jabatan di wilayah tempat tinggal mereka yang masih terbilang kampung dan memiliki ekonomi menengah ke bawah.


Yuda sengaja memilih lokasi pabrik yang sedikit jauh dari keramaian, lebih tepatnya di pinggiran kota. Karena selain masih memiliki banyak lahan luas, juga mempertimbangkan mudahnya membuang limbah sisa produksi mereka dibandingkan di wilayah yang lebih padat penduduknya seperti di kota


Tak berapa lama dia telah tiba di lokasi. Yuda kemudian segera memarkirkan mobilnya bersama mobil-mobil mewah lainnya. Yuda langsung turun dan berjalan menuju meja yang telah asisten tunjukkan nomornya.


Di sana telah menunggu 5 orang yang tengah bercakap-cakap. Menu lengkap telah tersaji di meja. Wajah perwakilan masyarakat setempat yang hendak Yuda lobby untuk memuluskan rencana pembebasan lahannya terlihat sumringah. Bagaimana tidak, mereka merasa begitu tersanjung dengan sambutan Yuda yang menurut mereka begitu spesial itu. Kapan lagi mereka bisa masuk ke cafe elit jika bukan karena Yuda mengundang mereka.


Yuda begitu yakin kali ini berhasil, karena berdasarkan laporan asistennya, orang-orang tersebut adalah orang yang mudah diajak bekerjasama dengan kata lain jika diberikan sejumlah uang mereka pasti akan bertindak cepat dan tidak ada lagi yang namsnya masalah. Ini adalah merupakan salah satu senjata pamungkasnya untuk menghadapi orang-orang yang memang menolak untuk menandatangani surat pembebasan lahan yang Yuda butuhkan. Akhirnya mau tidak mau dia harus menggunakan cara yang lebih cantik lagi dan memanggil mereka yang pasti tidak akan mungkin menolak jika diberi sedikit uang pelicin.


Memang tidak bisa dipungkiri, sifat orang-orang demikian itu menjamur di mana-mana, bukan hanya di lingkungan masyarakat kelas bawah seperti yang dihadapi Yuda sekarang yang bisa disuap dengan nilai uang ratusan ribu rupiah saja. Namun di kalangan pejabat tinggi yang bahkan membutuhkan beratus-ratus jutapun masih tetap dicari orang untuk memudahkan segala urusannya.


Cafe elit yang terletak di pusat kota itu tidak pernah sepi pengunjung. Padahal harga untuk setiap makanannya di atas rata-rata, belum lagi ditambah pajak yang dibebankan pada pembeli juga. Jika bukan orang yang berkantong tebal, pasti akan berpikir dua kali untuk masuk ke situ. Namun herannya banyak orang yang ingin datang hanya untuk sekedar memanjakan lidah mereka dan rela merogoh kocek besar. Padahal mungkin makanan pinggir jalan tak kalah nikmatnya, namun itulah kenyataannya, harga sebuah prestise itu ternyata mahal.


Yuda kemudian segera bergabung bersama mereka. Babak lobby melobbypun dimulai. Yuda yang memang pandai bersilat lidah mulai menjalankan aksinya. Dia memang sangat pakar untuk membuat lawan bicara percaya dengan segala hal yang ditawarkannya. Itulah mengapa, usahanya sungguh cepat berkembang pesat. Tidak lain salah satunya karena Yuda pandai membuat yakin lawan bicara, sehingga perusahaan lain mau menerima idenya dan bersedia untuk bekerjasama kemudian mengalirkan dana segar demi untuk kesuksesan bisnis mereka.


Ayo silahkan pesan apapun yang bapak-bapak suka. Saya sengaja memilih tempat ini untuk menjamu anda semua. Pasti bapak-bapak tau makanan di tempat ini benar-benar favorit dan sangat recomended." Kata Yuda membuka pembicaraan. Dia berharap para tamunya itu senang dengan cara Yuda melayani mereka.

__ADS_1


" Saya itu membuka usaha di daerah bapak-bapak bukan tidak ada maksud lho, jadi jangan berfikir negatif dulu. Saya memilih kawasan itu, karena saya lihat lahannya masih luas, kemudian juga dengan adanya pabrik itu, saya mengutamakan penduduk sekitar untuk jadi karyawan di sana. Bukankah penduduk di daerah bapak-bapak ini ekonominya masih yahhh bisa dibilang dibawah rata-ratalah. Apa kalian tidak tertarik untuk meningkatkan ekonomi warga di sana??"


" Yaa kami hanya takut jika limbah pabrik yang bapak dirikan nantinya bisa mengganggu lingkungan kami pak. Bukankah itu berbahaya buat kesehatan?" Jawab salah satu perwakilan warga yang hadir di situ.


" Memang siapa yang akan buang limbah di daerah kalian? saya tidak akan mungkin membuat warga sekitar sakit karena limbah pabrik saya. Saya tau yang kalian pikirkan karena saya juga punya keluarga sama seperti kalian."


" Begini saja pak, masalah limbah nanti saya akan membicarakannya lagi bersama team pekerja saya. Bapak-bapak tidak usah khawatir. Berapa kepala keluarga yang tidak setuju dengan proyek saya itu?"


" Kira-kira ada 15 KK yang memang jarak rumahnya dekat dengan lokasi pabrik yang akan bapak dirikan."


" Ok baiklah. Begini saja pak." Sambil memberi kode pada asistennya. Sang asisten paham apa yang dimaksud bosnya itu, kemudian dia segera mengeluarkan amplop coklat yang terlihat tebal dari dalam tasnya kemudian meletakkan di atas meja.


" Maksud bapak ini ingin menyuap kami??" Kata salah satu perwakilan warga."


" Ohhh tidak-tidak pak!! Bukan begitu maksud saya."


" Lalu ini apa?"


" Begini pak, memberi pengertian pada seseorang itu kan macam-macam, dan itu semua bisa bapak gunakan untuk menunjang aktifitas bapak-bapak nantinya. Misalnya nanti akan diadakan musyawarah lagi, pasti butuh biaya kan? Nah gunakan uang itu untuk konsumsi. Masak mau ngadain pertemuan mejanya nggak ada apa-apa? minimal kan harus ada suguhannya, bagaimana pak?"

__ADS_1


Merekapun mengangguk-angguk dengan penjelasan Yuda, walaupun sebenarnya mereka sangat paham dengan yang dimaksud Yuda. Hanya saja namanya manusia, walaupun sudah ketahuan belangnya, tetap saja berupaya membersihkan namanya dengan bersikap seolah tidak berdosa, walaupun toh pada akhirnya mereka akan mengambil uang itu dan membaginya rata.


" Baiklah jika memang itu tujuan bapak memberikan ini dengan maksud untuk biaya kebutuhan kami saat di lapangan nanti, maka kami akan menerimanya, dan secepat mungkin akan kami urus masalah pembebasan lahan, juga tanda tangan warga yang belum setuju akan segera kami selesaikan."


" Tapi ingat pak!! Saya tidak mau ada yang namanya kekerasan, apalagi ribut-ribut. Saya nggak mau melibatkan pihak yang berwajib, bisa tambah panjang urusannya nanti."


" Ohhh kalau itu pasti akan kami perhatikan. Karena selama ini kampung kami aman-aman saja, tidak pernah ada namanya keributan."


" Ya itu yang saya harapkan. Jangan sampai ada masalah buat ke depannya. Apalagi pabrik saya nantinya pasti akan memberi manfaat yang besar buat warga di sana, terutama untuk menaikkan ekonomi masyarakat."


" Betul itu pak. Harusnya mereka setuju Pak Yuda buat pabrik di sana, kan pasti mereka bisa ikutan kerja juga, terus makin banyak peluang usaha yang tercipta, misalnya mereka bisa mendirikan warung makan di sekitar pabrik, karena pasti akan banyak manfaatnya buat para karyawan pabrik." Tambah asisten Yuda.


" Nahhh itu betul sekali pak!! Makanya kalau bisa secepat mungkin bapak-bapak urus pembebasan lahannya, jika sudah selesai kan saya bisa langsung memberi perintah untuk mulai membangunnya."


" Pokoknya bapak nggak usah khawatir, dalam waktu dekat pasti kami kabari." Jawab salah satu perwakilan warga.


" Ingat bapak-bapak jangan ada keributan ok!!"


" Pasti itu pak!!" Jawab mereka hampir berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2