CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
MENGOBROL DENGAN SUAMI SISI


__ADS_3

" Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam."


" Mas Erwin dateng Rin, bentar ya."


" Ok." Jawab Arin.


Sisi segera keluar dan menyambut suaminya itu. Arin memperhatikan dari ruang tengah yang posisi pintunya menembus ruang tamu langsung, sehingga pandangannya bisa leluasa melihat ke depan.


Sisi langsung mencium tangan suaminya, mengambil tas bawaannya, dan menyimpannya ke dalam kamar.


Arin sangat iri melihat pemandangan itu. Dengan penuh kelembutan Mas Erwin menyentuh kepala istrinya, seolah menyampaikan rasa rindu pada istri tercinta, setelah setengah hari ditinggalkan untuk mencari nafkah di luar rumah. Padahal rumah tangga Sisi jauh lebih lama daripada Arin, namun rasa sayang Erwin terhadap Sisi tak pernah berkurang sama sekali, justru semakin bertambah.


Arin menunduk, memainkan gelas minuman yang ada di hadapannya. Dulu dia jauh lebih romantis dari kakaknya. Jika habis bepergian jauh, Yuda selalu memeluk dan mencium keningnya. Jika telah lelah seharian bekerja, mereka akan menghabiskan waktu bersenda gurau di dalam kamar sembari berpelukan. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada protes di sana sini, selalu memaklumi dan menerima kekurangan Arin tanpa mempermasalahkannya apalagi mendiamkannya dalam waktu yang lama.


Dulu Yuda terlihat sangat membutuhkan Arin dan takut kehilangan dia. Namun sekarang, Yuda justru semaunya sendiri dan gampang sekali emosi, seolah tidak pernah khawatir Arin akan berontak dan meninggalkannya. Dulu Arin selalu berusaha untuk terus menjadi istri yang dibanggakan Yuda, selalu berusaha membuat Yuda bahagia saat berada di sampingnya. Sedangkan sekarang, jangankan memaklumi kesalahannya, masalah sepele saja selalu dibesar-besarkan dan dianggap fatal, padahal Arin sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan suaminya itu. Yuda selalu menuntut Arin memahami apapun yang dipikirkan dia, seolah Arin itu seperti paranormal yang selalu tau isi hati Yuda agar dia tidak salah mengambil tindakan. Dan jika Arin salah memahami maksud suaminya, Yuda selalu bilang, " Sudah menikah lama masih saja belum paham!" sehingga sekarang Arin sudah tidak perduli lagi dengan Yuda, dan yang ada di pikiran Arin, yang penting dia tidak melupakan kewajibannya sebagai istri, itu saja.


" Rin tumben kesini? Sudah dari tadi?"


" Lumayan mas, udah habis dua piring."


" Hahaha...kurus-kurus makannya banyak juga kamu."


" Kayak nggak tau aja mas, Arin kan kalau lagi emosi bawaannya pengen makan, kalau dibiarin bisa makan orang dia." Sisi menimpali.


" Kopinya mas."


" Makasih ya ma."


" Gimana kabar Yuda Rin?" Sambil menarik kursi kosong yang ada di dekatnya.


" Alhamdulillah baik mas."


" Maaf ya jarang ke rumah kamu, maklum mas kerja pagi pulang sore kayak gini, jadinya udah capek."


" Nggak papa mas, harusnya adik yang datang ke rumah kakaknya, tapi malah nggak pernah."


" Nggak papalah Rin, yang penting kita sama-sama sehat."


" Tumben sendirian?"

__ADS_1


" Ya iyalah mas, kalau nggak sendirian malah dia nggak kesini." Sahut Sisi sambil meracik kopi untuk suaminya.


" Kok bisa?"


" Ya jelas mas, dia kesini kalau lagi berantem sama Yuda, kalau lagi baikan mana boleh dia keluar sendirian begini hahaha."


" Ishhhh mbak ini, kata siapa nggak boleh?Bolehlah tergantung kepentingannya."


" Ya tapi kesini kan bukan sebuah kepentingan Rin. Ya nggak mas?"


" Mama jangan gitu ahhh."


" Hihihi bercanda mas."


" Raut muka kamu kayak lagi menyimpan sejuta makna Rin?"


" Hahaha...apaan sih mas, sok tau deh!!"


" Bukan sejuta makna mas, tapi sejuta masalah hihihi."


" Ihhh mbak ya, godain terus!!" Sambil melempar kulit kacang.


" Biarin aja...daripada makan ati terus, mending makan nasi!" Sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya.


" Kenapa Rin? berantem lagi? Nggak bosen apa?"


" Aku sih bosen mas, Yuda tuh yang nggak bosen marah-marah terus, kayaknya malah jadi hobi dia deh sekarang."


" Husss kamu tuh ya, nggak boleh menjelekkan suami sendiri. Sama aja kamu itu membuka aib diri kamu, karena suami kamu itu sudah jadi bagian kamu."


" Sebagian aku? tapi sikap dia nggak pernah menunjukkan kalau aku jadi bagiannya. Justru aku ini udah kayak musuh buat dia, setiap hari diintai terus, salah dikit langsung sikat!"


" Rin...Yuda itu pilihan kamu sendiri, nggak ada yang memaksa kamu menikah dengan dia, jadi seburuk apapun, kamu harus menerimanya."


" Iya benar mas. Tapi dulu dia nggak seperti ini. Dia udah berubah mas, bahkan aku kayak nggak ngenalin suami aku sendiri."


" Seiring waktu semua orang pasti berubah Rin. Apalagi kalau sudah mulai menua, biasanya semakin sulit dimengerti jalan pikirannya, banyak hal yang tidak pas dan biasanya akan lebih sensitif."


" Tapi perubahan Yuda itu mencuri star mas. Usia dia belum pantas untuk dikatakan seperti itu."


" Ya mungkin memang watak dia aslinya seperti itu."

__ADS_1


" Nggak mas. Harta dan kesuksesan yang membuat dia seperti itu. Sombong, angkuh, merasa hebat, dan selalu ingin menang sendiri."


" Dia pikir mungkin dia sudah bisa menaklukan dunia, sehingga menganggap orang lain tidak ada artinya buat dia."


" Sabar Rin, jangan kebawa emosi ya. Suami istri itu harus ada yang ngalah, kalau nggak, bisa berantem terus tiap hari."


" Kamu bilang nggak sama Yuda, kalau pergi kesini?"


" Ya nggaklah mas?"


" Kok berani kamu kesini?"


" Dia udah seminggu ini diemin aku mas, dan jarang pulang ke rumah."


" Astagfirullah hal adzim!! Lalu dia pulang kemana?"


" Mungkin di hotel, kalau nggak tidur di rumah temennya."


" Kamu yakin?"


" Ya nggaklah, itu kan cuma tebakanku aja."


" Kamu nggak khawatir dia macam-macam di luar sana?"


" Kenapa cuma aku yang khawatirin dia? Dengan dia meninggalkan rumah, berarti dia juga nggak perduli dong aku berbuat macam-macam? Dia itu kalau marah nggak mikir ke depannya, yang didahuluin cuma egonya aja."


" Kamu nggak coba minta maaf?"


" Percuma mas."


" Nggak ada yang percuma demi sebuah kebaikan Arin."


" Ngalah itu bukan berarti lemah dan nggak bisa berbuat apa-apa, tapi lebih menunjukkan kedewasaan seseorang Arin."


" Iya mas, aku tau itu."


" Lalu kenapa kamu nggak lakuin itu?"


" Udah sering mas, dan sekarang aku cuma mau melihat sejauh mana sih dia itu berusaha untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kami, bukan cuma aku aja yang dia tuntut."


Erwin hanya menarik nafas saja. Dia juga sebenarnya sangat menyayangkan sikap Yuda yang begitu egois sebagai seorang laki-laki, walaupun dalam hal inipun Arin juga salah. Namun dia di sini hanya mampu menasehati dan tak ingin terlalu jauh ikut campur dalam urusan rumah tangga adik iparnya.

__ADS_1


__ADS_2