
Brian terus memandangi wajah Arin yang tertidur pulas, matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Arin sendiri sebenarnya hanya pura-pura tidur, dan dia sangat tau bahwa sedari tadi Brian gelisah.
Dilihatnya jam tangan yang diberikan Arin tadi. Waktu seperti cepat berputar, dan hanya dalam hitungan jam mereka akan berpisah.
Brian kemudian berdiri dan mendekati Arin. Diusapnya kepala Arin, dan mencium kening kekasihnya itu. Arin terkejut, tapi dia tetap pura-pura tertidur pulas. Sebenarnya ingin rasanya dia memeluk Brian, tapi hati kecilnya melarang, maka dia berusaha untuk mengontrol emosinya dan terus memejamkan mata.
Tiba-tiba Brian naik ke atas ranjang, dan tidur di samping Arin. Tanpa ragu dia memeluk tubuh Arin dari belakang. Arin kaget bukan main, dan berusaha melepaskan pelukan Brian.
" Yank!!! kenapa kamu tidur di sini?? lepasin tanganmu!!" Sambil berusaha meronta. Bukannya dilepaskan, Brian justru mengencangkan pelukkannya.
" Tenang sayang!! Percaya sama aku, aku nggak akan melakukan hal di luar batas, aku cuma pengen peluk kamu malam ini, aku janji nggak akan terjadi apa-apa."
" Tapi yank..!!"
" Percaya deh, udah tidur lagi." Ajak Brian.
Arin perlahan berhenti meronta. Dia berusaha setenang mungkin dan menguasai diri agar otak warasnya tidak pergi kemana-mana, apalagi posisi mereka berdua yang begitu dekat malam ini. Sebenarnya jantung Arin berdebar hebat seolah ingin meloncat keluar, namun dia berusaha sekuat mungkin agar tidak terlena. Matanya tidak mungkin bisa terpejam, apalagi di situasi seperti ini. Arin terus diam, tubuhnya terasa panas dingin, sekuat tenaga dia menahan getaran yang ada di dadanya.
Tiba-tiba Arin memutar tubuhnya dan berbalik menghadap Brian. Wajahnya tepat berada di depan wajah kekasihnya itu.
Dalam beberapa menit mereka saling bertatapan, namun tanpa kata.
" Kok malah ngadep ke sini? nggak jadi tidur?"
" Posisi kayak gini gimana bisa tidur."
" Ya udah merem aja, tar juga tidur sendiri."
" Nggak, aku nggak pengen tidur."
" Terus mau ngapain?? ehhh jangan minta macem-macem ya??"
" Idiiihhh apaan..!!"
" Lha itu malah ngadep kesini dan nggak jadi tidur."
" Aku tuh pengen liatin wajah kamu dari deket, buat sangu besok pulang." Jawab Arin asal. Brian tertawa.
" Kamu ya, di situasi kayak gini masih aja bisa bercanda."
" Ini namanya pengalihan isu yank."
" Biar nggak khilaf ya?"
" Hahahaha ya gitu deh."
__ADS_1
" Nggak...tenang aja, aku masih waras kok." Jawab Brian.
" Hemmm...tapi aku kayaknya denger suara detak jantung kenceng banget." Sambung Brian.
" Suara nafas kamu juga bisa nggak ya dipelanin dikit?" Balas Arin. Kemudian keduanya tertawa bersama.
" Kita itu udah berbuat dosa, tapi aku nggak akan berbuat gila yang nantinya bisa menyusahkan kamu."
" Kita yank, bukan cuma aku."
" Ya, kita berdua yang susah." Brian memperbaiki kalimatnya.
" Jadi kamu sadar kalau kita sudah berbuat dosa?"
" Dari awal juga aku sadar yank."
" Kenapa masih dilanjutin?"
" Karena aku sayang banget sama kamu. Seandainya bisa, aku pengen lupain kamu, tapi nggak bisa."
" Hehhhhhhh... nyebeli ya?"
" Iya." Brian menjawabnya singkat.
" Yank nggak usah pulang ya, di sini aja."
" Hahaha...betah berapa bulan bayar hotel ini?"
" Ya nggak usah di hotel."
" Terus di mana?"
" Di lapangan aja, lebar."
" Hahaha... kurang kerjaan."
" Pelukkan yok." Ajak Brian.
" Lahhh emang dari tadi tangan kamu ngapain di pinggang aku?"
" Kalau ini aku yang meluk."
" Terus apa bedanya?"
" Pelukan itu kamu meluk aku, aku meluk kamu."
__ADS_1
" Hahaha..ada-ada aja." Kemudian Arin melingkarkan tangannya ke pinggang Brian, dan Brian semakin mengencangkan pelukkannya, seolah tidak ingin kehilangan Arin.
" Yank kamu percaya kan kalau aku benar-benar mencintai kamu?" Kata Brian sambil mengangkat dagu Arin untuk menatapnya.
" Kalau nggak percaya mana mungkin aku berani dekat-dekat sama kamu kayak gini? Makanya saat ini aku tidak mengkhawatirkan apa-apa."
" Malam ini aku mau tetap peluk kamu, kamu nggak keberatan kan?"
" Nggak sayang." Jawab Arin sembari menenggelamkan wajahnya ke dada Brian.
Arin sudah tidak takut lagi kemungkinan paling buruk yang akan mengancam kehormatannya. Yang dia inginkan malam ini adalah kebersamaan dengan Brian. Bahkan sepanjang malam mereka berdua tidak tidur, dan mengobrol banyak hal.
" Yank?"
" Iya?"
" Seandainya suatu hari nanti aku ninggalin kamu, satu hal yang aku minta sama kamu, pleas jangan benci aku ya?"
Brian melepaskan pelukkan Arin, dan bangun dari tidurnya. Dia sedikit terkejut dengan kalimat yang baru diucapkan Arin.
" Lalu kenapa kamu ninggalin aku? jadi kamu punya rencana buat ninggalin aku?" Raut wajah Brian berubah.
" Ihhh mukanya jangan jutek gitu dong, senyum dong."
" Habis kamu ngomong mau ninggalin aku."
" Nggak yank, aku nggak punya rencana itu." Ikut bangun dan duduk di hadapan Brian.
" Lalu?"
" Karena aku sangat mencintai kamu, dan aku sangat tersiksa nggak bisa memiliki kamu, pasti kamu bisa merasakan itu kan?"
" Iya yank aku tau!!! Tapi aku harap kita berdua bisa bertahan ya!!" Meraih kedua bahu Arin.
" Yahhh...jika aku mampu!" Jawab Arin pelan.
" Kita pasti mampu yank, berjanjilah demi aku!!" Beralih menggenggam kedua tangan Arin.
" Walaupun penuh kesedihan dan perasaan yang tersiksa?"
" Tapi sejauh ini kita mampu yank!! Kita hadapi bersama ya?"
Arin hanya menatap Brian dengan kedua matanya yang sendu. Hatinya terasa remuk, seremuk remuknya. Mungkin ini yang dinamakan siksa cinta, lukanya tak terlihat, tapi begitu sakit. Arin seperti tak mampu menahan sesak dalam dadanya, namun terus berusaha disembunyikannya.
Arin dan Brian tetap berusaha terjaga. Menumpahkan segala isi hati yang mereka sendiri tidak pernah tau seperti apa akhir dari hubungan ini. Brian terus memeluk tubuh Arin dengan erat. Hingga rasa kantukpun menyerang, dan mereka terlelap bersama.
__ADS_1