CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
Menelfon Arin


__ADS_3

" Sayang lagi dimana? Kok kayak di toko gitu?" Pagi ini Brian menelfon Arin, kebetulan dia sedang berada di luar rumah, sehingga moment itu dimanfaatkannya untuk menelfon kekasihnya itu.


" Iya, emang lagi di toko." Sembari masuk ke dalam, menghindari pegawainya agar tidak tau dia sedang menelfon sesorang yang bukan suaminya. Arin sengaja membuat satu ruangan khusus untuk tempat privacynya.


" Lagi ngapain pagi-pagi kok udah nyampe di toko?" Sembari melihat arlojinya.


" Lagi nungguin tokolah, kok ngapain sih?"


" Lho sejak kapan kamu jadi penjaga toko? emang suamimu mendadak bangkrut ya?" Arin memang belum menceritakan tentang bisnis barunya itu pada Brian.


" Waduhhhh amit...amit...." Sambil memukul kepalanya sendiri menggunakan genggaman tangannya.


" Ehhhh jangan dipukulin sendiri gitu, ntar encer lho otaknya, bisa meler lewat telinga bahaya.


" Isshhh...apaan jorok amat ihhhh...!!" Sambil nyengir memperagakan ekspresi jijik.


" Terus ngapain jaga toko segala?"


" Ya cari uang dong sayang...demi sesuap nasi." Sambil memainkan bolpoin yang ada di tangannya.


" Hemmm...kayaknya aku tau deh."


" Tau apa?"


" Ini pasti yang waktu itu kamu rahasiain ke aku kan?"


" Hemmm...kasih tau nggak ya???" Sembari mengetuk-ngetuk pelipisnya menggunakan jari telunjuk.


" Nggak usak sok mikir deh."


" Hehehe...Biar keliatan serius aja."


" Nahhh gitu dong.. jadi kamu ada kegiatan, nggak cuma bengong di rumah terus."


" Yeee...kata siapa aku bengong."


" Terus ngapain kalau nggak bengong?"


" Ya mau ngapain terserah aku dong, kan aku udah gede."


" Hahaha..bukan gede, tapi tua yank."


" Issshhh...kamu yang tua, aku mah dewasa." Jawab Arin tidak terima dengan ejekan Brian.


" Hahaha...terserah kalau gitu, wanita selalu benar."


" Ya iyalah wanita kan selalu di depan."


" Udah lama ya?"


" Apanya?"


" Yaelah...ya buka tokonya."


" Kirain jadi wanitanya hihihi."

__ADS_1


" Hemmmm....." Jawab Brian berdehem


" Buka dari jam 08.00 tadi yank."


" Sayaaaaaangggg...!!! bukan buka tokonya, maksudnya kamu usaha toko ini bukanya sejak kapan??" Sambil melotot kesal.


" Hahaha...jangan terlalu serius gitu kenapa sih?"


Brian hanya memutar bola matanya sebal, karena sedari tadi selalu ditanggapi Arin dengan candaan.


" Aku tuh kangen banget sama kamu, nggak pengen ngobrolin hal-hal yang serius, pengennya bercanda."


" Waktu kamu telfon itu aku masih dalam tahap persiapan yank." lanjutnya.


" Bodo' ah ."


" Ehhhh jutek amat!!"


" Biar."


" Ish..ish..tadi nanya giliran dijawab kok judes amat gitu."


" Nggak jadi nanya."


" Beneran nih nggak jadi nanya?? ntar penasaran loh..." Sambil menatap wajah Brian yang tak pernah bisa membuat bola mata Arin bosan untuk berpaling barang sebentar dari layar hpnya.


" Biarin!" Masih dalam mode ngambek.


" Hihihi...orang ganteng kalau lagi marah kok masih tetep ganteng ya."


" Kalo basi kasih kucing aja yank."


" Ariiinnnn.....!!"


" Iya sayaaaanggg."


" Kamu tuh ya...nyebelin!!"


" Tapi ngangenin juga kan??" Sambil mengerjab-ngerjabkan matanya. Brian ingin tertawa melihat wajah Arin, namun sengaja ditahannya, akhirnya dia hanya tersenyum saja. Brian memang selalu nyaman bersama wanita itu. Arin tidak pernah membuatnya bosan, bahkan setiap waktu ingin selalu bersamanya.


" Kok tiba-tiba kepikiran buka toko gitu?"


Arin tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya pada Brian tentang masalah rumah tangganya, dia tetap menyimpannya rapat, terlebih hubungannya bersama Yuda yang tidak terlalu harmonis.


" Ya pengen aja yank. Mumpung ada kesempatan. Kebetulan temenku itu distributor langsung dari pabrik, aku dapet harga di bawah harga pasar. Jadi harus aku manfaatin dong peluang itu."


" Iyalah yank. Jaman sekarang itu kalau modal gampang dicari, tapi ide usaha itu yang kadang sulit untuk kita dapetin. Apalagi banyak banget persaingan. Kadang bisa buka usaha, tapi konsumennya yang nggak ada, kalah ama pesaing yang lebih dulu star daripada kita."


" Udah berapa hari nih kita nggak vcal? Nggak kangen apa yank?"


" Ya pengennya setiap hari bisa vcall ama kamu, tapi gimana? tau sendiri kan kondisinya. Terus akhir-akhir ini aku sibuk banget ama tokoku, soalnya kan baru aja buka, jadi banyak hal yang harus dikerjain." Jawab Arin.


" Yang penting kan tiap hari kita masih bisa saling berkirim kabar, daripada nggak bisa sama sekali, ya kan?" Kata Arin kemudian.


" Lha emang nggak dibantuin suami? ngapa sibuk sendiri?"

__ADS_1


Arin diam sesaat. Mencari alasan yang tepat.


" Ya pengen mandiri aja, kan bangga bisa punya usaha sendiri dan nantinya bisa berkembang."


" Emang kamu lagi dimana? Kok nyonya menir nggak diajak tadi?"


" Hahaha...kok nyonya menir sih? julukan apa lagi itu?"


" Nggak papa biar keliatan kerenan dikit...hihihi...!!"


" Aku lagi nganter pesanan spanduk, sebenernya tadi Mirna mau ikut, tapi aku larang."


" Kok dilarang?"


" Ya kalau diajak nggak bisa nelfon kamu dong."


" Emang pegawai dimana? kok nganter barang sendiri?"


" Ada sih, cuma aku sengaja nganterin sendiri biar bisa telfon kamu. Udah lama kan kita nggak telfonan?"


" Hemmmm modus aja ya...!!"


" Modus yang penting tulus."


" Pretttt..."


" Hahahaha..." Brian tertawa melihat ekspresi Arin.


" Yank...besok aku mau ke kota A, ada acara di sana." Pamit Brian.


" Hehhhh...alamat!!" Gumam Arin pelan namun masih bisa didengar oleh Brian.


" Alamat apanya yank??"


" Alamat nggak bisa chatan. Pasti di sana kamu bakalan susah buat ngubungin aku kan?" Brian diam.


Memang sudah pasti di sana dia akan sulit sekali untuk bisa menghubungi Arin. Karena istrinya akan lebih sering berada di dekatnya dibanding saat berada di rumah sendiri. Belum lagi saudara-saudaranya yang akan berkumpul menyambut kedatangannya, dan rumah mertuanya itu tidak akan pernah sepi. Mungkin jika ada kesempatan saja Brian akan mengirimkan chat pada Arin, karena tidak mungkin dia akan terus bermain hp disaat keluarga istrinya sedang berkumpul dan mengobrol bersama.


" Kan cuma 3 hari yank. Kalau pas ada waktu pasti aku sempatin buat kirim chat sama kamu."


Sebenarnya Arin merasa cemburu membayangkan Brian yang akan bepergian dengan istrinya, bertemu dengan saudara istrinya dan berakrab ria.


" heeehhhhh....!!" Tiba-tiba Arin membuang nafasnya yang terasa berat, ada rasa sesak di dalam dadanya, jika sudah begitu dia jadi merasa sebal pada Brian, karena merasa dinomorduakan oleh kekasihnya itu, walaupun pada kenyataannya mereka berdua sekarang hanyalah sebagai pasangan kekasih gelap. Mukanya ditekuk sedemikian rupa, Arin paling tidak bisa menyimpan dan menyembunyikan perasaan, dia tidak bisa berpura-pura senang padahal hatinya sedang menderita.


" Ayo dong yank, jangan cemberut gitu, aku jadi kepikiran kamu terus kalau kamu marah kayak gini. Aku juga nggak akan pergi kesana seandainya nggak ada acara." Brian yang tau bahwa Arin sedang cemburu mencoba memberinya pengertian.


" Aku cuma benci aja bayangin kamu di sana nanti."


" Hahaha..kamu ini. Makanya jangan dibayangin. Aku aja kalau bayangin kamu sama suamimu juga benci, benci banget malahan. Rasanya pengen kutonjok muka suamimu dan aku rebut kamu, terus aku bawa pergi yang jauh biar dia nggak ngambil kamu lagi dari aku."


" Kebalik yank, yang ngambil itu kamu apa dia."


" Hehhhh...aku cuma kalah star aja yank."


" Kita sama-sama kalah star yank hehehe." Arin tertawa mendengar kalimat Brian yang seperti sedang menyesali pertemuan yang terlambat itu.

__ADS_1


__ADS_2