CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
TELFON SURYA


__ADS_3

Yuda berjalan mondar mandir di dalam ruangannya. Sudah hampir 3 hari asistennya belum juga mendapatkan info yang dibutuhkannya. Sedangkan dia berkali-kali mendapatkan teror telfon yang mengancam akan menggagalkan proyek pembangunan pabriknya.


" Kriiingg.....!!!" Tiba-tiba hpnya berbunyi nyaring. Yuda terkejut hingga terlonjak karena konsentrasinya benar-benar sedang dipenuhi oleh masalah pembebasan lahannya.


" Sialannn...!! Siapa lagi sih??" Gerutunya.


Dilihatnya sebuah nomor tak dikenal sedang berusaha menghubunginya, nsmun Yuda mengabaikannya.


" Ahhh jangan-jangan peneror itu lagi." Bathinnya.


Namun berkali kali ditolak, penelfon itu tetap terus menghubunginya.


" Hallo!! Jangan macam-macam dengan saya!! Saya tidak takut sama sekali dengan ancaman anda. Kalau memang anda berani, kita selesaikan secara profesional jangan cuma berani mengancam di telfon saja!!" Bentaknya.


Namun bukannya membalas gertakan Yuda, penelfon itu justru diam saja tidak menjawab satu katapun.


" Hallo...!! Hallo...!!"


" Heiii....kalau anda itu memang benar laki-laki, hadapi saya!!" Katanya kembali. Namun tetap tidak ada jawaban sama sekali.


" Hallo...hallo....!!"


" Ehemmm...maaf anda sudah selesai marah-marahnya??" Kata seseorang di seberang sana dengan suara beratnya.


Yuda menjauhkan benda segi empat itu dari telinga dan menatapnya dengan dahi sedikit berkerut. Dia sedikit heran dengan suara asing yang baru didengarnya itu.


" Heiii....sepertinya ini bukan penelfon tadi." Bathinnya.


" Hallo....anda masih di sana kan?? Jangan buru-buru pingsan dulu, saya kan baru menyapa anda dan belum mengatakan apa-apa!!" Terdengar si penelfon menanyakan keberadaan Yuda dengan nada sedikit mengejek.

__ADS_1


" Hemmm...baru sekali ini anda berbicara dengan saya, tapi sudah berani mengintimidasi saya ya!! Saya masih ada di sini dan tidak kemana-mana!!" Jawabnya dengan sedikit sinis.


" Siapa anda?? apakah kita pernah bertemu sebelumnya, sehingga tiba'-tiba anda menelfon saya?"


" Hemmm....tenang Pak Yuda sabar....jangan gampang terpancing emosi, orang yang gampang emosi itu akan sulit untuk berpikir sehat dan gampang mengambil keputusan yang bisa merugikan diri sendiri."


" Apa maksud anda sebenarnya? kenapa tiba-tiba berlagak sok menasehati saya??"


" Ohhh iya...saya tadi belum memperkenalkan diri ya. Mungkin kita memang belum pernah kenal sebelumnya Pak Yuda, dalam dalam waktu dekat ini kita pasti akan sering bertemu."


" Ada urusan apa saya bertemu dengan anda? Memang sepenting apa anda sehingga kita harus sering bertemu?"


" Kita memang tidak terlibat urusan apa-apa, tapi sebentar lagi akan banyak urusan kita yang harus diselesaikan."


" Apa maksud anda??"


" Kenalkan, nama saya Surya. Saya adalah....!" Katanya hendak menjelaskan, namun belum sempat berbicara panjang lebar Yuda sudah langsung memotong kalimatnya.


" Hahaha....saya suka dengan tipe orang seperti anda yang berbicara to the point dan apa adanya. Tapi maaf sebelumnya Pak Yuda, bukannya saya menghalangi, namun lebih tepatnya menghentikan proses pendirian proyek pabrik bapak demi untuk melindungi warga akibat masalah yang akan ditimbulkan oleh usaha bapak di sana nantinya."


" Apa maksud bapak? Kenapa bapak bisa secepat itu menyimpulkan? bangunan pabrik saya saja belum berdiri sama sekali!! Bapak seperti Tuhan saja yang bisa tau segalanya sebelum hal itu terjadi."


" Ahhh...tidak usah bersilat lidah Pak Yuda. Bapak bisa saja membohongi warga di sana, tapi bapak tidak bisa membohongi saya. Saya itu sudah banyak sekali berurusan dengan para pengusaha seperti bapak. Di awal-awal mereka memang menjanjikan banyak hal untuk lingkungan di sekitar usaha mereka, tapi apa buktinya?? justru banyak warga yang dirugikan. Bukan cuma limbah nya saja, tapi juga polusinya berdambak buruk buat masyarakat sekitar."


" Tapi saya itu tidak mengolah bahan mentah yang membutuhkan banyak bahan kimia pak, saya itu mengolah bahan jadi menjadi pakaian siap pakai, jadi limbah yang seperti apa yang bapak takutkan??"


" Pak Yuda..Pak Yuda....!! Pengusaha itu jika sudah memiliki keuntungan besar, pasti dia ingin semakin mengembangkan usahanya. Mereka pasti tidak mau cuma stagnan di situ saja. Dan saya jamin pasti lama kelamaan bapak tergiur untuk membuat bahan sendiri daripada membeli di pengusaha lain, karena pasti untungnya akan lebih berlipat ganda. Dan siapa kemudian yang akan dirugikan? masyarakat sekitar kan??"


" Saya itu sudah tau pak kemana arah usaha bapak ini nantinya, jadi jangan coba-coba beretorika dengan saya, saya bukan orang bodoh!!" Sedikit memberikan penekanan pada kalimatnya.

__ADS_1


" Ohhh ya..ya..ya....singkat cerita saja pak, jadi apa mau bapak sekarang dengan menelfon saya?"


" Mau saya, bapak segera hentikan niat bapak untuk membangun pabrik di wilayah itu, karena bapak pasti sudah tau jika keluarga sayapun berada di sana, saya tidak mau jika mereka juga terkena imbasnya."


" Jika saya tidak mau?"


" Yaaahhh...bapak siap-siap saja karena akan ada surat panggilan untuk menghadap pihak yang berwajib."


" Hahaha...sepertinya kita butuh bicara dari hati ke hati ya pak, karena saya lihat sepertinya ada indikasi bapak mengulur waktu untuk melaporkan saya." Yuda seperti sudah mencium gelagat lain dibalik ancaman yang dilakukan rivalnya itu. Yuda yang memang sudah sangat berpengalaman melakukan loby dengan banyak orang membuatnya sangat paham karakter seseorang dari cara dia berbicara.


" Apa maksud anda??"


" Begini saja pak, bagaimana kalau kita bicarakan hal ini baik-baik? jika bapak berkenan, saya ingin bertemu dengan bapak secara pribadi. Yahh kalau bisa sih jangan sampai ada satupun pihak yang dirugikan, dengan kata lain kita bisa sama-sama diuntungkanlah pak. Bagaimana? Bapak ada waktu kan bertemu dengan saya?"


Nada bicara Yuda memang sengaja memancing Surya agar tergoda oleh tawarannya.


" Hemmmm....sepertinya anda memang sudah sangat berpengalaman sekali dalam urusan kerjasama ya pak."


" Hahaha....saya hanya ingin membuat semua pihak itu senang dengan keberadaan usaha saya di lingkungan mereka. Semua kan bisa dibicarakan baik-baik. Betul begitu Pak Surya??"


" Ya..ya..ya....Oke kapan kita bisa bertemu??"


" Bagaimana kalau malam ini di Restoran M." Menyebut salah satu Restoran Jepang yang terkenal di kotanya.


" Hemmmm....oke. Jam berapa?"


" Jam 8 malam."


" Baik. Nanti malam kita bertemu di Restoran M, saya tunggu kedatangsn anda." Lalu terlihat hening.

__ADS_1


" Hemmm...sialan!! Nutup telfon nggak bilang-bilang!!" Omel Yuda.


Yuda sepertinya memang sudah berniat sekali untuk segera mendirikan usahanya itu. Dia tidak perduli lagi resiko yang mulai mendatanginya satu-persatu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah, kerjasamanya dengan Maya tidak boleh gagal, karena hanya itu jalan satu-satunya untuk tetap bisa berhubungan dengan Maya.


__ADS_2