CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
IJIN


__ADS_3

Malam ini Maya sengaja mendatangi Jenny yang terlihat sedang sibuk di kamarnya. Entah apa yang sedang dikerjakan anak gadisnya itu, sehingga mulai dari pulang sekolah terus mengurung diri di dalam kamarnya, keluar hanya buat makan saja kemudian masuk ke kamar lagi.


" Hai anak mama...serius amat, lagi ngapain sih? Sampai nggak nemenin mamah sama sekali seharian ini." Tanya Maya sengaja mendatangi Jenny yang sedang berada di kamarnya.


" Ini lagi bikin tugas dari sekolah mah, besok harus dikumpul, jadi Jenny kudu segera nyelesai'in."


" Emang dari kapan tugasnya, kok baru dilembur sekarang?? kemarin-kemarin kemana aja?" Paling tidak suka dengan sifat anaknya yang satu itu. Hobby sekali menunda pekerjaan, jika sudah mepet waktunya, baru dia akan pontang-panting kesana kemari untuk merampungkannya.


" Udah satu minggu yang lalu sih mah." Sambil tangannya terus sibuk mencorat coret.


" Lha itu udah dari seminggu, kok nggak dikerjain dari kemarin??"


" Idenya belum muncul mah, jadi nggak tau apa yang harus dibuat."


Maya hanya menarik nafas saja mendengar jawaban Jenny. Maya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada anaknya. Ide itu memang tidak bisa dipaksakan. Karena dia datang tidak bisa ditentukan waktunya. Terkadang saat kita benar-benar sedang berpikir keras untuk bisa mendapatnya inspirasi, justru otak kita serasa buntu. Namun tanpa diduga tanpa dinyata justru sering ide itu muncul secara tiba-tiba seolah terjatuh dari langit tanpa bisa diatur waktu, tempat, dan situasinya.


Maya memperhatikan Jenny yang sedang membuat sebuah gambar pada selembar karton. Maya mengamatinya dengan seksama. Bakat Maya ternyata sangat menurun pada Jenny. Jenny sangat menggemari hal-hal yang berkaitan dengan desain. Dan Mayapun membebaskan Jenny jika anak itu nantinya memilih untuk mengembangkan bakatnya tersebut. Dia tidak ingin seperti ibu-ibu lainnya yang menuntut anaknya pandai di bidang matemematika atau pelajaran eksak lainnya, sehingga akhirnya membuat sang anak tertekan dan setres karena harus memenuhi tuntutan itu. Hal itu terjadi karena banyak yang menganggap bahwa ketika seorang anak ahli di bidang matematika atau pelajaran hitungan, maka dia akan disebut anak pintar.


Sangat tidak etis jika kepintaran itu hanya diukur dari kemampuan dalam logika matematika. Kecerdasan seseorang itu memiliki makna yang lebih luas lagi. Ketika seseorang memiliki kelebihan dalam menghitung, belum tentu dia memiliki kemampuan yang baik di bidang yang lainnya. Misalnya saja di bidang seni. Jika seseorang itu tidak memiliki jiwa seni tinggi, maka dia tidak akan bisa menghasilkan karya-karya yang bisa membuat semua orang membelalakan matanya. Tentunya tidak semua orang memiliki bakat dan skill tersebut.


Orang yang pandai matematika itu sudah pasti disebut pintar, tapi tidak semua orang pintar harus pandai matematika. Karena banyak orang yang sukses di dunia ini bukan karena keberhasilannya di satu bidang menghitung saja, namun lebih kompleks lagi. Dan Maya yakin, dengan mengasah kelebihan Jenny di bidang yang digemarinya itu, maka bisa membuat Jenny unggul di bidang tersebut.


" Selesai...!!"


" Bagus nggak mah?" Sambil menunjukkan hasil karyanya.


" Hebat kamu, bisa bikin desain sebagus itu!!" Puji Maya bangga.

__ADS_1


" Iyalah...Jenny...!!" Sambil menyimpan hasil gambarnya tersebut, lalu memberesi semua alat tulisnya.


" Ihhhh sombong!!"


" Hehehe nggak papa mah, yang penting cuma mama aja yang tau kalau Jenny sombong."


Maya hanya tersenyum saja mendengar jawaban anak semata wayangnya tersebut.


" Ada apa mah??"


" Kok ada apa sih??" Sambil mengernyitkan dahinya.


" Maksud Jenny, ada apa mama masuk ke kamarJenny? apa ada yang penting??"


" Nggak adalah, mama cuma pengen lihat lagi ngapain sih anak gadis mama seharian ngurung diri di kamar terus? tugas apa sebernya yang sedang kamu kerjakan, sampai lupa waktu gitu??"


" Hehehe...!" Maya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Nggak salah juga sih tebakanmu nak."


" Jadi ada apa mama datengin kamar Jenny??"


" Begini Jen...ini tentang Om Yuda." Sambil meminta Jenny duduk di sebelahnya.


" Hemmm....Om Yuda lagi. Ada apa sama dia??" Mimik muka Jenny berubah tidak suka.


" Denger cerita mama dulu dong, jangan langsung jutek begitu."

__ADS_1


Lalu Maya menceritakan perihal tawaran Yuda untuk mengajaknya kerjasama.


" Mama emang berminat?"


" Dari dulu mama emang pengen banget bisa punya brand sendiri Jen, tapi kalau Jenny nggak ngijinin, mama nggak akan terima tawaran itu kok." Jenny diam sembari berpikir.


" Jenny ijinin mah, asalkan itu hanya sebatas urusan kerja nggak lebih." Jawab Jenny pelan.


" Jenny yakin?? Jenny nggak marah Om Yuda akan semakin dekat dengan mama?"


" Jenny percaya mama nggak akan kecewain Jenny, dan Jenny minta mama jaga kepercayaan Jenny."


Mayapun memeluk Jenny, dan berjanji akan menganggap Yuda sebagai rekan bisnis tidak lebih.


" Mama janji sayang."


Hubungan Yuda bersama Maya akhirnya berlanjut dan lebih intens lagi karena adanya sebuah kerjasama. Entah apa maksud Yuda dibalik itu semua, yang jelas dia jadi memiliki banyak kesempatan untuk menghubungi Maya dengan alasan pekerjaan. Yuda tidak pernah meninggalkan hpnya sedetikpun. Jika ada kesempatan, selalu digunakannya waktu untuk mengirim pesan pada Maya. Ada saja alasan agar dia bisa terus berkirim pesan pada mantannya itu.


Maya sebenarnya menganggap itu hal biasa dan sangat mewajarkan jika Yuda sering menghubunginya, karena ada urusan bisnis yang sedang mereka kerjakan bersama.


Sedangkan toko Arin, persiapannya hampir 90% selesai. Arin tinggal menunggu moment untuk memberitahukannya pada Yuda. Untungnya tabungan Arin lebih dari cukup untuk membeli segala keperluan untuk toko tersebut, sehingga dia tidak perlu repot-repot meminta bantuan pada Yuda. Bisa langsung di skak mat dia kalau sampai melibatkan dia dalam usaha yang tidak disetujuinya itu.


Beruntungnya Arin bukan type wanita sosialita yang suka hang out sana hang out sini, yang suka membeli dress code kembaran biar kompak. Arin bukan type wanita yang gemar jalan-jalan dan kemudian upload di medsos biar dianggap eksis. Dia lebih suka menyisihkan uang sisa belanjanya untuk ditabung, dibanding membeli segala sesuatu yang mubadzir dan nggak penting itu.


Semenjak kejadian marah besar dan berujung Yuda meninggalkan rumah, hubungan Arin dan Yuda semakin hambar. Yuda memang sudah kembali ke rumah, namun sikapnya justru semakin tidak perduli pada Arin, terlebih ditambah dia begitu asyik bernostalgia dengan cinta lamanya, walaupun Maya tak sedikitpun memiliki rasa pada Yuda, hanya Yudalah yang terus berfatamorgana dengan masa lalunya.


Arin selalu pergi jika Yuda sudah berangkat ke kantornya, dan pulang lebih awal sebelum Yuda tiba di rumah. Walaupun hubungannya dengan Yuda sudah membaik, namun bukan berarti sifat Yuda membaik juga, sifatnya masih tetap seperti dulu, egois, keras kepala dan selalu suka menyalahkan orang lain.

__ADS_1


Namun semenjak kejadian pertengkaran mereka yang terakhir, Arin memang sedikit berubah. Tidak lagi melo jika dimarah Yuda. Dengan toko yang dimilikinya, dia jadi bisa menyibukkan diri dan untuk sementara waktu bisa mengalihkan perhatiannya pada toko tersebut, sehingga tidak sempat lagi memikirkan hal-hal yang membuatnya menangis di pojokan seperti dulu.


__ADS_2