CINTA DI DUNIA MAYA

CINTA DI DUNIA MAYA
PERTENGKARAN 2


__ADS_3

Di dalam mobil Arin membayangkan tampang angker Yuda yang bakal marah besar padanya. Mungkin bisa dibilang, lebih angker wajah Yuda saat marah, dibanding kuburan Belanda. Namun entah kenapa, kali ini Arin tak merasa gentar sama sekali, bahkan pasrah jika memang Yuda mengambil keputusan terburuk sekalipun. Rasanya Arin sudah muak dengan semua perlakuan suaminya itu. Dia lelah dengan sikap Yuda yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain atas masalah yang sedang mereka hadapi.


" Berhenti depan ya pak!"


" Baik bu!"


Setelah memberikan sejumlah uang, Arin segera masuk ke dalam rumah. Terlihat mobil Yuda terparkir di halaman depan, itu artinya dia ada di rumah. Dengan mantap Arin melangkahkan kakinya. Sebenarnya hati Arin dag dig dug sembari menebak-nebak, seperti apakah kemarahan Yuda saat melihat tampangnya nanti.


Arin berusaha bersikap setenang mungkin. Dengan santainya dia melenggang masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum!" Ucap Arin seperti biasa yang dilakukan, saat dia baru saja masuk rumah. Bukannya jawaban salam yang didapatkan, namun Yuda menyambutnya dengan kata-kata pedas yang membuat emosinya memuncak lagi.


" Ohhhh aku pikir kamu nggak pulang, ternyata masih inget pulang ya??" Yuda menyapa dengan kalimat sinis.


Arin tidak menghiraukannya, hanya melirik sebentar, dan segera menuju kamar. Dia lemparkan tasnya, dan langsung menjatuhkan diri di atas ranjang. Rasa lelah, marah, sedih, campur aduk jadi satu.


" Ariiinnn!!!" Terdengar teriakan Yuda. Arin tetap tidak perduli, dan justru menutup wajahnya dengan bantal.


" Ariinnn!!" Teriak Yuda lagi, kali ini dia sudah ada di depan pintu kamar. Arin tetap diam saja.


Akhirnya Yuda langsung masuk menghampiri Arin. Langkahnya begitu cepat disertai kemarahan yang luar biasa.


" Kamu mulai melawan suamimu sekarang?? Istri durhaka kamu ya!!" Kata Yuda sambil menarik bantal yang menutupi wajah Arin.

__ADS_1


Yuda terlihat mengerikan, dengan kedua matanya yang memerah. Emosi pria itu tampaknya sudah sampai ke ubun-ubun.


" Darimana aja kamu? ditegur suami bukannya menjawab, malah main pergi aja. Kamu anggap apa aku?"


" Ohhh mas minta aku menjawab tadi ya? nanti kalau aku menjawab, mas bilang aku membela diri." Jawab Arin setenang mungkin, sambil bangun dari tidurnya.


" Kamu mulai pintar bicara!! Benar-benar durhaka kamu ya!!"


" Mas, selama ini aku diam. Aku nggak pernah sekalipun kamu kasih kesempatan bicara, apalagi membela diri. Dan sekarang, baru sekali aku membantah, mas bilang aku istri durhaka. Lalu perlakuan mas selama ini ke aku, mas pikir itu bukan perbuatan dzalim?" Tetap dengan nada yang santai.


" Oooooo....kamu sudah pandai mengkritik suamimu ya?"


" Aku bukan mengkritik mas, hanya mengingatkanmu."


" Tapi bukan berarti kamu bisa melawanku Arin!!1"


" Lalu harus dengan cara apa aku mengingatkanmu mas? Aku bicara sepatah kata saja, kamu bilang membantah. Aku bersikap seperti ini, kamu bilang melawan. Lalu apa aku harus diam terus, sedangkan kamu nggak pernah menyadari kesalahan kamu?" Nada bicara Arin mulai sedikit tinggi.


" Mas...aku ini istri kamu. Seandainya kamu tau, kamu itu bukan seperti Yuda yang dulu. Kamu berubah mas."


" Ahhhh kamu itu yang nggak pernah bersyukur, makanya mencari-cari kekuranganku. Apa yang kamu minta semua aku cukupi, apa itu belum cukup buat kamu bahagia?"


" Mas, materi bukan segalanya!"

__ADS_1


" Aahhhh...itu cuma teori!! Omong kosong!!"


" Kalau kamu udah nggak mau aku atur, terserah!!"


" Lho mas, selama ini apa pernah aku membangkang? apa pernah aku tidak menurut sama mas? Semua aturan yang mas buat di rumah ini aku taati. Apa pernah aku protes sekalipun ada yang tidak aku sukai? Tapi aku tetap mematuhinya, karena aku sadar, mas itu imamku, mas itu kepala rumah tanggaku, dan selama itu baik buatku, aku akan terus mematuhinya. Namun mas justru seenaknya sendiri dengan sikap diamku. Seolah mas menganggap aku itu tidak mampu berbuat apa-apa. "


" Ooohhhh..jadi selama ini kamu terpaksa menaati peraturanku? kamu nggsk ikhlas ya? kenapa baru bilang sekarang? Dan sekarang kamu mau menunjukkan, bahwa kamu itu hebat dan sudah bisa melawanku, begitu?"


" Nah ini yang nggak aku sukai dari mas. Selalu melihat sisi negatif dari sebuah masalah, dan bukannya mengambil hikmah juga pelajarannya."


" Apa yang harus aku ambil hikmah dari istri yang melawan seperti kamu Arin??"


" Intropeksi mas, intropeksi!! Kenapa aku jadi melawan seperti ini. Kita itu sudah menjadi satu mas. Jika ada diantara kita yang berbuat salah, kita juga harus bisa mengkoreksi diri sendiri, kenapa pasangan kita berbuat seperti itu, bukan hanya bisa menyalahkan orang lain. Mas mau aku selalu baik, selalu menurut, tapi sikap mas sendiri tidak bisa berubah!"


" Ahhhh...terserah kamu!!"


Kata Yuda sambil keluar kamar meninggalkan Arin, kemudian membanting pintu kamar.


" Astagfirullah hal adzim!!" Arin terkejut bukan main, dan hanya bisa mengelus dada.


Dan sudah dipastikan, kemarahan Yuda akan bertahan lama. Dia akan mendiamkan Arin, tidak mau makan masakannya, tidak mau memberikan perintah seperti biasanya. Seolah Arin tidak dianggap keberadaannya oleh Yuda.


Namun untuk kali ini, Arin tidak perduli. Sebelumnya jika Yuda marah, Arin akan berusaha semampunya untuk merayu agar tidak marah lagi. Tapi sekarang, justru dia memilih cuek dan masa bodo.

__ADS_1


__ADS_2