
" Capek yank?"
" Hemmm...lumayan." Sambil menjatuhkan diri di atas sofa.
" Udah magriban belum?"
" Udah , tadi mampir di masjid."
" Nih minum dulu!" Sambil memberikan teh hangat pada Arin.
" Makasih sayang!"
" Ngapain sih di pantai sampe malem? kan bisa pulang sebelum magrib tadi?"
" Ya kan pengen lihat matahari tenggelam yank. Bagus banget lho!"
" Emang nggak pengen lihat pas terbit juga? kan sama bagusnya lho."
" Ehhh boleh nih? biar aku telfon temen-temen ya, aku ajakin kesana lagi?" Sembari berdiri, Arin pura-pura antusias demi untuk menggoda Brian, padahal dia sangat tau bahwa kekasihnya itu sedang dongkol bukan main.
" Mau kemana?"
" Ngambil hp telfon mereka dong." Lalu meraih hp yang dia simpan di dalam tas tadi.
" Seneng ya?"
" Ihhh seneng banget!! sumpah seru lho...pasti pas terbit besok lebih seru lagi yank!!" Pura-pura memencet hpnya dan duduk di sebelah Brian kembali.
" Ohhhh seru ya? Asyik donk!!" Ada nada cemburu pada kalimat Brian.
" Iya asyik banget!! Padahal ya, setiap aku kemari pasti nyempetin ketemu mereka lho, dan selalu ke pantai itu, tapi kok nggak bosen-bosen ya hahaha. Hemmm coba ada kamu, pasti bakalan lebih asyik. Eh tapi jangan, tar ketahuan mereka lagi, bahaya!!" Arin masih terus menggoda Brian yang wajahnya mulai terlihat bete.
" Ohhh ya? nggak mungkinlah yank, pasti aku cuma ngerusak suasana aja kalau ada di situ."
" Ngerusak suasana sih nggak, tapi takut aja tar ketahuan anak-anak lain." Sembari melirik Brian yang wajahnya semakin masam, dalam hati Arin tertawa sendiri.
Tiba-tiba Brian berdiri, sepertinya batas kecemburuannya sudah mendekati level akhir.
" Ehhh mau kemana yank?"
" Pengen ngopi di luar."
__ADS_1
" Kok nggak ngajak aku sih? main pergi aja!"
" Kamu kan mau ngajak teman-temanmu pergi lagi, ya udah siap-siap sana." Sambil terus berjalan.
" Ehhhh tunggu!!" Arin berdiri dan menarik tangan Brian.
" Ihhh kok mukanya bete? jelek amat sih!! Gimana caranya idung ama mulut bisa ngumpul jadi satu gitu?"
" Ya kalau nggak ngumpul emang mau dipisah-pisah, satu taruh kaki gitu?"
" Ya jangan di kaki dong, taruh bawah kasur aja biar aman." Sambil cengar cengir.
" Hiiiiihhh...nyebelin...!!" Sambit mencubit pipi Arin.
" Awwwww...sakit!!!" Sambil mengusap pipinya.
" Habis nyebelin banget sih kamu."
" Kok nyebelin sih?"
" Ya iya, seharian kamu pergi ama temenmu, barusan dateng langsung cerita nggak berhenti-berhenti, eh habis itu mau pergi lagi!"
" Hihihi..cemburu yaaaa??"
" Alah cemburu!!" Terus menggoda Brian.
" Nggak!!"
" Cemburu aja sih!!"
" Hiiihhhh...ini orang yaaa!!"Sembari menggelitik tubuh Arin.
" Hahahaha...ampun yank!!!! Geli....hahaha...!!" Mereka berdua bergulingan di kasur seperti anak kecil yang sedang berebut mainan, hingga jilbab Arin terlepas dari kepalanya. Brian tiba-tiba diam, dan memperhatikan wajah Arin yang saat itu berada tepat di bawah tubuhnya. Brian terkagum-kagum dengan kecantikan Arin. Baru kali ini Brian melihat Arin tanpa jilbabnya. Brian membelai Rambut Arin. Arinpun saat itu tidak menyadari bahwa setan sudah semakin dalam ikut campur kisah asmara terlarang mereka.
" Yank...kamu cantik banget!!" Kata Brian pelan. Bibir Arin seperti terkunci. Dia saat itu seperti terhipnotis oleh pesona Brian yang benar-benar membuatnya lupa. Tidak butuh waktu lama, dua anak manusia itu terlibat pergolakan gairah yang menggebu. Brian begitu liar mencium Arin hingga Arin tidak mampu membalas permainan kekasihnya itu. Mereka melepaskan rindu yang selama ini terpendam.
" Hufffff ...emfffff...yank....!!" Arin mencoba meronta, diantara nafasnya yang tersengal, kesadarannya mulai pulih, ketika Brian mulai melepas kancing bajunya.
" Yank....lepasin!!!" Arin berusaha mendorong tubuh Brian. Brian tidak mau melewatkan kesempatan itu.
Brian seperti tidak mendengar dan tidak perduli pada kalimat Arin.
__ADS_1
" Yank!! ayo lepasin!!" Arin mendorong tubuh Brian kembali.
" Yank....ini bahaya!! Aku nggak mau kita lepas kontrol, ini bisa fatal!!" Teriak Arin lagi. Brian kemudian berhenti, sembari menatap Arin.
" Yank...sadar!! ini salah..!!" Kata Arin lagi, kali ini lebih pelan, karena sepertinya Brian sudah bisa mengontrol kembali dirinya.
Brian kemudian bangun dan terduduk di pinggir ranjang. Arin segera membenahi pakaiannya yang kancingnya telah terlepas satu.
" Maafin aku ya, aku khilaf." Kata Brian sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
" Kita sama-sama khilaf yank!!" Sambil duduk di sebelah Brian.
" Yank... kita udah janji kan, misalnya kita nanti berjodoh, harus dengan cara baik-baik, dan tidak satupun orang yang tersakiti?"
" Iya, aku masih inget itu."
" Kamu tau nggak apa yang ada di pikiran aku saat ini?"
Arin tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku itu selalu memikirkan bagaimana caranya bisa memiliki kamu dan bisa mendampingiku." Sambil terus menunduk.
" Kita cuma bisa berharap sama Allah, dan mintalah yang terbaik buat hubungan kita. Karena jika kita tidak berjodoh, mungkin Allah telah menyiapkan rencana yang lebih indah buat kita berdua."
" Ya aku tau itu, tapi masih boleh kan aku berharap?"
" Manusia itu harus tetap punya harapan, walaupun peluang harapan itu hanya sebesar debu. Namun kita tetap jangan putus asa, paling tidak kita sudah menitipkan sebuah doa untukNya, dan hasil akhir tetap Dia yang menentukan."
" Ehhhhh...aku belum mandi lho, emang ga bau asem ya?"
" Ihhhhh...iya, kenapa aku baru sadar kalau kamu belum mandi ya? udah..udah sana mandi....jorok ih!!!"
" Alahhhh...tadi aja semangat nyiumin....nih coba ketiak aku, wangi nggak?" Sambil menggoda Brian dengan menyorongkan ketiaknya.
" Ehhhh...berani ya!! Sini...ayo...!!" Sambil berusaha meraih tubuh Arin, dan Arinpun berlari tunggang langgang menuju kamar mandi.
" Hahaha...ampuuunnn...!!"
Brianpun tertawa melihat tingkah Arin. Dia begitu bahagia bersama wanita itu.
" Mandinya jangan lama-lama ya!! aku udah laper!!"
__ADS_1
" Iya sayaanggg....bawel ihhh..!!" Teriak Arin dari dalam kamar mandi, dan Brianpun tersenyum sendiri.